Sukses

Gara-Gara Sobek Baju Pasien, Dokter Kena Ganti Rugi Rp 2 Juta

Liputan6.com, Wuhan - Empat orang petugas medis di sebuah rumah sakit Kota Wuhan, China, sepertinya harus menahan kekesalan. Sebab, mereka diminta untuk membayar biaya kompensasi 1.000 yuan atau setara dengan Rp 2 juta karena telah memotong baju pasien saat berada di ruang gawat darurat.

Dikutip dari laman AsiaOne, Selasa (26/9/2017), tuntutan tersebut disampaikan oleh orang tua pasien yang merasa rugi jika baju anaknya disobek begitu saja oleh tim medis -- meski nyawa anaknya telah berhasil diselamatkan oleh tim dokter.

Insiden tersebut memicu kemarahan netizen di media sosial. Mereka menilai orang tua pasien sudah keterlaluan dalam urusan hitung-hitungan.

Bahkan, para netizen berinisiatif untuk mengumpulkan dana penggantian tersebut, agar orangtua pasien puas dengan tuntutannya.

Upaya tuntutan yang dilayangkan oleh keluarga pasien menuai kecaman dari netizen, yang menganggap mereka tak tahu rasa terima kasih.

Kejadian itu bermula ketika seorang pekerja waralaba bernama Li Ping pingsan dan dilarikan ke pusat gawat darurat Rumah Sakit Zhongnan.

"Emboli paru akut yang menyerang secara tiba-tiba, membuat Li mengalami koma," ujar Wakil Direktur Pusat Unit Gawat Darurat, Xia Jian.

"Jika tak cepat ditangani, maka risiko besar akan dialami oleh Li," tambahnya.

Setelah dibawa ke ruang gawat darurat, tim medis langsung mengambil tindakan dengan menekan dada pasien.

Agar penanganan lebih efektif, tim medis memutuskan untuk menggunting baju yang dikenakan pria berusia 34 tahun tersebut -- karena tak memungkinkan untuk membuka pakaian secara normal.

"Setiap menit sangat berharga, sedikit saja terlambat maka nyawa pasien tak terselamatkan. Maka dari itu, kami memutuskan untuk memotong bajunya," ujar Xia.

1 dari 2 halaman

Keluarga Pasien Terima 1.000 Yuan

Setelah dilakukan penanganan awal, kondisi Li semakin membaik, sehingga ia bisa dipindahkan ke ruangan lain. Tujuh hari kemudian, ia baru dinyatakan lepas dari masa kritis dan dipindahkan ke bangsal rumah sakit biasa.

Perkara dimulai ketika sang ayah mengklaim bahwa rumah sakit berutang 1.000 yuan kepada anaknya. Biaya kompensasi itu terdiri 500 yuan atas kerugian baju yang disobek oleh pihak.

Sementara itu, 500 yuan sisanya diklaim telah hilang dari kantong baju putranya, termasuk kartu identitas dan ATM.

Menanggapi hal tersebut, pihak rumah sakit menolak semua tuduhan yang keluarga pasien layangkan.

Demi memperkecil perkara, pihak rumah sakit akhirnya memberi 1.000 yuan yang mereka inginkan.

"Berhasil menyelamatkan seseorang dari emboli paru akut sangat sulit. Kami memotong pakaian pasien demi keselamatan," ujar pihak rumah sakit.

Li Huijuan, seorang pengacara yang mengkhususkan diri dalam urusan medis mengatakan, "Masuk akal rasanya bagi staf medis untuk memotong pakaian yang dikenakan pasien demi keselamatan."