Sukses

Ahli: Dokter di Australia Terlalu Banyak Lakukan Rontgen

Liputan6.com, Canberra - Seorang pakar di Australia mengatakan bahwa para dokter di Negeri Kanguru terlalu banyak memberikan rekomendasi untuk melakukan rontgen, terhadap anak-anak yang dalam kondisi tertentu seperti asma dan sakit perut.

Dr Sarah Dalton dari Divisi Kesehatan Anak dan Dokter Anak Ikatan Kedokteran Australia mengatakan, lebih dari 95 persen tindakan rontgen (x-ray) tidak berguna bagi anak-anak yang mengeluh sakit perut. Demikian seperti dikutip dari ABC Australia Plus pada Selasa (26/9/2017).

Bagi anak-anak yang mengalami kondisi keluhan di dada yang disebut bronchiolitis, hasil rontgen itu hanya berguna bagi 1 dari 100 anak-anak.

Rekomendasi ini merupakan bagian dari inisiatif bernama Choosing Wisely, di mana berbagai fakultas kedokteran mengeluarkan daftar pertanyaan yang bisa ditanyakan oleh orangtua kepada para dokter untuk menghindari adanya perawatan yang berlebihan.

"Saya mendesak para kolega saya untuk berhenti sejenak dan bertanya 'apakah rontgen ini diperlukan?'," kata Dr Dalton.

Dr Dalton mengatakan penting sekali para orang tua mengetahui bahwa rontgen di bagian perut menciptakan radiasi yang lebih besar dibandingkan rontgen di bagian dada.

Inisiatif Choosing Wisely telah mengeluarkan 25 rekomendasi baru dari sejumlah fakultas kedokteran.

Menurut Dr Peter Connaughton dari Royal Australian College of Physician, orang dewasa yang memiliki keluhan sakit di bagian pinggang sebelah bawah juga tidak dianjurkan mendapatkan rontgen.

Pasien lansia juga harus bertanya kepada para dokter mereka bagaimana untuk mengurangi jumlah obat yang mereka makan.

Para pakar mengatakan pasien yang minum lima obat atau lebih sebaiknya berkonsultasi lagi dengan dokter mereka, untuk melihat apakah ini adalah tindakan yang aman, atau harus menghentikan sama sekali.

Dr Robert Pickles dari Ikatan Dokter Penyakit Dalam Australia dan Selandia Baru mengatakan obat yang harus dihindari oleh para orangtua adalah benzodiazepines, obat anti psikosis, obat pengencer darah, obat tekanan darah tinggi, obat anggina, dan obat diabetes.

"Rata-rata usia pasien yang saya temui setiap hari adalah 65 tahun ke atas, dan memakan lima obat sehari, dengan banyak di antaranya setelah mendapat obat itu tidak pernah lagi berhenti," katanya.

Dia mengatakan pasien harus bertanya kepada dokter mereka apakah mereka harus mengonsumsi begitu banyak obat-obatan dalam waktu yang lama.

Artikel Selanjutnya
Waspadai 5 Kondisi yang Bisa Jadi Petanda Kanker Paru
Artikel Selanjutnya
Banyak Pria Tidak Tahu Letak Vagina, Kok Bisa?