Sukses

Gucci Hapus Pemakaian Bulu Binatang dalam Koleksi Terbarunya

Liputan6.com, Milan - Gucci menjadi rumah mode terakhir yang menghapuskan penggunaan bulu binatang dalam koleksi busananya mulai musim semi-musim panas 2018.

Dikutip dari laman VOA Indonesia, Jumat (13/10/2017), The Humane Society, yang mendukung aliansi penghapusan penggunaan bulu binatang di kalangan rumah mode, mengatakan pihak Gucci menyampaikan tindakan yang akan membawa perubahan besar. Pasalnya, rumah mode itu akan menghapus penggunaan bulu binatang bagi produknya.

CEO Gucci Marco Bizzarri mengatakan, Gucci tidak akan menggunakan, mempromosikan atau mempublikasikan bulu binatang.

Tindakan ini akan dimulai dari koleksi busana pria yang akan ditampilkan dalam peragaan pratinjau di Januari 2018 dan untuk koleksi busana perempuan pada Februari 2018.

Gucci juga mengatakan akan melelang sisa barang-barang yang terbuat dari bulu binatang dan hasilnya akan disumbangkan ke badan amal perlindungan hewan LAV dan the Humane Society.

Pada perhelatan London Collage of Fashion, Marco Bizzarri menyebut upaya ini sebagai bagian dari komitmen terhadap kehidupan hewan.

"Bertanggung jawab secara sosial adalah salah satu nilai yang ditekankan oleh Gucci. Kami akan terus berusaha untuk membuat lingkungan dan hewan di muka bumi dapat hidup secara berkelanjutan," ujar Marco Bizzarri. Demikian dilansir dari laman BBC.

Upaya penghapusan penggunaan kulit binatang dalam produk Gucci tak lepas dari peran Alessandro Michele, Sutradara Kreatif yang ditunjuk pada tahun 2015.

"Ada pertimbangan yang saya lakukan untuk memilik seorang direktur kreatif sebuah brand. Saya ingin menemukan seseorang yang memiliki kepercayaan akan pentingnya nilai antar sesama," jelas Marco Bizzarri.

"Dan orang itu adalah Alessandro Michele," pungkasnya.

Melalui kesepakatan ini, Gucci akan menjadi bagian dari Fur Free Alliance -- sebuah kelompok organisasi internasional yang berkampanye untuk kesejahteraan hewan.

Joh Vinding, ketua aliansi tersebut mengatakan, "Gucci telah mengambil keputusan yang berani. Mereka menunjukkan kepada dunia bahwa masa depan mode dapat bebas dari bulu binatang."

 

1 dari 2 halaman

Gucci Tak Rela Produk Mewahnya Dibawa ke 'Alam Baka'

Sebelumnya, ada kisah menarik yang sempat terjadi pada tahun 2016. Merek fashion tersohor asal Italia, Gucci melayangkan peringatan kepada sebuah toko di Hong Kong, yang menjual replika barang-barang dari kertas yang dipersembahkan pada arwah para mendiang.

Replika tersebut, yang menyerupai bentuk mansion atau istana mewah, mobil-mobil mahal, iPad, tas-tas berharga selangit -- biasanya dibakar untuk para mendiang, yang diyakini bisa digunakan di alam baka.

Permintaan produk tersebut melonjak selama Qingming, ritual membersihkan makam.

Meski mengirimkan surat peringatan, belum ada langkah hukum yang akan dilakukan pihak perusahaan yang dibangun Guccio Gucci pada 1921 itu.

"Kami sangat menghargai perihal ritual pemakaman dan meyakini pemilik toko tak punya niat untuk melanggar merek dagang Gucci," kata pihak Gucci Hong Kong dalam pernyataannya, seperti dikutip dari BBC.

"Sehingga, surat ini dikirimkan sebagai pemberi informasi agar pihak toko mengetahui terkait produk yang mereka tiru, dan kami meminta mereka untuk menghentikan penjualannya."

Tradisi memuja nenek moyang, bahkan setelah tiada, berkembang baik di kebudayaan Tiongkok. Hal itu berdasarkan pada gagasan bahwa arwah mendiang akan mempengaruhi kehidupan keturunannya yang masih hidup.

Diyakini, jika seseorang ingin bebas nasib buruk, maka ia harus menyenangkan nenek moyangnya.

Caranya, yakni dengan mengunjungi makam mereka, membawakan oleh-oleh buah segar dan makanan lezat, juga membakar kertas yang juga disebut 'uang arwah' dengan nominal luar biasa besar-- yang diyakini bisa digunakan di alam baka.

Saat ini, para keturunan yang menginginkan nasib baik kerap mempersembahkan hal-hal yang tak bisa dinikmati para mendiang saat mereka hidup. Misalnya, mobil mewah dengan sopir orang Eropa, baju dan tas bermerek. Tak hanya itu, juga tersedia vila dengan kolam renang, garasi yang bisa memuat banyak mobil, dan para pembantu asing. Tentu saja, semua itu tiruan.

Gucci belum mengungkap toko yang mana dan berapa penjual yang diberi peringatan.

Namun, di Hong Kong, sejumlah toko dilaporkan telah menyingkirkan replika Gucci. Namun, untuk merek lain seperti Louis Vuitton, Yves St Laurent, Burberry, dan New Balance masih dijajakan.

Sementara itu, pendapat sejumlah penduduk Hong Kong terbelah di media sosial.

"Mengapa tak sekalian Gucci membuka cabang di alam baka," Vincent Charles bertanya.

Sementara, Sammi Ng mengatakan, Gucci seharusnya membuat dan menawarkan produk replika dari kertas.

Dan, Sai Ken kemudian menyinggung soal harga produk Gucci yang sama sekali tak murah. "Banyak orang yang masih hidup tak mampu membelinya, dan mereka masih melarang Anda memiliki produk Gucci bahkan setelah mati." Belakangan, rumah mode tersebut menarik keputusannya.

Artikel Selanjutnya
UNIQLO Luncurkan Koleksi UT Musim Dingin 2017
Artikel Selanjutnya
PUMA Hadirkan Gerai Kolaborasi Pertama di Asia Tenggara