Sukses

4 Fakta di Balik Militan ARSA yang Terlibat Konflik Rohingya

Liputan6.com, Naypyidaw - Salah satu hal yang dikhawatirkan banyak pihak terkait dampak krisis kemanusiaan Rohingya di Rakhine, Myanmar yang telah berlangsung puluhan tahun adalah munculnya kelompok militan dan gerakan pemberontak terhadap pemerintah -- yang tumbuh cepat atau lambat.

Konflik bersenjata pada 25 Agustus lalu, yang dipicu oleh serangan kelompok militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) ke pos militer dan polisi Myanmar merupakan contoh bahwa gerakan pemberontak bersenjata yang dimaksud telah berakar di Rakhine.

Meski begitu, ARSA yang tercatat telah aktif di Rakhine sejak 2013, merupakan kelompok militan yang minim persenjataan dan strategi tempur. Bahkan diketahui, kelompok itu tak mendapat banyak dukungan. Demikian seperti dikutip dari BBC, Rabu (11/10/2017).

Laporan tersebut tentunya berbeda jauh dari anggapan pemerintah Myanmar yang menduga bahwa kelompok itu memiliki senjata api yang cukup mumpuni dan mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak.

Lantas, bagaimanakah ARSA sebenarnya?

Minim Logistik

Menurut pengakuan sejumlah saksi mata di lapangan, ARSA memiliki perlengkapan tempur minim serta hanya bersenjatakan benda tajam semata.

Letnan Polisi Aung Kyaw Moe, saksi mata penyerangan pos polisi di Alel Than Kyaw, Maungdaw mengatakan, sekitar 500 militan melakukan penyerbuan hanya dengan bersenjatakan parang dan bambu runcing.

Polisi tentunya sangat mudah menangani peristiwa itu, yakni dengan menembakkan senapan otomatis dan memberondong para penyerbu.

Sementara itu, saksi mata lain, yang melakukan eksodus usai 25 Agustus lalu mengaku, ARSA kerap memaksa penduduk desa untuk menyerahkan bahan makanan, hewan ternak, hingga bergabung bersama mereka untuk melakukan militansi.

Mereka memang memiliki banyak perlengkapan tempur. Namun, tak satu pun di antaranya merupakan senjata api. Kelompok itu pun juga tak didukung oleh militan bersenjata api, seperti yang selama ini diduga oleh Naypydaw.

Komposisi Anggota ARSA

Anggota ARSA yang terlibat dalam serangan 25 Agustus mengatakan kepada BBC bahwa kelompoknya terdiri dari sekian ratus orang. Beberapa di antaranya adalah militan purna waktu.

Informan itu melanjutkan, sebagian yang lain hanya paruh waktu menjadi militan. Beberapa orang adalah penduduk asing dari negara lain.

Sementara sejumlah besar yang terlibat dalam serangan 25 Agustus lalu merupakan militan dadakan, yang bergabung di menit-menit terakhir hanya untuk melakukan penyerbuan.

1 dari 2 halaman

Mengapa Mereka Bertempur?

Salah satu saksi mata yang mengaku desanya pernah disambangi oleh ARSA beberapa hari sebelum konflik 25 Agustus mengemukakan, anggota militan sempat menjelaskan tentang salah satu tujuan kelompok tersebut, yakni demi tanah Rohingya yang merdeka.

Sementara itu, salah seorang anggota ARSA yang diwawancarai BBC mengaku pernah bertemu dengan pemimpin kelompok tersebut, Ata Ullah --Rohingya kelahiran Pakistan-- pada 2013.

Saat itu, Ata menjelaskan bahwa ARSA bertempur demi melawan kesewenang-wenangan berbagai pihak terhadap Rohingya. Para militan juga menekankan para warga, mereka yang mati dalam perlawanan itu akan tewas sebagai seorang martir.

Ternyata penjelasan yang disampaikan Ata itu mampu menarik minat sejumlah orang. Ia biasanya meminta 5 - 10 orang sukarelawan dari setiap desa Rohingya di Rakhine yang ia kunjungi, untuk menjadi anggota ARSA.

Mereka yang baru direkrut kemudian diajarkan beberapa materi, seperti membuat bom rakitan dari aki mobil bekas hingga strategi tempur sederhana. Meski begitu, informan BBC mengaku sama sekali tak melihat senjata api dalam setiap aktivitas ARSA.

Selain itu, informan ARSA lain, yang terlibat dalam serangan 25 Agustus mengatakan kepada BBC bahwa penyerbuan itu dilakukan demi, "Mendapatkan perhatian dunia. Kami telah menderita sedemikian rupa, sehingga tak jadi masalah jika kami tewas (dalam serangan itu)."

Informan itu juga membantah bahwa ARSA dibantu oleh kelompok teroris internasional, dan serangan itu semata-mata dilakukan untuk, "Merebut hak kami. Dan tentunya, merebut persenjataan dari militer Myanmar untuk melanjutkan perjuangan. Hanya itu."

Alasan Ata Ullah, Pemimpin ARSA

Pada 25 Agustus lalu, Ata Ullah, merilis sebuah video propaganda yang berisi penjelasan dan alasan ARSA melakukan penyerbuan pada hari itu.

Dalam video itu, pria Rohingya kelahiran Pakistan itu menjelaskan bahwa serangan yang dilakukan ARSA adalah 'aksi membela diri' terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Rohingya.

"Tak ada pilihan selain melakukan serangan terhadap pasukan Burma, yang selama ini telah mengepung dan menindas kami," jelas Ata dalam video propagandanya, seperti yang dikutip dari BBC.

Dia meminta dukungan internasional, dan menyebut Arakan --nama lain untuk Rakhine-- sebagai tanah milik Rohingya. Kemudian pada pernyataan selanjutnya, Ata menegaskan bahwa ARSA tidak berseteru dengan kelompok etnis lain di Rakhine.

Namun, ada satu hal unik dari seruan Ata, yang membuat propaganda itu berbeda dengan video lain yang misalnya dibuat oleh kelompok teroris ISIS. Pria itu tidak menyerukan solidaritas dari umat Islam lain untuk berjuang bersama ARSA.

Ia juga tidak membingkai perjuangannya dalam hal jihad, atau sebagai bagian dari perjuangan Islam global. Hal itu seakan menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh ARSA adalah bentuk perlawanan dan militasi dari etnis yang selama puluhan tahun tertindas.

"Ata dan berbagai petinggi ARSA telah berulangkali menegaskan bahwa mereka adalah gerakan etno-nasionalis. Mereka juga bukan separatis, bukan pula jihadis," jelas Anthony Davis, analis untuk Jane's 360 Defence & Security Intelligence & Analysis yang berbasis di Bangkok.

Hadirnya ARSA juga memicu polarisasi di kalangan Rohingya. Sebagian mengaku takut membahas grup yang dipimpin oleh Ata Ullah, karena sempat muncul laporan bahwa kelompok itu melakukan beberapa pembunuhan terhadap warga sipil Rakhine.

Namun, sebagian yang lain kagum atas ARSA, mengingat mereka sebagai satu-satunya kelompok yang melakukan perlawanan terhadap militer Myanmar sejak 1950-an.

"Mereka tidak memiliki nilai substantif dengan jihadisme internasional, ISIS, atau Al-Qaeda. Mereka melihat perjuangannya sebagai upaya untuk mengklaim hak Rohingya di Rakhine," tambah Davis.

Saksikan video pilihan berikut ini: