Sukses

12-10-2007: Nobel Perdamaian untuk Mantan Wapres AS Al Gore

Liputan6.com, New York - Tepat hari ini pada 2007, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, dianugerahi Nobel Perdamaian atas usaha dan kinerjanya untuk meningkatkan pengetahuan publik tentang isu lingkungan.

Dikutip dari laman History.com, Kamis (12/10/2017), sebelum memperoleh Nobel Perdamaian, Gore sempat membintangi sebuah film dokumenter berjudul An Inconvenient Truth yang mengisahkan tentang kesadaran masyarakat dunia tentang krisis pemanasan global. Hebatnya, film ini berhasil merebut Piala Oscar pada 2006.

Al Gore adalah mantan senator dari negara bagian Tennessee yang menjabat sebagai wakil presiden pada masa pemerintahan Bill Clinton tahun 1993 hingga 2001.

Ia dianggap sebagai salah satu politikus pertama yang menyadari bahaya emisi karbondioksida -- gas pembuangan yang dapat menyebabkan pemanasan global.

Ketertarikan Gore akan isu lingkungan dan pemanasan global bermula ketika dirinya masih duduk di bangku kuliah. Gore sendiri merupakan lulusan dari Harvard University.

Sebagai salah satu penjalan roda pemerintahan, ia menyadari bahwa sudah ada perubahan iklim yang terjadi pada akhir 1970 -- ditambah dengan kesadaran warga AS yang belum terlalu peduli dengan Bumi.

Untuk itu, Gore memulai kampanye lingkungannya lewat film yang disaksikan oleh seluruh orang di dunia sebagai upaya untuk mendidik masyarakat.

Dalam film An Inconvenient Truth, terlihat upaya Al Gore untuk mendidik penontonnya agar terus menjaga lingkungan.

An Inconvenient Truth sendiri memulai debut pertamanya dalam ajang Sundance Film Festival pada 24 Januari 2006. Film ini disutradarai oleh Davis Guggenheim.

Hingga kini, An Inconvenient Truth masuk dalam daftar film dokumenter terlaris dalam sejarah Amerika Serikat.

Selain keberhasilan Al Gore meraih Nobel Perdamaian, sejumlah peristiwa penting dalam sejarah juga terjadi pada 13 Oktober. Pada 1923, Ankara menggantikan Istanbul sebagai ibu kota Turki.

Sementara pada 1977, empat orang Palestina membajak sebuah penerbangan Lufthansa dan meminta pelepasan anggota Faksi Pasukan Merah.

Dan, pada 13 Oktober 2011, jatuhnya pesawat penumpang di Papua Nugini, menyebabkan 28 orang meninggal dunia.