Sukses

Menolong Sesama, 6 Orang Ini Justru Terjerat Hukum

Liputan6.com, Jakarta - Tidak ada perbuatan baik yang selayaknya dihukum. Dunia ini memiliki cukup banyak orang-orang yang mengambil risiko kehilangan nyawa demi menyelamatkan orang lain, tapi mereka tidak selalu mendapatkan ganjaran yang sepadan.

Demi persyaratan birokrasi, prosedur atau sekedar kepentingan diri sendiri, ada saja orang yang malah terjebak dalam petaka karena mencoba menyelamatkan orang lain.

Ada beragam alasan, entah karena cemburu, mencari untung, atau karena sistemnya dirancang agar orang tidak melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan.

Seperti dikutip dari listverse.com pada Kamis (14/9/2017), berikut ini adalah kisah 5 orang yang bermurah hati dan berbuat baik tapi justru terjebak dalam masalah:

1 dari 7 halaman

1. Dipecat Karena Menolong Orang Tenggelam

Tomas Lopez. (Sumber NBC Miami)

Suatu hari, penjaga pantai bernama Tomas Lopez sedang berdinas di Hallandale Beach, Florida. Seseorang bergegas mendatanginya dan menceritakan ada seorang pria yang berenang terlalu jauh dari pantai dan sepertinya sedang tenggelam.

Seperti lazimnya seorang penjaga pantai, Lopez bergegas menolong orang itu, menariknya ke pantai dengan dibantu oleh beberapa pengunjung pantai, lalu memberikan CPR.

Ketika Lopez menyerahkan berkas laporan, ia malah dipecat.

Ternyata, pria yang hampir tenggelam itu "berada di luar daerah terlindungi" dan ada papan petunjuk yang menyebutkan bahwa siapapun yang berenang ke sana harus menanggung risiko sendiri.

Rekan-rekannya menjadi geram dan enam orang penjaga pantai membelanya. Mereka menyampaikan kepada perusahaan dan media bahwa mereka akan melakukan hal yang sama jika mengalami kejadian serupa.

Enam orang itu ikut dipecat.

2 dari 7 halaman

2. Kakek Dihukum Penjara Karena Berbagi Makanan

Arnold Abbott ditangkap karena membagikan makanan kepada kaum tunawisma Fort Lauderdale. (Sumber ibtimes.co.uk)

Arnold Abbott bekerja bersama dua orang pendeta gereja untuk membagikan makanan kepada kaum tunawisma di luar suatu taman Fort Lauderdale, Florida. Mereka kemudian didatangi polisi.

Pria berusia 90 tahun itu bahkan dikenakan borgol, lalu diancam dengan hukuman denda US$ 500 dan hukuman penjara selama 60 hari.

Ternyata, Fort Lauderdale baru saja meloloskan peraturan baru yang melarang pembagian makanan kepada kaum tunawisma dalam jarak 150 meter dari kawasan pemukiman.

Abbott mendirikan stan dekat taman lokal. Seorang pendukung peraturan baru mengeluh bahwa stan itu menarik kedatangan kaum tuna wisma dengan “bau badan yang luar biasa.”

Tapi Abbott tetap membagikan makanan. Ia bahkan berjanji, "Saya akan terus melakukannya selama masih bernafas."

3 dari 7 halaman

3. Digugat Secara Hukum Karena Menolong Remaja Putri

Remakan CCTV pertengkaran di dalam toko Target. (Sumber WTAE)

Suatu hari, pria tunawisma bernama Leon Walls mengamuk di jalan. Ketika berpapasan dengan sekelompok pria yang tidak pernah dikenalnya, ia menikam salah satu dari mereka dan kemudian melarikan diri dan masuk ke dalam toko Target.

Pria yang ditikam dan dua temannya mengejar masuk. Di dalam toko, mereka melihat Walls sedang menyandera seorang remaja putri berusia 16 tahun.

Mereka mencoba menenangkan Walls, tapi pria tersebut malah menghujam pisau ke rusuk korbannya.

Melihat itu, mereka bertindak. Satu orang menyergap Walls dari belakang dan ibu si remaja menarik anaknya ke tempat aman. Dua pria lain menjatuhkan tersangka dan remaja putri itu selamat.

Kenyataannya, pihak toko malah menggugat tiga pria itu secara hukum. Tindakan itu diduga untuk membatasi kewajiban pihak toko. Menurut Target, para pria yang mengejar Walls bertanggungjawab atas tindakan pria tersebut karena mereka mengejarnya sehingga pria tunawisma itu masuk toko.

Ayah remaja putri itu pun terheran-heran.

4 dari 7 halaman

4. Ditahan Karena Menemukan Metamfetamin

Pemilik rumah menemukan 8 kantong sabu yang ditinggalkan mantan penyewa rumah. (Sumber ajc.com)

Michael dan Channel Keeley ditangkap karena melakukan hal yang seharusnya. Suatu hari, mereka mendapat infomasi bahwa orang yang menyewa rumah mereka diringkus karena kepemilikan metamfetamin (sabu).

Pasangan itu kemudian bersih-bersih di rumah itu karena akan menyewakan lagi. Di rumah yang sudah terbengkalai, mereka menemukan 8 kantong sabu tersembunyi dalam dinding.

Mereka segera melaporkan kepada polisi, tapi malah dicurigai. Salah seorang petugas berkata, "Katakan sejujurnya. Kami tahu tidak ada orang yang menerobos masuk rumah. Kamu melakukan ini sendiri."

Sang petugas kemudian menangkap pasangan itu dengan alasan "merusak barang bukti" karena menemukan barang bukti dan menyerahkannya kepada polisi dianggap sebagai bentuk tindakan merusak.

Pasangan itu dijebloskan ke dalam penjara dan anak mereka yang berusia 9 tahun terancam diberikan kepada layanan pengasuhan anak.

Setelah ramai di media, polisi kemudian menarik dakwaan. Pasangan itu sudah terlanjur masuk penjara selama 2 hari dan masing-masing telah membayar uang jaminan senilai US$ 5.000. Anak mereka menderita trauma.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

5 dari 7 halaman

5. Rumah Sakit Digugat Karena Menyelamatkan Pasien

Alat kejut jantung (defibrillator) untuk pertolongan darurat mengatasi serangan jantung. (Sumber Wikimedia Commons)

Beatrice Weisman (83) sedang mengalami pemulihan dari serangan serius stroke di Maryland General Hospital ketika ia mendapat serangan jantung.

Tenaga medis langsung bertindak melakukan CPR dan alat kejut (defibrillator) agar si pasien hidup lagi. Ternyata, anak lelaki Weisman malah menggugat pihak rumah sakit karena telah menyelamatkan ibunya.

Pihak rumah sakit tidak mengetahui bahwa suami Weisman telah menandatangani dokumen legal yang membiarkan istrinya dibiarkan meninggal jika mengalami serangan jantung.

Beatrice dan suaminya telah menulis perjanjian sebelum semua itu terjadi. Tapi, dalam suasana darurat yang tergesa-gesa, pihak rumah sakit tidak terpikir mencari-cari berkas-berkas yang telah ditandatangani.

Ternyata, dokumen itu ada di paling atas pada dokumen pasien.

Putra Beatrice pun menggugat US$ 250 ribu untuk kejadian itu, ditambah dengan US$ 180 ribu untuk setiap tahun hidup wanita itu setelah kejadian. Angka itu mencakup biaya perawatan di rumah sakit dan rumah pribadi.

Gugatan hukum yang diajukan juga menengarai adanya kecerobohan yang "disengaja sehingga mendatangkan kegundahan emosional." Secara moral, hal itu susah dijelaskan.

Keinginan akhir wanita itu tidak sengaja dilanggar dan mutu kehidupan sesudah kejadian itu bukanlah sebagai seseorang yang sehat. Hal itulah yang dihindari Beatrice.

6 dari 7 halaman

6. Membayar Ganti Kerugian Karena Menolong

Rekaman CCTV ketika sebuah mobil menabrak anak balita berusia 2 tahun di China pada 2011. (Sumber The New Yoker)

Kisah-kisah seperti yang dipaparkan di sini bukan hanya berdampak kepada satu orang, bahkan bisa mengubah keseluruhan perilaku budaya.

Itulah yang terjadi di China ketika seorang pria bernama Peng Yu melihat seorang wanita tua bernama Xu Shoulan terjatuh ketika turun dari bus.

Pria itu menolongnya, membawa ke rumah sakit, dan menyerahkan uang yang ada padanya untuk menolong meringankan biaya.

Bukan berterima kasih, Xu Shoulan malah menggugat pria penolongnya dan menuduh telah didorong oleh Peng Yu. Padahal ada sejumlah saksi yang menyatakan bahwa pria itu tidak sedang dekat Xu Shoulan ketika ia terjatuh.

Tetap saja sang hakim memutuskan bahwa "tidak ada orang waras yang membantu orang lain kalau tidak merasa bersalah" dan mewajibkan Peng Yu membayar uang senilai setara US$ 6.700 kepada wanita itu.

Setelah kejadian itu, warga China terlalu takut menolong orang lain yang cedera karena ada preseden gugatan kepada seseorang yang menolong orang lain.

Kisah terburuk terjadi pada 2011. Seorang balita perempuan berusia 2 tahun terlindas oleh sebuah mobil dengan disaksikan 18 orang.

Tidak ada yang bertindak dan mereka semua berjalan menjauh sehingga anak itu meninggal dunia tanpa mendapat pertolongan. Alasannya, mereka takut didakwa.

Artikel Selanjutnya
Rumah Pria yang Lancarkan Kutukan ke Kaum Gay Dilanda Banjir
Artikel Selanjutnya
Nafa Urbach: Pelaku Pedofilia Harus Dikebiri