Sukses

Ancaman Perubahan Iklim Tak Separah yang Diramalkan?

Liputan6.com, London - Ancaman segera oleh perubahan iklim kepada planet ini diduga tidak separah yang diramalkan. Hal itu diungkapkan suatu penelitian terbaru. Menurut studi itu, para ilmuwan sebelumnya menyusun model perhitungan yang salah tentang fenomena itu.

Penelitian baru yang dilakukan pleh para ilmuwan Inggris mengungkapkan bahwa dunia ini tercemar dan memanas pada laju yang tidak secepat yang diprediksi oleh ramalan 10 tahun lalu.

Dengan demikian, negara-negara masih memiliki waktu untuk menata keluaran (output) karbon mereka, demikian dikutip pada Selasa (19/9/2017) dari The Telegraph.

Adanya "revolusi" tak terduga dalam bidang energi terbarukan juga ikut andil kepada pandangan yang lebih positif tersebut.

Sekarang ini para pakar mengatakan ada kemungkinan 2/3 untuk menjaga agar suhu global tidak sampai 1,5 derajat lebih panas daripada angka pada masa pra-industri. Pencapaian itu merupakan tujuan utama Persetujuan Paris 2015.

Para ilmuwan juga mencela "reaksi berlebihan" terhadap hengkangnya Amerika Serikat (AS) dari Kesepakatan Iklim Paris (Paris Climate Accord) yang diumumkan oleh Donald Trump pada Juni lalu.

Menurut para ilmuwan dalam penelitian ini, hengkangnya AS tidak membuat perbedaan besar.

Berdasarkan model-model perhitungan yang dipergunakan untuk menyusun persetujuan tersebut, dunia sekarang ini 1,3 derajat lebih panas dibandingkan suhu rata-rata Abad ke-19.

Tapi, pengamatan-pengamatan terkini menengarai bahwa suhu global sekarang hanya berkisar antara 0,9 hingga 1 derajat lebih panas.

Berdasarkan selisih suhu tersebut, negara-negara masih bisa terus mengeluarkan karbon dioksida dalam tingkat yang sekarang selama 20 tahun ke depan, bukan hanya tiga hingga lima tahun ke depan.

Profesor Myles Allen dari Oxford University adalah salah satu penulis penelitian baru tersebut. Menurutnya, "Kalau kita bicara tentang suatu angka sebesar 1,5 derajat, maka (selisih) 0,3 derajat itu cukup besar."

Menurut penelitian yang telah terbit dalam jurnal Nature Geoscience tersebut, seandainya pencemaran memuncak dan kemudian menurun di bawah angka sekarang sebelum 2030, lalu terus menurun tajam, maka ada kemungkinan sebesar 66 persen bahwa suhu rata-rata global tidak sampai 1,5 derajat (dibandingkan suhu global masa pra-industri).

Angka sasaran itu dulunya dianggap "sangat ambisius" tapi "mungkin tercapai secara fisik."

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Kemajuan Teknologi dalam Bidang Energi Terbarukan

Ilustrasi ladang panel surya sebagai bagian dari pengadaan energi terbarukan. (Sumber Pixabay)

Suatu alasan lagi sehingga masa depan iklim tidak sesuram yang diduga sebelumnya adalah karena tingkat emisi yang semakin stabil, terutama di China.

China sekarang telah memasang lebih dari 100 gigawatt sel-sel surya. Sekitar 25 persen di antaranya baru saja dipasang dalam 6 bulan terakhir.

Di Inggris, biaya pembangkitan listrik menggunakan tenaga angin lepas pantai ternyata lebih murah daripada perkiraan.

Sebelumnya, Profesor Michael Grubb dari University College London (UCL) pernah mencetuskan bahwa sasaran-sasaran yang disepakati di Paris pada 2015, "tidak sepadan dengan demokrasi."

Tapi, pada Senin 17 September lalu, ia mengatakan, "Kita sekarang sedang berada di tengah revolusi energi yang berlangsung lebih cepat daripada yang kita duga, sehingga jauh lebih kredibel bagi pemerintah-pemerintah untuk lebih pelit dalam penawaran mereka di Paris."

Ia menambahkan bahwa penarikan AS dari Perjanjian Paris tidak terlalu penting karena "Posisi Gedung Putih tidak memiliki dampak besar pada emisi oleh AS."

"Para konstituen yang lebih kecil – kota, pebisnis, negara bagian – mengatakan mereka ikutan, antara lain demi reduksi karbon, tapi alasan lain adalah karena adanya revolusi energi ini dan mereka tidak mau ketinggalan."

Penelitian tersebut diterbitkan bersamaan waktunya dengan pengumuman Met Office yang mengatakan bahwa "perlambatan" kenaikan suhu global yang dilaporkan dalam dekade pertama abad ini telah selesai.

Organisasi itu pernah mengatakan bahwa perlambatan kenaikan suhu udara antara 1999 dan 2014 terjadi karena adanya siklus alamiah di Pasifik yang mengakibatkan percepatan sirkulasi samudera dan menarik panas menjauhi atmosfer lalu masuk ke kedalaman samudera. Tapi, siklus itu sekarang sudah usai.

Artikel Selanjutnya
Konflik Korut dan AS Belum Ganggu Ekonomi RI
Artikel Selanjutnya
Dilanda Bencana Kelaparan, Tentara Korut Tak Siap Tempur?