Sukses

Studi: Erupsi Siberia Penyebab Kepunahan Massal Terbesar di Bumi

Liputan6.com, New York - Sebuah penelitian baru mengungkap penyebab kepunahan massal terbesar yang pernah dialami Bumi. Dalam peristiwa 'The Great Dying' itu, sekitar 95 persen kehidupan laut dan 70 persen kehidupan darat musnah.

Erupsi gunung api raksasa di Siberia disebut sebagai penyebab peristiwa yang terjadi pada 252 juta tahun lalu.

Studi yang dipublikasi di jurnal Scientific Reports itu, mengklaim bahwa kepunahan massal itu dipicu oleh pelepasan 200 miliar galon lava cair di sebuah wilayah yang disebut Siberian Traps.

Hal tersebut diungkap ilmuwan setelah mereka menemukan lonjakan jumlah nikel -- unsur yang terbentuk oleh magma vulkanik -- dalam bebatuan yang berasal dari periode yang juga dikenal sebagai Great Permian Extinction. Unsur tersebut ditemukan di negara-negara di seluruh dunia, termasuk China, Israel, dan Hungaria.

Namun, banyaknya sulfur dioksida dan karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer, menjadi penyebab kepunahan massal. Kala itu suhu Bumi turun beberapa derajat, sebelum menghangat minus 10 derajat Celsius dan memicu hujan asam.

"Erupsi gunung api Siberia dan campuran magma kaya nikel ke dalam kerak Bumi tampaknya menyebabkan uap kaya nikel terpancar ke atmosfer Bumi dan didistribusikan secara global," ujar ahli geologi New York University dan penulis senior jurnal tersebut, Michael Rampino, seperti dikutip dari Independent, Kamis (5/10/2017).

"Pada saat bersamaan, interaksi ekplosif magma dengan endapan batu bara yang lebih tua dapat mengeluarkan karbon dioksida dan metana dalam jumlah besar, dua rumah kaca tersebut, menjelaskan soal pemanasan global yang intens terjadi di laut dan darat saat kepunahan massal."

"Lautan yang hangat menyebabkan oksigen terlarut makin habis, yang berkontribusi terhadap kepunahan banyak bentuk kehidupan laut," jelas Rampino.

Rekan penulis dan dosen di departemen Ilmu Lingkungan di Barnard College, Sedelia Rodriguez, menambahkan bahwa temuan baru itu memberikan bukti lebih lanjut bahwa letusan Siberian Trap adalah katalisator peristiwa kepunahan massal terbesar yang pernah dialami Bumi.

1 dari 2 halaman

Studi Matematika: Bumi Akan Alami Kepunahan Massal Tahun 2100

Menurut sebuah studi, Bumi akan kembali mengalami kepunahan massal pada tahun 2100. Prediksi kepunahan massal keenam itu didasarkan pada studi perhitungan matematika dari lima kejadian kepunahan massal dalam waktu 540 juta tahun.

Co-director Lorenz Centre Massachusetts Institute of Technology (MIT), Profesor Daniel Rothman, berteori bahwa adanya gangguan siklus alami karbon melalui atmosfer, lautan, tumbuhan, dan hewan, berperan besar dalam kepunahan massal.

Lalu ia mempelajari bahwa empat dari lima kepunahan massal sebelumnya, terjadi saat gangguan karbon itu melewati ambang perubahan bencana.

Great Dying yang menjadi kepunahan massal terburuk dari semua, melanggar salah satu ambang batas tersebut dengan selisih terbesar. Peristiwa yang memusnahkan 96 persen spesies di Bumi itu terjadi sekitar 248 juta tahun lalu.

Dilansir Independent, berdasarkan analisisnya terhadap kepunahan massal tersebut, Rothman mengembangkan formula matematika untuk memprediksi berapa banyak karbon yang harus diserap lautan sebelum memicu kepunahan massal keenam.

Jawabannya sangat mencengangkan.

Berdasarkan prediksi terbaik Intergovernmental Panel on Climate Change, dari 310 gigaton karbon, hanya 10 gigaton yang dipancarkan pada tahun 2100. Bahkan skenario terburuk akan menghasilkan lebih dari 500 gigaton.

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa kepunahan massal keenam sebenarnya telah dimulai. Jumlah spesies yang saat ini hilang dari Bumi, tak jauh berbeda dengan jumlah kepunahan terjadi pada lima peristiwa sebelumnya.

Namun, Rotham menekankan bahwa kepunahan massal tidak selalu melibatkan perubahan dramatis pada siklus karbon -- seperti yang ditunjukkan dengan tidak adanya perubahan drastis siklus karbon selama kepunahan Devon Akhir pada 360 juta tahun lalu.

Artikel Selanjutnya
Kebakaran Dahsyat Semak Belukar Menghantui Australia
Artikel Selanjutnya
27-8-1883: Dunia Terpana saat Krakatau Sekarat Lalu Meledak