Sukses

28-9-1994: Cuaca Buruk Hempaskan Kapal Estline, 852 Orang Tewas

Liputan6.com, Tallinn - Tepat hari ini, 23 tahun silam, sebuah kecelakaan dahsyat melanda dunia transportasi Estonia. Sedikitnya 852 penumpang tewas dalam kecelakaan kapal feri yang terjadi di kawasan Laut Baltik.

Dikutip dari laman BBC.com, Kamis (28/9/2017), kapal Feri Estline, yang berlayar dari Estonia menuju Swedia tersebut, memang berangkat dalam kondisi cuaca yang buruk.

Tak lama setelah berlayar, kapal mengeluarkan sinyal bahaya setelah terombang-ambing di Laut Baltik. Selain tinggi ombak yang luar biasa, hujan deras juga melanda wilayah tersebut.

Akhirnya, kapal Feri Estline tersebut tenggelam bersama ratusan penumpang dan awak kapal. Dari total 950 penumpang, 852 orang tewas dan sisanya dapat selamat setelah berhasil dievakuasi.

Dari total penumpang yang tewas, lebih dari setengahnya adalah warga negara Swedia.

Seorang awak kapal yang berhasil selamat dalam kecelakaan tersebut mengatakan, ia telah melihat pintu darurat yang terbuka -- tak lama sebelum kapal karam.

Ia memberanikan diri untuk terjun ke air dengan bantuan pelampung, meski suhu air sangat dingin.

"Sungguh mengerikan, namun saya dan rekan-rekan yang lain sudah berusaha untuk mengendalikan kapal," ujar awak kapal tersebut.

Anders Lindstrom, seorang awak kapal lain yang selamat kecelakaan tersebut juga memberi kesaksian seputar kondisi Feri Estline.

Beberapa jam setelah kapal berlayar, ia mendapati kondisi segel kedap air pada kapal yang tak terkunci rapat.

Namun, pernyataan itu dibantah oleh perwakilan Estline yang mengatakan, kondisi armadanya baik dan tak mengalami kerusakan. Mereka menyebut, kecelakaan ini mutlak disebabkan oleh kondisi alam.

Selain insiden kecelakaan kapal Feri Estline, pada hari yang sama tahun 1959, sejarah mencatat bahwa satelit milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk pertama kalinya mengambil rekaman video penampakan Bumi dari angkasa luar.

Sementara itu pada tahun 1950, Indonesia diterima sebagai negara anggota PBB. Namun saat konfrontasi Malaysia, RI sempat keluar keanggotaan PBB dan kembali lagi pada 28 September 1966.