Sukses

6.000 Warga Vanuatu Dievakuasi Jelang Erupsi Gunung Manaro

Liputan6.com, Sydney - Lebih dari 6.000 orang dievakuasi ke tempat penampungan darurat di utara Pulau Ambae, Vanuatu, sebuah negara di Pasifik Selatan. Sebab, sebuah gunung berapi di sana diperkirakan segera meletus, demikian disampaikan oleh beberapa pejabat pada hari Selasa waktu setempat.

"Gunung berapi Monaro dilaporkan berkecamuk pada awal bulan ini, tapi aktivitasnya semakin intensif akhir pekan lalu, dan mulai memancarkan abu dan gas vulkanik yang memicu kekhawatiran akan segera terjadi erupsi," demikian disampaikan Kantor Manajemen Bencana Nasional Vanuatu, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa (26/9/2017).

"Sejauh ini pihak berwenang telah mendirikan 15 lokasi pengungsian darurat, tapi evakuasi berskala besar itu membuat persediaan bahan-bahan bantuan menjadi terbatas," kata Direktur Kantor Manajemen Bencana Nasional, Shadrack Welegtabit.

"Kami berada di musim kemarau dan dengan abu yang mengontaminasi beberapa pasokan bantuan, fokus terbesar kami saat ini adalah memenuhi kebutuhan air bersih untuk orang-orang yang telah dievakuasi," jelas Welegtabit.

Terakhir kali erupsi Ambae terjadi pada 2005. Pada 12 tahun kemudian, pada 2017, ia terdeteksi kembali aktif.

"Vanuatu adalah salah satu negara termiskin di dunia, di mana penduduk setempat hampir sepenuhnya bergantung pada makanan yang ditanam di kebun untuk bertahan hidup," kata salah satu pekerja bantuan.

"Orang-orang di Ambae mengandalkan penghidupan pada sektor pertanian. Kekhawatiran terbesar bukan hanya masalah evakuasi massal, melainkan juga nasib tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang mereka tinggalkan," kata Direktur Save the Children Australia di Vanuatu, Georgia Tacey.

Vanuatu, sebuah wilayah luas dengan lebih dari 80 pulau dan dihuni 260.000 orang, berada di jalur Cincin Api Pasifik yang aktif secara geologis. Kondisi tersebut yang membuat negara itu rawan gempa dan erupsi gunung berapi.

1 dari 2 halaman

Gunung Agung

Sementara itu, di Indonesia, Gunung Agung tengah menjadi sorotan.

Status Gunung Agung meningkat ke Level IV atau tertinggi, menandakan erupsi kemungkinan besar akan terjadi. Akibatnya, pemerintah daerah setempat memerintahkan agar seluruh orang yang berada dalam radius 12 km untuk mengungsi, menjauh dari lokasi gunung vulkanik itu.

Aktivitas gunung yang pernah meletus dan menewaskan lebih dari 1.000 orang pada 1963 itu kini juga menjadi perhatian sejumlah media internasional. Perhatian itu turut dipicu karena Letak Gunung Agung yang berada di salah satu destinasi wisata paling populer di dunia.

Sejumlah persiapan mitigasi bencana juga telah dilakukan, antara lain dengan mengungsikan penduduk sekitar, membuat radius aman 12 km, hingga antisipasi darurat bencana selama dua minggu sampai satu bulan.

Dengan kondisi Gunung Agung yang berpotensi meletus, sejumlah negara pun telah mengeluarkan travel advice hingga warning kepada warganya yang berminat ke Indonesia atau tengah berada di daerah yang terdampak jika gunung itu meletus.

Australia, Singapura, dan Inggris telah mengeluarkan larangan itu.

Terbaru, Amerika Serikat dan Selandia Baru mengeluarkan travel advisory bagi warganya.

Sebenarnya, AS lewat kedutaannya di Jakarta sudah memberikan Security Message for U.S. Citizens: Mt. Agung Volcanic Activity.

Mengutip laman id.usembassy.gov pada 25 September 2017, pesan itu disampaikan oleh US Consulate General di Surabaya yang meminta warga AS yang tinggal atau akan ke Indonesia agar berhati-hati karena status Gunung Agung telah meningkat.

Warga AS diminta untuk tidak bepergian ke wilayah sekitar Gunung Agung. Selain itu, memonitor laporan media lokal serta mengecek jadwal bandara jika sewaktu-waktu harus evakuasi.

Kedutaan AS juga meminta warganya untuk memberi kabar keluar atau siapa pun lewat media sosial jika Gunung Agung benar-benar meletus.

Langkah yang sama juga diambil oleh Selandia Baru. Lewat Safetravel.govt.nz, Negeri Kiwi mengeluarkan travel advisory.

Pihak pemerintah meminta warga Selandia Baru yang akan bepergian ke Indonesia untuk mengonfirmasi rencana perjalanan, termasuk membuat asuransi.

Jika sudah berada di Bali, warga Selandia Baru diminta untuk memperbarui kondisi mereka dengan mendaftarkan diri ke laman Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan.