Sukses

Gara-Gara Berita Nuklir, Donald Trump Ancam Cabut Izin TV NBC

Liputan6.com, Washington, DC - Semenjak masa kampanye pemilihan presiden AS, Donald Trump terang-terangan mengatakan ia tak pernah suka dengan media-media mainstream Amerika Serikat. Sebutlah New York Times, Washington Post, CNN, NBC, dan Buzsfeed news jadi sasaran tudingan sumber berita palsu atau fake news oleh miliarder nyentrik itu.

Trump lebih menyukai media-media sayap kanan macam Breitbart yang memang mendukung suami Melania itu untuk jadi presiden. Bahkan, ia sempat mengangkat pendiri media itu, Steve Bannon jadi penasihatnya. Namun belakangan dipecat juga oleh Trump setelah banyak desakan bahwa bisikannya kebijakan kepada Trump dianggap ngawur

Perseteruan retoris antara Trump dan media terus berlanjut hingga ia duduk di Gedung Putih. Trump lebih menyukai "berbicara langsung" dengan rakyatnya lewat Twitter dengan alasan media-media mainstream penyebar kabar bohong. Tak sedikit ia sebut dalam akunnya itu.

Baru-baru ini, kebencian Donald Trump terhadap media mainstream AS mencapai level terbaru. Yakni, mengancam akan membekukan izin terhadap media itu. Kali ini, sasaran Trump adalah televisi AS, NBC dan jaringannya.

Padahal, NBC-lah jaringan televisi yang membuat Donald Trump jadi superstar dalam acara The Apprentince.

Mengutip BBC pada Kamis (12/10/2017), Trump mengancam akan mencambut lisensi NBC News setelah media itu melaporkan Trump ingin meningkatkan persenjatan nuklir AS hingga sepuluh kali lipat.

Tuan Trump melabeli laporan itu sebagai "berita palsu" dan "murni fiksi.

NBC juga membuat marah Gedung Putih minggu lalu saat melaporkan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson telah memanggil Trump "tolol".

Ancaman mencabut izin itu, Trump lontarkan lewat Twitter.

Pada Rabu 11 Oktober 2017, ia berkicau, "Dengan semua berita palsu yang keluar dari NBC dan The Networks, untuk apa lagi mempertahankan izin mereka? Ini buruk untuk negara!"

Saat menyambut Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau di Washington pada sore hari, presiden AS itu membantah kisah NBC tersebut.

"Terus terang menjijikkan cara pers bisa menulis apa saja yang ingin mereka tulis, dan orang-orang harus sadar itu," kata Trump di Gedung Putih.

Ketika ditanya apakah dia ingin meningkatkan persenjataan nuklir AS, Trump mengaku hanya pernah membahasnya agar tetap mempertahankan persenjataan itu dalam "kondisi sempurna".

"Tidak, saya hanya ingin persenjataan nuklir itu benar-benar dipelihara dengan sempurna - yang sekarang dalam proses pemeliharaan," kata dia.

"Tapi mereka mengatakan bahwa saya menginginkan 10 kali lipat dari apa yang kita miliki saat ini, itu sama sekali tidak perlu, percayalah."

Donald Trump menambahkan, "Saya ingin modernisasi dan saya ingin rehabilitasi total, harus dalam bentuk prima."

Menteri Pertahanan Jim Mattis juga membantah cerita NBC.

"Laporan terbaru bahwa Presiden meminta peningkatan persenjataan nuklir AS benar-benar salah," kata Mattis dalam sebuah pernyataan.

"Itu jelas laporan yang salah ini tidak bertanggung jawab."

Laporan NBC News pada Juli lalu mengutip tiga pejabat senior di Pentagon. Menurut sumber yang dimiliki jaringan TV itu, pada pertemuan tingkat tinggi di Pentagon -- yang dihadiri juga oleh para sumber-- menyebut bahwa Trump ingin meningkatkan persenjataan atom misil AS secara dramatis.

Dia dilaporkan membuat permintaan tersebut setelah melihat kurva miring ke bawah pada slide briefing yang menandai penurunan bertahap senjata nuklir AS sejak tahun 1960an.

Mengaitkan laporannya dengan tiga pejabat di ruangan tersebut, NBC mengatakan bahwa permintaan Trump mengejutkan mereka yang hadir, termasuk Kepala Staf Gabungan dan Menlu Rex Tillerson.

NBC juga melaporkan bahwa Trump pada pertemuan itu juga telah meminta tambahan pasukan AS dan peralatan militer.

AS memiliki 7.100 senjata nuklir dan Rusia memiliki 7.300, menurut Arms Control Association.

Melihat ancaman ini, pengamat media berpendapat bahwa presiden akan berjuang untuk menghapus lisensi penyiaran jika dia ingin melakukannya.

Federal Communications Commission atau Komisi Komunikasi Federal-- yang mengatur stasiun penyiaran AS-- tidak mengeluarkan lisensi ke jaringan NBC secara keseluruhan, namun ke stasiun lokal.

Sementara itu, NBC memiliki hampir 30 stasiun lokal.

Menurut para pakar penyiaran di AS, akan sulit untuk mencabut sebuah lisensi atas dasar bahwa laporan itu diduga tidak berimbang.

 

1 dari 2 halaman

Adu Mulut Sang Presiden dengan Media

Saat pertama kali menjabat jadi presiden, di konferensi pers perdananya, Trump memulai perang dengan media. Di depan awak pers, ia mengonfirmasi soal isu kedekatannya dengan Rusia, termasuk dugaan bahwa pihak Kremlin punya sejumlah material yang bisa digunakan untuk 'menyanderanya' -- termasuk dugaan video cabul yang dilakukannya di sebuah hotel di Moskow, Rusia.

Dalam konferensi pers itu, Trump untuk kali pertamanya menerima dan mengakui bahwa Rusia ada di balik serangan peretasan yang terjadi di tengah kampanye Pilpres 2016.

Ia juga menyampaikan bahwa kendali atas kerajaan bisnisnya diserahkan pada kedua putranya.

Namun, konferensi pers yang dijadwalkan bagi Trump untuk menjelaskan soal nasib bisnisnya, justru didominasi soal tuduhan soal hubungannya dengan Rusia.

Menurut Trump, "Informasi tersebut seharusnya tidak ditulis dan tentu saja tidak dirilis."

"Itu semua berita bohong, palsu, dan tak pernah terjadi," kata dia.

Sebelumnya, dokumen 35 halaman berisi tuduhan yang mengarah pada Trump dipublikasikan secara penuh oleh Buzzfeed.

Presiden terpilih pun menuding Buzzfeed sebagai 'tumpukan sampah'. Trump juga menolak memberikan kesempatan bertanya pada wartawan CNN Jim Acosta.

"Mediamu mengerikan," kata Trump. "Aku tak akan memberimu (kesempatan mengajukan) pertanyaan."

Acosta yang merasa medianya diserang meminta izin mengajukan pertanyaan. Namun, Trump menolak, "Kau berita palsu," kata dia, sebelum memberikan kesempatan bertanya pada jurnalis BreitbartNews -- yang mendukungnya selama kampanye.

Saksikan video Trump adu mulut di sini:

Artikel Selanjutnya
ISIS Rilis Video Bocah 10 Tahun Mengancam Donald Trump
Artikel Selanjutnya
Robert De Niro Sebut Donald Trump Berbahaya