Sukses

Donald Trump: Opsi Militer Akan Sangat Menghancurkan Korea Utara

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pernyataan terbarunya kembali menegaskan bahwa pihaknya siap menggunakan opsi militer terhadap Korea Utara jika langkah tersebut diperlukan.

"Jika kita memilih opsi tersebut, maka akan sangat menghancurkan bagi Korut. Yang dimaksud itu adalah opsi militer," ujar Trump seperti dilansir CNN pada Rabu (27/9/2017).

"Tingkahnya (Kim Jong-un) buruk sekali. Ia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan," imbuh Presiden AS itu dalam sebuah konferensi pers yang dilakukannya bersama dengan Perdan Menteri Spanyol Mariano Rajoy.

Trump mengeluarkan peringatan tersebut setelah dua pejabat pertahanan AS mengungkapkan bahwa Korut telah memindahkan sejumlah kecil jet tempur dan rudal udara ke pangkalan militer mereka di pantai timur. Diduga, pergerakan yang tertangkap citra satelit AS ini menandai kesiapan tempur Pyongyang di sektor timur.

Citra satelit sejauh ini mengamati jet tempur yang dimaksud adalah jenis Mig-29. Sejumlah dan tangki bahan bakar terpasang di pesawat, namun sejauh ini tidak satu pun jet membawa tangki bahan bakar dan rudal eksternal.

Pada Senin lalu, rezim Korut melayangkan ancaman akan menembak jatuh pesawat AS, sekalipun mereka terbang di wilayah udara internasional.

Kedua pejabat pertahanan AS itu lebih lanjut menerangkan bahwa Washington akan memperketat pengawasan udara dan kemampuan radar yang memadai di wilayah tersebut demi mengetahui apakah ada pesawat militer yang lepas landas dari Korut.

1 dari 2 halaman

Korut Pernah Tembak Jatuh Pesawat AS

Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho menyampaikan ancaman bahwa pihaknya memiliki hak untuk menembak jatuh pesawat AS, meski tidak terbang di wilayah udara mereka.

Menilik ke masa lampau, Korut sesungguhnya pernah benar-benar menembak jatuh pesawat AS yang terbang di langit internasional dekat dengan wilayah kedaulatan udara Korut.

Pada 1969, dua jet tempur Korut pernah menembak jatuh pesawat pengintai milik AS di langit internasional. Akibatnya 31 kru pesawat AS tewas pada kala itu.

Dua jet tempur Korut jenis Mig-21 menyerang satu pesawat pengintai AS jenis Lockheed EC-121M (yang terbang tunggal tanpa pengawalan) hingga jatuh di 166 km lepas pantai Korut pada 1969.

Pesawat pengintai itu tengah melaksanakan misi terbang unjuk kekuatan kepada Pyongyang di Laut Jepang, atas perintah Presiden AS Richard Nixon, yang kala itu memang mengambil sikap pasif-agresif kepada Korut.

Lima belas bulan usai peristiwa itu, kapal patroli Korut menyerang kapal AS USS Pueblo saat berlayar 1,6 km dari teritorial laut Korut. Tak hanya itu, kru kapal Korut bahkan menginvasi USS Pueblo.

Akibatnya satu kru USS Pueblo tewas. Dan satu lagi menjadi tawanan Korut selama satu tahun.

Kini, jika Kim Jong-un memerintahkan militernya untuk melakukan tindakan agresif seperti pada akhir 1960-an. Analis yakin, Korut akan kembali melancarkan aksi serupa.

"Korea Utara memiliki salah satu sistem pertahanan udara terpadat di dunia, mulai dari rudal jarak pendek dan senjata anti-pesawat terbang hingga rudal jarak jauh," kata Lance Gatling, seorang analis pertahanan dan presiden Nexial Research Inc.

Rudal anti-pesawat paling canggih yang dimiliki Korut adalah KN-06, varian S-300 SAM Rusia yang "sangat mampu" menghancurkan alutsista Negeri Paman Sam, jelas Gatling.

Akan tetapi, rincian kemampuan sistem artileri pertahanan udara itu tak jelas adanya. Karena hanya dua peluncuran uji yang terdeteksi, meski begitu, media pemerintah Korut mengklaim bahwa sistem persenjataan itu telah mampu dioperasikan secara mumpuni.

"Jelas rudal ini bisa terbang ke wilayah udara internasional di lepas pantai timur semenanjung," tambah Gatling.

Meski begitu, jika aksi sembrono tersebut benar-benar dilakukan Korut kepada alutsista AS yang melintas di kawasan internasional, tindakan itu sama saja dengan menabuh genderang perang.

Artikel Selanjutnya
Pasca-Uji Coba Nuklir Korut, Trump Setuju Jual Senjata ke Korsel
Artikel Selanjutnya
3 Alasan Mengapa AS Sulit Menyerang Korea Utara