Sukses

Misteri Hilangnya Jenderal Nuklir Korut, Ada Apa?

Liputan6.com, Pyongyang - Ada dua sosok penting yang diyakini berada di balik ambisi nuklir Korea Utara: Letnan Jenderal Kim Rak-gyom dan ahli rudal Ri Man-gon. Keduanya kerap tertangkap kamera berada di sisi pemimpin Korut, Kim Jong-un.

Namun, baik sang jenderal hingga ahli rudal beberapa minggu belakangan tak muncul di muka publik. Mereka juga absen pada dua perayaan besar pekan lalu.

Apa yang terjadi pada mereka? Nyaris tak mungkin keduanya dipecat atau diasingkan, mengingat Letjen Kim Rak-gyom dan Ri Man-gon mendapat pujian setinggi langit dari Kim Jong-un atas perkembangan program persenjataan Pyongyang yang melejit.

Spekulasi pun berseliweran, terutama di kalangan media Korsel, menghilangnya dua tokoh dikhawatirkan karena mereka sedang mempersiapkan uji coba nuklir.

"Kemungkinan besar mereka absen karena diberi tugas penting," kata seorang sumber media Korea Selatan, seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (13/10/2017),

Korut awalnya diperkirakan sedang mempersiapkan peluncuran misil pada 10 Oktober 2017, bertepatan dengan peringatan hari jadi Partai Pekerja dan Columbus Day atau Hari Columbus yang dirayakan di Amerika Serikat.

Namun, tak ada yang terjadi. Negara paling menutup diri di muka bumi tersebut diyakini sedang mempersiapkan uji coba rudal pada hari penting lainnya, yakni Kongres ke-19 Partai Komunis China pada 18 Oktober 2017.

Peristiwa politik paling penting dalam beberapa tahun diyakini akan terjadi pada tanggal itu. Momentum tersebut diyakini akan digunakan Presiden China Xi Jinping untuk menguak siapa gerangan yang akan menjadi penerusnya.

China sejatinya adalah sekutu Korut. Namun, sejumlah pengamat berpendapat, serangkaian sanksi dan pernyataan pihak Beijing, yang meminta Kim Jong-un mengakhiri peluncuran rudalnya, bisa jadi membuat hubungan dua negara merenggang.

Awal tahun ini, Pyongyang bahkan menuding China telah melupakan sejarah dan berpihak pada "imperialis Amerika".

Sejauh ini Korut telah menguji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) pertamanya yang diklaim bisa menjangkau sejumlah besar wilayah Amerika Serikat.

Rezim Kim juga menguji coba apa bom hidrogen berdaya ledak tinggi. Aktivitas seismik akibat tes tersebut mengonfirmasi kekuatannya yang lebih besar dari uji coba sebelumnya.

Korut mengklaim, bom baru tersebut cukup kecil untuk dipasang di rudal, meski tak ada bukti sahih yang mendukungnya.

Pyongyang juga mengklaim punya teknologi yang mampu membawa hulu ledak lolos dari pembakaran atmosfer dan tetap utuh saat memasuki Bumi -- meski tes ICBM sebelumnya menunjukkan hal berbeda.

Jika Korut dapat mengatasi dua tantangan teknis ini, maka mereka berhasil mengembangkan rudal nuklir yang mampu mencapai Amerika -- sebuah langkah yang membuat Presiden Trump mengucap sumpah, "itu tidak akan pernah terjadi".

 

 

1 dari 2 halaman

Gempa di Lokasi Uji Coba Nuklir Korut

Korea Utara diyakini sedang mempersiapkan peluncuran rudal dalam waktu dekat, bertepatan dengan sejumlah tanggal penting.

Uji coba peluncuran rudal terakhir dilakukan September 2017. Rudal Korut melintasi wilayah Jepang sebelum tercebur di Samudra Pasifik.

Misil itu mencapai ketinggian 480 mil dan terbang sejauh 2.300 mil, membuat Guam, teritori AS di Pasifik berada dalam daya jangkaunya.

Menlu Korut Ri Yong-ho menuding Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyalakan "sumbu perang".

"Kami harus menetapkan skor akhir, hanya dengan hujan api, bukan kata-kata," kata dia kepada media Rusia, TASS.

Sementara, pada Kamis, 12 Oktober 2017, gempa dengan kekuatan 2,9 skala Richter terdeteksi terjadi di dekat lokasi uji coba nuklir Korut.

Badan Survei Geologi AS (USGS) menyebut, gempa berpusat di 23 km timur laut Sungjibaegam.

"Gucangan terjadi di area yang menjadi lokasi uji coba nuklir Korut," demikian pernyataan USGS.

Namun, belum diketahui apakah pemicunya akibat faktor alam maupun ulah manusia.

Artikel Selanjutnya
AS dan Rusia Beda Pendapat Soal Sanksi Kepada Korea Utara
Artikel Selanjutnya
3 Alasan Mengapa AS Sulit Menyerang Korea Utara