Sukses

Dunia Bersatu demi Bangun Gerbang Menuju Mars, seperti Apa?

Liputan6.com, Adelaide - Sejumlah badan antariksa dari beberapa negara telah merinci peta ekspedisi ke Mars dalam Adelaide International Astronautical Congress di Australia. Rencana perjalanan itu termasuk membangun tempat pemberhentian di Bulan.

Perwakilan badan antariksa dari Amerika Serikat, China, Eropa, Rusia, dan Kanada menyepakati satu hal. Untuk melakukan ekspedisi ke Mars, mereka tak dapat melakukan hal itu sendirian.

Meski beragam hambatan harus dihadapi dalam mencapai tujuan ekspedisi, yakni menjejakkan kaki di Mars, mereka tak berhenti bermimpi dan berencana.

Untuk mewujudkannya, mereka sepakat untuk melakukan sejumlah uji coba hal-hal penting di Bulan.

Dalam kongres tersebut, Associate Administrator Human Exploration and Operations NASA, William Gerstenmaier, merinci ambisi organisasinya untuk lebih jauh mengeksplorasi angkasa luar.

"Ini bukan visi NASA," kata Gerstenmaier seperti dikutip dari News.com.au, Kamis (28/9/2017). "Ini adalah visi yang ingin kami susun untuk semua."

"Kita tak pernah mendeskripsikan bahwa akan melakukan perjalanan ini seorang diri. Kami akan melakukan ini secara internasional. Kami akan melakukan ini dengan sektor komersial. Kami akan melakukan ini dengan negara-negara besar dan kecil."

"Tantangan dan kebutuhan agar manusia dapat berpindah di dalam tata surya mengharuskan kita melakukan hal ini," ujar dia.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal China National Space Administration (CNSA), Tian Yulong. Sambil merinci rencana negaranya sendiri, ia sepakat untuk memenuhi kebutuhan akan kerja sama internasional.

Menurutnya, China bersedia merumuskan misi bersama, menjelajah lokasi pendaratan yang disepakati secara umum, membawa barang bawaan internasional ke angkasa luar, dan membentuk tim ilmiah bersama.

Sambil menjalankan hal tersebut, Beijing terus mendorong untuk melakukan pendaratan di Bulan, mengumpulkan sampel, dan membawa kembali ke Bumi sebelum 2020. Menurutnya, hal itu akan memberikan dasar teknis untuk misi pengembalian sampel ke Mars pada akhir 2020-an.

Sementara itu, direktur jenderal program angkasa luar Rusia, Igor Komarov, mengatakan bahwa badannya akan memanfaatkan kapabilitasnya untuk membangun 'Lunar spaceport', yakni sebuah stasiun antariksa baru di sekitar Bulan.

 

1 dari 2 halaman

Peta Menuju Mars

Gerstenmaier mengatakan bahwa 'Phase 0' yang saat ini sedang dijalankan berjalan telah berjalan sangat progresif. Menurutnya, Stasiun Angkasa Luar Internasional (ISS) membuktikan, baik kerja sama teknologi dan internasional, dibutuhkan untuk menjalankan tahap selanjutnya.

"Hal lain yang ingin kami lakukan di fase awal ini adalah memahami apakah ada sumber daya di Bulan yang bisa digunakan...kami ingin segera melakukan beberapa uji coba di wilayah kutub," ujar Gerstenmaier.

Kombinasi pendaratan robot internasional dan manusia di Bulan sedang disiapkan untuk mengeksplorasi potensi pembuatan bahan bakar dari air es yang diyakini berada di sisi gelap permanen Bulan.

Sambil menyempurnakan Phase 0, mereka juga telah memulai tahap selanjutnya, yakni Phase 1. Saat ini sedang dijalankan perancangan desain modul hunian dan pembelian unit pembangkit tenaga.

Gerstenmaier berharap bahwa Phase 1 akan dimulai pada pertengahan 2020, yakni saat stasiun Deep Space Gateway mengorbit Bulan.

Deep Space Gateway akan beroperasi dengan cara yang sama dengan ISS saat ini. Hal tersebut memungkinkan badan-badan dan bisnis internasional mengakses fasilitas serbaguna itu dan juga Bulan.

"Pada akhir 2020-an, kami ingin menempatkan Deep Space Transport, melakukan penerbangan verifikasi satu tahun dengan kendaraan itu, kemudian setelah itu, kira-kira pada 2030, 2033, atau lebih, kami siap mengorbit Mars.

Meski rencana tersebut harus dilakukan konsisten dan membutuhkan waktu yang panjang, Gerstenmaier bersikeras untuk mewujudkannya.

"Ini akan membuat manusia bisa berpergian di Tata Surya," ujar Gerstenmaier.

"Ini mengharuskan kita semua untuk bekerja sama. Kami mencoba membuat kerangka kerja yang terbuka. Itu (Deep Space Transport) dibangun dari perangkat keras yang telah kita bangun sebelumnya. Itu tak memerlukan anggaran baru yang besar untuk melakukan ini," imbuh dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Penuh Perjuangan dan Berkesan, Pemuda Ini Ikuti CJA Semarang
Artikel Selanjutnya
Berbentuk Kuis, Penanda Jalan Terpanjang di Dunia Bikin Penasaran