Sukses

5 Fakta Menarik Jerman Timur di Masa Komunisme

Liputan6.com, Jakarta - Di akhir Perang Dunia II, Jerman terbagi atas 4 wilayah pendudukan militer di bawah kekuasaan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis di barat, serta satu wilayah di bawah kekuasaan Uni Soviet di timur.

Tujuan awalnya adalah untuk bersama bekerja membantu pembangunan kembali Jerman sekaligus agar negara itu tidak lagi menjadi ancaman bagi perdamaian dunia.

Perang Dingin kemudian mengubahnya. Republik Demokratik Jerman (GDR) didirikan oleh Uni Soviet pada 7 Oktober 1949 di timur setelah beberapa bulan sebelumnya tiga wilayah lain di barat bergabung menjadi Republik Federal Jerman.

Dikutip dari The Local pada Selasa (10/10/2017), sejak 1949 hingga keruntuhan Tembok Berlin pada November 1989, dua negara itu terpisah dan mengembangkan identitas masing-masing.

Penyatuan sudah lebih dari 25 tahun lalu dan GDR sekedar menjadi kenangan walau tetap mempengaruhi Jerman modern. Berikut ini adalah sejumlah fakta menarik tentang GDR:

 

1 dari 7 halaman

1. Polisi Rahasia Bertebaran

Museum Stasi di Berlin. (Sumber Wikimedia Commons)

Warga GDR adalah orang-orang yang paling dimata-matai sedunia. Kebanyakan informasi yang diterima oleh polisi rahasia Staatssicherheit – kerap disebut Stasi – berasal dari warga biasa yang secara tidak resmi berkerja bagi negara.

Tidak ada angka resmi jumlah anggotanya, tapi Komisi Catatan Stasi (BStU) menyebut sekitar 189 ribu orang – setara dengan 1 untuk setiap 90 warga. Angka itu pun belum termasuk yang resmi menjadi anggota Stasi.

Tapi BStU itu sendiri dipertanyakan ketika bocoran WikiLeaks mengungkapkan pada 2007 bahwa organisasi tersebut mempekerjakan setidaknya 79 mantan anggota Stasi.

 

2 dari 7 halaman

2. Tabu Celana Jins Hingga 1970-an

Label celana jins Levi's 506. Levi Strauss adalah seorang migran Amerika Serikat yang berasal dari Jerman. (Sumber Wikimedia Commons)

Di masa awal berdirinya negara, pemerintah Jerman Timur secara ketat mengawasi perkembangan popularitas celana jins. Negara memandangnya sebagai ekspresi kapitalisme Barat dan pemberontakan.

Tempat-tempat dansa melarang penggunaan celana tersebut dan anak-anak yang memakainya ke sekolah akan diminta pulang.

Walau dipandang sebagai pernyataan politik, banyak warga yang penasaran ingin memilikinya, misalnya melalui penyelundupan lewat pos atau membayar mahal di pasar gelap.

Merasa akan kalah, GDR mulai memproduksi jins mereka sendiri sejak 1974, tapi sebagian bahannya bersifat sintetis karena kekurangan katun.

Pada 1978, dalam upaya meraih ketenaran, negara mengimpor sejuta pasang Levi's dari Amerika Serikat (AS). Jins-jins itu dijual di beberapa universitas dan perusahaan terpilih dan bahkan dijual kepada Kementerian Keamanan Dalam Negeri – kepada Stasi.

 

3 dari 7 halaman

3. Menunggu 15 Tahun untuk Membeli Mobil

Ilustrasi 'Trabi', mobil yang sebenarnya bernama Trabant buatan Jerman Timur komunis. (Sumber Wikimedia)

Ada suatu mobil bernama Trabant di GDR. Mobil yang diberi julukan kesayangan "Trabi" tersebut sebenarnya tidak lebih dari mesin pemotong rumput dengan 4 pintu.

Dibangun dengan sangat murah, mobil itu pelan, berisik, dan sangat mencemari. Bagian luar mobil dibuat dari plastik daur ulang dengan akselerasi 0 – 100 kilometer per jam dalam waktu 21 detik.

Walau begitu, warga Jerman Timur ingin memilikinya. Mereka harus menunggu lama karena produksinya selalu terlambat.

Johannes Drexler, seorang pemandu wisata Trabant di Berlin, menjelaskan kepada Deutsche Welle, "Semua orang mencoba memiliki Trabant di masa Jerman Timur. Orang harus menaruh nama dalam daftar dan menunggu mendapatkan mobil itu selama 11 hingga 15 tahun."

Tapi daya tarik Trabi tidak memudar. Orang bisa melakukan "Trabi Safari" seputar Berlin.

 

4 dari 7 halaman

4. Jagoan Daur Ulang

Ilustrasi lokasi pengumpulan benda daur ulang di Hamburg. (Sumber Wikimedia Commons)

Bukan hanya badan mobil yang terbuat dari bahan daur ulang, celana jins pun demikian.

Anak-anak mengumpulkan botol, logam, keras, kaleng, bahkan film kamera, untuk ditukar uang di tempat pengumpulan daur ulang.

Ketika pemerintah menghentikan pendanaan pada 1990, pemasukan pusat-pusat pengumpulan berkurang sebanyak 90 persen. Habislah salah satu bukti "kesuksesan" sistem komunis sebelumnya.

Padahal daur ulang itulah yang menjadi satu-satunya hal yang membuktikan mereka cukup modern.

 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: 

 

5 dari 7 halaman

5. Sumbangan 200 Ribu Liter ASI

Ilustrasi ASI dalam botol. (Sumber The Milk Bank)

Pada 1989, masih ada 60 bank pengumpul air susu ibu (ASI) di Jerman Timur. Bank susu pertama kali diperkenalkan di Jerman setelah Perang Dunia I untuk memasok anak-anak yang kekurangan ASI.

Sejak 1952, berdasarkan peraturan, setiap kota GDR yang berpenduduk di atas 50 ribu jiwa wajib memiliki bank susu. Pada donor mendapatkan kupon makan sebagai bentuk pembayaran.

Pada 1958, ada 63 bank susu di Jerman Timur dan hanya 24 bank susu di Jerman Barat.

Ketika bayi-bayi kelahiran prematur semakin besar kemungkinannya bertahan hidup, permintaan ASI meningkat.

Tapi pasokan ASI dari orang tak dikenal berkurang di Barat karena kekhawatiran akan risiko penyakit. Walau memang ada risikonya, pengurangan permintaan di Barat lebih didorong oleh iklan pabrikan pembuat susu formula.

Menjelang 1989, lebih dari 200 ribu liter disumbangkan setiap tahun di GDR. Jumlah itu mencukupi kebutuhan tanpa perlu tambahan susu formula.

Setelah penyatuan Jerman, bank ASI tidak mendapat dukungan pemerintah dan semuanya ditutup pada 1990. Tapi baru-baru ini ada upaya kebangkitan kembali dan bank ASI mulai bermunculan lagi.

 

6 dari 7 halaman

6. Kuota dan Dukungan Dana untuk Pekerja Wanita

Wanita Jerman Timur berlatih menggunakan perkakas permesinan. (Sumber Deutsche Press Agency)

Konsep "feminisme" yang menjalar di Barat pada 1960-an dan 1970-an terdengar seperti konsep asing bagi kaum wanita Jerman Timur. Padahal di Timur sudah ada pergerakan yang bisa dipandang sebagai feminisme.

Sesuai semangat "feminisme Marxist," pemerintah menciptakan sistem komprehensif yang dirancang untuk membantu kaum wanita masuk ke dunia kerja.

Patriarki dipandang sebagai suatu akibat dari kapitalisme sehingga Jerman Timur memberlakukan kuota bagi kaum wanita untuk bekerja di industri, dibarengi dengan undang-undang komprehensif untuk melindungi ibu yang bekerja dan pengasuhan anak.

Pada 1990, diperkirakan sekitar 90 persen wanita Jerman Timur bekerja, dibandingkan dengan angka 55 persen di Jerman Barat.

Sekarang ini, dinas statistik pemerintah Destatis pun baru saja menghitung bahwa perbedaan gaji berdasarkan gender masih tak berimbang di dua bekas negara berbeda.

Perbedaan gaji pria dan wanita di bekas Jerman Timur hanya 8 persen, sedangkan kepincangan gaji di bekas Jerman Barat hingga 23 persen.

Artikel Selanjutnya
3 Orang Ini Ternyata Sosok yang Telah Mengubah Dunia
Artikel Selanjutnya
Ini 20 Negara Terindah di Dunia, Indonesia Jadi Salah Satunya