Sukses

Nyamuk Pembawa Penyakit Dapat Menyerang 75 Persen Wilayah AS

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat tengah menerima peringatan terkait penyebaran nyamuk yang berbahaya bagi kesehatan. Menurut data dari Centres for Disease Control and Prevention (CDC), nyamuk yang mampu menyebarkan penyakit serius dan berpotensi mematikan, seperti Zika, demam berdarah, dan demam kuning, dapat menyerang sekitar tiga per empat daratan Negeri Paman Sam.

Badan federal AS itu sebelumnya telah memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi kesehatan manusia dalam banyak hal, termasuk meningkatkan jumlah hewan pembawa penyakit.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Medical Entomology, CDC mengungkap peta yang menunjukkan area yang cocok untuk dua jenis nyamuk, yakni Aedes aegypti atau Aedes albopictus, untuk bertahan hidup.

Dikutip dari Independent, Sabtu (22/9/2017), makalah tersebut mengatakan bahwa virus demam berdarah, chikungunya, dan Zika pada khususnya, mewakili ancaman kesehatan masyarakat yang berkembang di beberapa bagian Amerika Serikat.

"Kami mengantisipasi bahwa Aedes aegypti dan albopictus akan ditemukan lebih sering di sejumlah wilayah yang 'cocok'," ujar laporan CDC.

"County yang diprediksi sesuai dengan sensitivitas 90 persen harus menjadi prioritas utama untuk mencegah penyebaran nyamuk, tapi tetap diingat bahwa Aedes aegypti dan labopictus dapat masuk melalui perpindahan telur atau jentik yang tak disengaja, dan berpotensi berkembang biak selama periode terpanas," jelas CDC.

Seorang ahli biologi yang bekerja sama dengan CDC, Dr Rebcca Eisen, mengatakan bahwa penelitian dan peta yang dirilis CDC menunjukkan perkiraan terbaik atas rentang potensi adanya serangga berbahaya tersebut.

"Dengan kata lain, peta ini menunjukkan daerah yang diprediksi CDC di mana nyamuk Aedes aegypti dan albopictus dapat bertahan dan bereproduksi jika diperkenalkan ke suatu daerah selama berbulan-bulan ketika nyamuk aktif secara lokal," ujar Eisen.

Peta daerah yang mengungkap area yang cocok untuk nyamuk Aedes aegypti dan albopictus untuk bertahan hidup. (CDC)

 

 

1 dari 2 halaman

Suhu Faktor Kunci Penyebaran Nyamuk

Namun, para ahli menekankan, peta tersebut tak menunjukkan keberadaan nyamuk saat ini atau tempat di mana ada risiko penularan virus. Mereka menyebut, suhu merupakan faktor kunci penyebaran.

Jika sebuah wilayah suhunya melebihi 10 derajat Celcius pada musim dingin, daerah tersebut berpotensi terjadi peningkatan nyamuk. Namun, dalam suhu yang dinginnya konsisten, kemungkinan serangga untuk bertelur akan berkurang, terutama untuk jenis aegypti.

Sementara itu, curah hujan memiliki pengaruh signifikan terhadap albopictus karena proses bertelurnya lebih bergantung pada air hujan.

Eisen mengatakan, peta tersebut dapat memantau adanya tanda-tanda nyamuk.

"Upaya pengawasan dapat difokuskan di sejumlah county di mana Aedes aegypti dan albopictus dapat bertahan dan berkembang biak, jika diperkenalkan ke daerah selama berbulan-bulan ketika nyamuk aktif secara lokal," ujar Eisen.

"Selain itu, peta tersebut dapat membantu penyedia layanan kesehatan dan masyarakat umum untuk mengetahui di mana jenis nyamuk tersebut dapat ditemukan, sehingga mereka dapat mengambil langkah untuk melindungi dari gigitan nyamuk dan kemungkinan infeksi," imbuh dia.

Untuk menghindari gigitan nyamuk, CDC menyarankan agar warga mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang, berada di ruangan ber-AC, menggunakan losion anti-serangga yang disetujui oleh Environmental Protection Agency, serta merawat pakaian dengan insektisida permethrin.

Artikel Selanjutnya
Virus Zika Berpotensi Bunuh Sel Kanker Otak Ganas
Artikel Selanjutnya
Drone Pemasok Obat Terbesar di Dunia Siap Beroperasi di Tanzania