Sukses

Tak Jadi ke Mars, NASA Fokuskan Misi ke Bulan?

Liputan6.com, Houston - Dalam beberapa tahun terakhir, NASA memprioritaskan untuk dapat mengirim orang ke Mars. Meski beberapa pihak meragukan hal itu, namun orang-orang dari SpaceX membuat mimpi itu tetap hidup.

Namun jika Pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk mengalihkan fokus dari Mars ke Bulan, NASA mengaku telah siap.

Direkrut Johnson Space Center NASA, Ellen Ochoa, membahas soal kemampuan NASA untuk pergi ke Bulan jika ada perintah untuk melakukannya.

"Saya pikir kita sudah siap untuk melakukannya. Ini bukan sama sekali berseberangan dengan apa yang sedang kita lakukan," ujar Ochoa kepada direktur Rice Space Institute, David Alexander.

Dikutip dari Futurism, Selasa (26/9/2017), pesawat antariksa Orion milik NASA adalah kunci dalam melakukan misi ke Mars. Pesawat tersebut dijadwalkan akan melakukan uji coba terbang antara 2019 hingga 2023.

Setelah itu, akan dilakukan pembangunan 'Deep Space Gateway' di dekat Bulan. Tempat tersebut akan digunakan sebagai area untuk meluncurkan misi masa depan ke Mars dan melakukan sejumlah aktivitas di Bulan.

Menurut Ars Technica, tak jelas aspek mana dari rencana NASA yang akan diubah jika ada pergeseran misi dari Mars ke Bulan. Namun bisa saja konstruksi Deep Space Gateway diganti dan para awak pesawat langsung menuju tempat pendaratan.

"Apa yang sebenarnya kami coba lakukan di NASA adalah membiarkan banyak pilihan untuk terbuka, untuk mengembangkan kemampuan dasar dan kemudian berbicara dengan mitra lain tentang apa yang mereka minati," ujar Ochoa.

Rencana untuk memfokuskan misi ke Bulan, bukan ke Mars, pernah disebut oleh beberapa pihak. Pada Juli 2017, CEO Amazon Jeff Bezos mengatakan bahwa pemukiman permanen harus dibangun di salah satu kutub Bulan.

Sementara pada Agustus 2017, pensiunan astronot Chris Hadfield mengatakan bahwa menetap di Bulan merupakan langkah yang baik.

"Hal itu dilakukan tidak hanya untuk menegaskan kembali bahwa kita dapat mencapainya, tapi juga menunjukkan bahwa kita dapat tinggal di sana," ujar Hadfield.

1 dari 2 halaman

Eropa Ingin Bangun Permukiman di Bulan

Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA) mengungkapkan rencananya membangun sebuah pangkalan manusia di Bulan. Ke depannya, pangkalan tersebut akan membantu manusia mengeksplorasi galaksi dan alam semesta.

Tak serta merta manusia dikirimkan ke sana. Rencananya, para robot akan didaratkan ke Bulan, untuk mempersiapkan permukaan Bulan agar bisa ditinggali manusia. Sejumlah konsep desain pangkalan tersebut pun telah dikeluarkan.

Di masa depan, para astronot bisa menggunakan Bulan untuk mengeksplorasi benda-benda angkasa lain seperti Mars -- yang menjadi target utama NASA. Sebelumnya, ditemukan air di Permukaan Planet Merah, yang makin memicu spekulasi keberadaan alien di sana.

Pangkalan tersebut ke depan akan membantu manusia mengeksplorasi galaksi dan alam semesta.

Tak serta merta manusia dikirimkan ke sana. Rencananya, para robot akan didaratkan ke Bulan, untuk mempersiapkan permukaan Bulan agar bisa ditinggali manusia. Sejumlah konsep desain pangkalan tersebut pun telah dikeluarkan.

Sebelumnya, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkap, satelit bumi dipenuhi tabung lava (lava tubes) besar yang terbentuk dari aliran lava gunung berapi.

Teori terbaru menyebut, kolom bawah tanah tersebut cukup besar dan stabil untuk menopang struktur kota yang didirikan para koloni di masa depan. Dengan kata lain, manusia bisa membangun permukiman bahkan kota di bawah tanah Bulan.

 

Sakiskan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
665 Hari di Luar Angkasa, Astronot 57 Tahun Ini Kembali ke Bumi
Artikel Selanjutnya
Astronot AS Ini Pulang Setelah Habiskan 665 Hari di Angkasa Luar