Sukses

Potret Karya WNI Gerdie Hutomo Sukses dalam Pameran Foto di Korea

Liputan6.com, Seoul - WNI bernama Gerdie Hutomo ini adalah pegawai pada perusahaan obat Bintang Tujuh. Meski begitu, karyanya yang diakui publik jauh dari pekerjaanya.

Hasil jepretan Gerdie juga ternyata mengagumkan banyak orang.

Seperti dikutip dari Kemlu.go.id, Sabtu (23/9/2017), fotonya itu memenangi kategori special country award pada ASEAN Tourism and Cultural Photo Contest 2017. Pada ajang yang sama, foto lainnya juga menyabet juara tiga.

Jadi sekali dayung, dua kemenangan diraih. Masih banyak lagi kemenangan yang pernah diraihnya.

Itulah sebabnya, KBRI Seoul di Korea Selatan memamerkan beberapa karyanya pada 2017 Seoul Photo Festival yang diikuti lebih dari 15 negara. Gerdie sendiri hadir di sana sambil mengikuti konferensi Global Tourism Photo Conference.

"Saya senang bisa datang ke Seoul atas undangan KBRI. Semoga keikutsertaan karya saya memberikan dampak positif bagi Tanah Air tercinta," ujarnya.

Untuk memaksimalkan kunjungan ke Seoul, pada 24 September 2017 Gerdie akan berburu foto bersama komunitas WNI di Korea yang tergabung dalam kelompok "Odengan". Mereka yang mayoritas kaum pekerja itu akan mendapatkan coaching tentang teori terbaik dalam mengambil gambar dengan obyek-obyek tertentu.

Ary Sulist, selaku yang dituakan di "Odengan", sangat antusias mengajak teman-temannya untuk belajar bersama Gerdie. Menurut dia, apa yang dilakukan KBRI Seoul merupakan pemberdayaan yang sangat ditunggu-tunggu para photo lovers asal Indonesia yang sedang bermukim di Negeri Ginseng.

1 dari 2 halaman

Kuntilanak di Korea

Sebelumnya, hal lain dari Indonesia yang diangkat di Korea Selatan adalah hantu kuntilanak. Efek ngerinya ternyata tak hanya terasa di Tanah Air.

Kengerian kuntilanak berhasil membuat warga Korea Selatan merinding, bahkan ketakutan.

Meskipun baru pertama kali diundang dalam Daegu International Horror Festival di Korsel, penampilan artis Indonesia bisa dibilang sukses. Banyak penonton histeris, bahkan berlari dari tempat duduknya saat beberapa kuntilanak muncul dan bergelantungan di "kegelapan malam".

Dilengkapi lagu magis, aroma-aroma asing, dan suasana mencekam, kuntilanak asal Indonesia sukses menciptakan suasana horor di Negeri Gingseng.

Nuansa mistis yang ada di Daegu International Horror Festival tersebut dibawa oleh kelompok teater dari Jakarta, Stage Corner Community.

Mereka menampilkan kuntilanak dalam aksi panggung dengan lakon “Lingsir Wengi: Repertoire Kuntilanak”.

Lakon tersebut diangkat dari lagu "Lingsir Wengi" karya Sunan Kalijaga. Pertunjukan itu menjadi penutup pada festival horor skala global itu.

"Wujud hantu kuntilanak Indonesia memiliki kemiripan dengan hantu Gwisin yang ditakuti di Korea, sehingga penonton serentak berteriak saat kemunculan kuntilanak melayang," ujar seorang penonton aksi panggung itu, seperti dikutip dari keterangan pers KBRI Seoul pada 2 Agustus 2017.

Lima ratusan penonton yang memenuhi Daegu Stadium, Citizen Square, Daegu Town Small Theater, memberikan sambutan yang meriah usia pertunjukan dan rela mengantre untuk berfoto dengan para pemain.

"The best performance, especially with the flying ghost," puji salah seorang panitia.

Perpaduan budaya dan artikulasi pentas panggung dianggap pas untuk sebuah pementasan horor di Korea.

Sutradara pertunjukan Dadang Badoet mengaku puas bisa menakut-nakuti publik Korea Selatan. Ia dan timnya siap datang lagi untuk membuat penonton lebih takut lagi.

Menurut Anggun dari KBRI Seoul, selain kelompok dari Indonesia dan dalam negeri Korea sendiri, juga hadir kelompok teater dari Jepang, Taiwan, dan China.

Daegu International Horror Performance and Arts Festival merupakan agenda tahunan.

Festival tersebut digelar telah Pemerintah Kota Daegu selama 14 kali berturut-turut.