Sukses

16-9-1923: Lahirnya Sang Bapak Bangsa Singapura, Lee Kuan Yew

Liputan6.com, Singapura City - Hari ini 94 tahun silam, pria pemilik nama Mandarin Li Guangyao lahir. Ia kemudian dikenal dengan Lee Kuan Yew.

Lee Kuan Yew memimpin Singapura dari tahun 1959 hingga 1990. Namun hingga menghembuskan nafas terakhir, ia tetap menjadi tokoh berpengaruh dan pakar strategi ekonomi negara kota itu.

"Harry" Lee Kuan Yew merupakan warga Singapura generasi keempat yang nenek moyangnya dulu pindah dari Provinsi Guangdong di Tiongkok pada tahun 1860-an. Dia telah memainkan peran utama dalam memimpin negara pulau pasca-era penjajahan menuju negara yang sukses di bidang ekonomi.

Lee merupakan salah satu orang yang selamat dari pendudukan Tentara Kekaisaran Jepang di Singapura. Setelah penjajahan, Lee belajar ekonomi di London dan kuliah di Universitas Cambridge sampai mendapat gelar sarjana hukum.

Karir politiknya dimulai tahun 1954 dengan pembentukan Partai Aksi Rakyat (PAP) yang merupakan koalisi kelompok kelas menengah dan serikat dagang pro-komunis. Tahun 1955, Lee menjadi pemimpin kelompok oposisi di parlemen. Tetapi perpecahan di dalam PAP dengan sayap kiri partai itu mendorong penangkapan tokoh-tokoh pro-komunis tahun 1957.

Pada pemilu tahun 1959, seperti dilansir VOA, PAP menang besar dan Lee Kuan Yew menjadi perdana menteri pertama Singapura, jabatan yang dipegangnya hingga tahun 1990 sebelum ia diangkat menjadi menteri senior.

Ilustrasi Lee Kuan Yew

Lee Kuan Yew pernah menghadapi tantangan berat sebagai perdana menteri. Rencananya semula adalah membentuk Federasi Malaysia, yang menyatukan Singapura, Malaysia, Sabah dan Sarawak.

Tetapi kemudian muncul perbedaan pendapat antara Perdana Menteri Semenanjung Malaysia Tunku Abdul Rahman dan Lee Kuan Yew, terutama setelah kerusuhan rasial antara warga Muslim dan China tahun 1964 dan terulang kembali tahun 1965. Pada tanggal 9 Agustus 1965 Tunku Abdul Rahman menyerukan perpisahan.

"Ada beberapa perbedaan di antara pemerintah Malaysia dan pemimpin pemerintah Singapura. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam begitu banyak bentuk dan banyak hal yang tidak mungkin diselesaikan, jadi kami memutuskan untuk berpisah," kata dia.

Sejumlah sejarawan mengatakan Lee Kuan Yew menentang sikap Tunku Abdul Rahman yang lebih berpihak pada warga Melayu dibanding etnis China. Lee sangat sedih mendengar berita perpisahan ini.

"Sepanjang hidup saya, saya yakin pada persatuan Malaysia dan Singapura. Yang terhubung karena geografi dan ikatan kekerabatan… maaf dapatkah kita berhenti sebentar," ujar Lee Kuan Yew yang tampak emosional saat itu.

Pada usia 42 tahun Lee Kuan Yew menjadi pemimpin tunggal Singapura, bekerja keras mencapai pertumbuhan ekonomi untuk membangun Singapura dan membina kesatuan. "Saya tidak berada di sini untuk memainkan strategi orang lain. Saya bertanggungjawab pada beberapa juta orang dan Singapura harus berhasil," tegasnya.

Ia meninggal pada 23 Maret 2015 di Singapore General Hospital, Singapura karena radang paru-paru. Sebelumnya kondisinya terus menurun sejak dirawat di rumah sakit pada 5 Februari 2015.

Upacara pemakaman berlangsung pada 29 Maret 2015 di Pusat Kebudayaan di Universitas Nasional Singapura, selanjutnya Jenazah dibawa ke Mandai Crematorium untuk dikremasi.

 

1 dari 2 halaman

Sosok Otoriter Pencetak Prestasi Besar

Selama 3 dasawarsa masa kepimpinannya, banyak prestasi besar pula yang sudah dicapai pria kelahiran 16 September 1923 ini.

Salah satu yang paling dikenal adalah mengubah Negeri Singa dari negara kecil dan tak punya kekayaan alam menjadi negara dengan pencapaian ekonomi sangat tinggi.

Di bawah pemerintahanya sejumlah kebijakan strategis diambil. Langkah ini membuahkan sukses besar. Singapura berubah. Tadinya Negeri Singa tak dianggap di dunia internasional, tapi kini negara bekas bagian Federasi Malaysia itu malah semakin sejahtera, modern, dan yang paling penting, bebas korupsi.

Karena dianggap negara bersih banyak keuntungan direngkuh Singapura. Salah satunya, kebajiran investor asing yang yakin menanamkan modalnya di sana..

Walau berhasil mengubah Singapura, kritikan bukan berati tak datang. Gaya berpolitik dan memerintahnya dicap otoriter. Banyak media massa dibungkam selama pemerintahannya. Lee tidak memungkiri hal tersebut. Dia mengatakan, kebijakan tersebut sudah sepatutnya diambil. Agar Singapura bisa lebih maju ke depannya.

"Kebebasan pers, kebebasan media harus diletakkan di bawah persatuan Singapura," katanya suatu waktu seperti Liputan6.com kutip dari BBC Indonesia.

Pernyataan itu sontak membuat Lee sempat dipojokkan. Oleh lawan politiknya, ia sempat dituduh sebagai seorang komunis.

"Lee, yang menegaskan dirinya antikomunis, malah dituduh menerapkan pemerintahan gaya komunis melalui kebijakan-kebijakannya," demikian ditulis BBC Indonesia kala itu dalam artikelnya, 'Bapak kemajuan Singapura, Lee Kuan Yew'.

Mendengar tudingan itu, Lee tidak tinggal diam. Ia tak serta merta frontal, melainkan memberikan bukti. "Berbeda dengan negara komunis pada umumnya, rakyat Singapura menikmati keuntungan ekonomi dari gaya kepemimpinan Lee. Dari tahun 1960 hingga 1980, pendapatan per kapita Singapura meningkat sampai 15 kali lipat."

Ilustrasi Lee Kuan Yew

Pasca-Lee mundur dari dunia politik, dunia mulai memuji kebijakan yang pernah diambilnya. Mereka mengganggap, meski ada pembatasan hak pribadi, formulanya jelas membuat Singapura, sampai saat ini, menjadi negara kecil dengan kekuatan besar.'

Mendengar hal itu, Lee pun buka suara. Saat diwawancara stasiun televisi China pada tahun 2005, pria ini menyatakan, langkah yang diambilnya memang dibutuhkan negerinya.

"Di dunia yang berbeda, kita perlu menemukan niche (ceruk) untuk diri sendiri, satu sudut -- yang biarpun ukuran kita kecil -- kita bisa tampil dengan peran yang berguna untuk seluruh dunia," pungkas Lee.

Politikus kelahiran Singapura ini juga menerima berbagai tanda penghargaan, termasuk "Order of the Companions of Honour" (1970), "Knight Grand Cross of the Order of St Michael and St George" (1972), "Freedom of the City" (London, 1982), "Order of the Crown of Johore First Class" (1984) dan "Order of the Rising Sun" (1967).

Sementara itu pada tanggal yang sama tahun 1975 tercatat sebagai momen saat Papua Nugini merdeka dari Australia. Sementara pada 16 September 2013, tercatat sejarah telah terjadi penembakan di Washington Navy Yard yang menewaskan 12 orang.