Sukses

Bahas Ketegangan Diplomatik, Delegasi AS Kunjungi Turki

Liputan6.com, Ankara - Delegasi Turki dan Amerika Serikat dijadwalkan bertatap muka di Ankara. Pertemuan ini dikabarkan merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi krisis diplomatik antara kedua negara sekutu NATO.

Seperti dikutip dari Hurriyet Daily News pada Selasa (17/10/2017), sebuah delegasi AS yang dipimpin oleh Jonathan Cohen, Asisten Deputi Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Eropa dan Eurasia, akan bertandang ke Kementerian Luar Negeri Turki pada 17 Oktober 2017 waktu setempat.

Sejatinya diskusi antara pejabat AS dan Turki tersebut telah dijadwalkan sejak lama, tepatnya dalam pertemuan terakhir antara Presiden Donald Trump dan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Tatap muka itu dimaksudkan untuk membahas perkembangan regional dan hubungan bilateral.

"Bukan saya yang memutuskan," demikian komentar singkat Cohen saat dicecar awak media terkait dengan krisis diplomatik tak lama setelah ia mendarat di Bandara Ankara Esenboğa pada 16 Oktober.

Meski dirancang jauh-jauh hari sebelum krisis diplomatik pecah, kedua belah pihak dilaporkan sepakat memasukkan isu yang membuat hubungan bilateral keduanya memanas belakangan.

1 dari 2 halaman

Cekcok Diplomatik

Percekcokan diplomatik Washington-Ankara berkobar setelah Kedutaan Besar AS di Turki mengumumkan bahwa pihaknya menangguhkan penerbitan visa non-imigran menyusul penangkapan seorang pekerja Konsulat AS di Istanbul pada 8 Oktober lalu.

Pekerja di Konsulat AS tersebut merupakan warga Turki bernama Metin Topuz. Ia dituding terkait dengan organisasi milik ulama kharismatik Turki, Fethullah Gulen, yang hidup di pengasingannya di Saylorsburg, Pennsylvania.

Oleh pemerintah Turki, Gulen dianggap mendalangi kudeta gagal tahun 2016.

Turki merespons kebijakan AS tersebut dengan langkah serupa, menangguhkan layanan visa non-imigran.

Persoalan visa hanya lah satu dari isu yang mewarnai pertengkaran bilateral antara kedua negara. Masalah lainnya yang juga memercikkan api dalam relasi Washington-Ankara adalah dukungan AS terhadap Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dan kasus pembebasan Pastor Andrew Brunson.

Brunson ditangkap di Turki tahun lalu pasca-kudeta gagal. Ia dituduh bagian dari jaringan Gulen. Upaya pembebasannya masih menjadi agenda bilateral.

Turki mengindikasikan bersedia membebaskan Brunson jika AS mengekstradisi Gulen.

Artikel Selanjutnya
Cari Solusi untuk Rohingya, Menlu Retno Terbang ke Bangladesh