Sukses

Tersinggung, Kim Jong-un Akan Balas Pidato Donald Trump di PBB

Liputan6.com, Pyongyang - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bereaksi atas pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump di hadapan Sidang Majelis Umum PBB ke-72 di New York, Amerika Serikat pada Selasa, 19 September. Putra Kim Jong-il itu menyebut, ancaman Trump terhadap negaranya mencerminkan "perilaku sakit jiwa".

Kim Jong-un menyampaikan responsnya tersebut melalui sebuah pernyataan tertulis yang dilansir oleh media resmi Korut, KCNA.

Dalam pernyataan tersebut, Kim Jong-un mengatakan, akan membuat Trump "membayar mahal atas pidatonya yang menyerukan penghancuran Korut secara total".

"Saat ini saya sedang berpikir keras tentang respons apa yang dia harapkan ketika dia membiarkan kata-kata sinting semacam itu meluncur dari mulutnya. Saya tentu saja akan menjinakkan orang tua itu dengan api," sebut pernyataan tersebut seperti dikutip dari CNN pada Jumat (22/9/2017).

Saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB, Trump menegaskan bahwa AS akan "benar-benar menghancurkan" Korut jika Negeri Paman Sam dalam posisi diharuskan melindungi sekutunya. Pernyataan Trump tersebut dinilai serius karena belum pernah sekali pun Presiden AS mengutarakan hal seperti itu di muka para pemimpin dunia dan diplomat tingkat tinggi.

"Trump telah menolak keberadaan saya dan menghina saya dan negara saya di hadapan dunia. Saya ingin memberitahu Trump agar berhati-hati dalam memilih kata-kata dan mempertimbangkan dengan siapa dia bicara saat berpidato," demikian kata Kim Jong-un dalam pernyataan tersebut.

Dimintai tanggapannya atas pernyataan Kim Jong-un tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan pada Kamis malam, "Tidak saat ini".

Respons Kim Jong-un tersebut muncul setelah sebelumnya Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho mengatakan bahwa pidato Trump terdengar seperti "gonggongan anjing". Tak hanya itu, Ri Yong-ho bahkan menuturkan, dia merasa "kasihan" dengan penasihat Trump setelah mendengar pidato sang presiden yang berapi-api.

1 dari 2 halaman

Pernyataan Tertulis Perdana Kim Jong-un

Sejumlah analis Korut meyakini bahwa ini merupakan kali pertama Kim Jong-un merilis pernyataan tertulis sebagai pemimpin negara.

"Sejauh yang kami tahu, ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dia jelas tersinggung dengan pidato tersebut dan yang paling mengkhawatirkan adalah respons yang tengah dia pertimbangkan," ungkap Vipin Narang, pakar pencegahan dan kebijakan nuklir yang juga seorang profesor ilmu politik nuklir di MIT.

Dalam pernyataan tertulisnya, Kim menyebutkan bahwa dia "akan mempertimbangkan dengan serius atas respons, tindakan balasan level tertinggi dalam sejarah". Hal ini membuat Narang sulit menutupi kekhawatirannya.

"Saya tidak berpikir bahwa kita harus melompat pada kesimpulan tentang apa yang akan dia uji, tapi saya rasa ini pernyataan yang serius dan kita harus menyikapinya dengan serius".

Sementara itu, di lain sisi, AS terus menekan Korut melalui jalur diplomasi. Washington telah mengumumkan sanksi baru terhadap Pyongyang yang menargetkan individu dan perusahaan yang berbisnis dengan Korut.

Meski mayoritas impor Korut berasal dari China namun, Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin mengatakan, "Langkah ini ditujukan pada setiap orang dan sama sekali tidak diarahkan secara khusus ke China".