Sukses

9-10-1975: Tragedi Serangan Bom IRA di Halte Bus London

Liputan6.com, London - Malam 9 Oktober 1975, tepat 42 silam, Al Guenther sedang asyik menikmati family time bersama keluarganya di Hotel Ritz, London. Ia sedang menyeruput kopi sambil berbincang dengan orang-orang tercinta. Tapi tiba-tiba, duar! Bom meledak.

Ledakan terjadi di halte Jalan Piccadilly di saat sejumlah warga tengah berlalu lalang melintas jalan. Bom ini telah menyebabkan 1 orang tewas dan 20 lainnya terluka.

Seperti dimuat BBC, bom terjadi di halte bus dekat Stasiun Kereta Green Park dan Ritz Hotel sekitar pukul 21.00. Ledakan menghentakkan pejalan kaki di sekitarnya, menghancurkan kaca dan bangunan toko di sekitar, juga membuat mobil hancur.

Laporan lain menyebut, ledakan juga telah membuat gelas, piring dan alat pemotong di sebuah restoran hancur, terpental ke mana-mana. Untung saja, para tamu di restoran sudah pulang terlebih dahulu setelah adanya acara resepsi pernikahan. Jadi tak ada korban jiwa di restoran tersebut.

Awalnya bom ini diduga merupakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu-satunya pria yang tewas. Lelaki yang teridentifikasi dengan nama Graham Ronald Tuck tersebut awalnya masih sadar setelah bom meledak, tapi pada akhirnya meninggal dunia di rumah sakit St George's Hospital, Hyde Park Corner, karena serangan jantung, di samping luka parah di kepala, kaki dan dadanya.

Sementara itu, 20 orang yang terluka parah pada akhirnya berangsur pulih beberapa hari kemudian. Sebagian besar dari mereka terkena luka dari pecahan kaca akibat ledakan bom.

Namun kemudian, berdasarkan hasil penyelidikan, Tuck bukanlah pelaku yang melakukan aksi bom bunuh diri. Pria berusia 23 tahun tersebut hanyalah korban. Aparat menemukan bahwa bom ditaruh oleh salah satu anggota kelompok Irish Republican Army (IRA).

Bom ditaruh oleh salah satu anggota unit teror IRA, bernama Balcombe Street Gang. IRA merupakan kelompok separatis yang menuntut kemerdekaan dari Kerajaan Britania.

Sejarah lain mencatat pada 9 Oktober 1974, Oskar Schidler meninggal dunia. Ia adalah seorang pebisnis Jerman yang berhasil menyelamatkan 1.200 Yahudi dari kematian. Schidler meninggal di usianya yang ke-66.

Selain itu, 9 Oktober 2012, remaja Pakistan bernama Malala Yousafzai tertembak di kepala oleh Taliban di dalam bus sekolah selepas pulang sekolah. Ia kemudian pulih setelah menjalani pengobatan di Inggris dan mendapat Nobel Perdamaian.

Artikel Selanjutnya
Dalam Setahun, 5 Tabrakan Maut Ini Mengguncang Eropa
Artikel Selanjutnya
Ledakan Bom Hantam Iring-Iringan Mobil Polisi di Venezuela