Sukses

Presiden Perempuan Singapura Pilih Flat Sederhana daripada Istana

Liputan6.com, Singapura - Setelah resmi dilantik menjadi Presiden Singapura, Kamis 14 September 2017, Halimah Yacob berhak menempati Istana.

Istana adalah kediaman dan kantor resmi Presiden Republik Singapura. Di bangunan era kolonial yang terletak di Jalan Orchad itu, sang kepala negara menerima dan menjamu tamu-tamu kenegaraan.

Seperti dikutip dari Straits Times, Rabu (13/9/2017), tak hanya mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang jadi kepala negara di Negeri Singa, Halimah juga akan jadi presiden pertama yang memilih tinggal di flat sederhana milik pemerintah (Housing Board) selama menjabat.

Ia mengaku tak berencana pindah dari rumah keluarganya di Yishun. "Saya akan tetap tinggal di Yishun," kata perempuan 63 tahun itu saat ditanya di mana ia akan tinggal setelah jadi presiden.

"Di sana menyenangkan, nyaman, dan saya sudah tinggal di sana selama bertahun-tahun."

Sang suami, Mohamed Abdullah Alhabshee, mendukung keputusannya itu. Bagi pria 63 tahun itu, "rumah saya besar seperti penthouse (griya tawang)."

Halimah Yacob melambaikan tangan ke pendukungnya saat tiba untuk menyerahkan berkas pencalonan presiden di Singapura, Rabu (13/9). Perempuan 63 tahun itu adalah calon tunggal yang memenuhi syarat untuk menduduki kursi presiden. (AP Photo/Wong Maye-E)

Flat yang mereka tinggali relatif besar, terdiri atas lima kamar. Di sanalah keluarga Halimah dan Mohmed tinggal selama lebih dari 30 tahun.

Pasangan tersbeut punya dua putra dan tiga putri, yang usianya 26-35 tahun.

Lantas, bagaimana dengan pengamanan untuk sang presiden? "Saya akan menyerahkannya pada aparat berwenang. Saya pikir mereka tahu bagaimana mengamankan area tersebut," kata dia.

Sebelumnya, saat menjabat Ketua Parlemen Singapura, ia juga sudah mendapatkan pengawalan.

Halimah mengaku, tinggal di flat membuatnya lebih sehat. Sebab, alih-alih menggunakan lift, ia bisa naik-turun tangga ke tempat tinggalnya yang terletak di lantai enam.

"Kondisi kesehatan saya sangat baik. Setiap pagi saya olah raga setidaknya selama 45 menit."

Halimah juga yakin, ia akan banyak melakukan latihan fisik selama bekerja di Istana, menjalankan tugasnya sebagai presiden.

"Halaman Istana sangat luas. Saya punya kesempatan untuk berjalan kaki menempuh jarak lebih jauh dan menjaga tubuh tetap prima," kata dia.

Pernah Hidup Susah

Halimah Yacob adalah Presiden ke-8 Singapura. Sebelum mencapai jabatan itu, perjuangan keras dilakoninya.

Kerasnya kehidupan mewarnai perjalanan Halimah Yacob ke puncak. Saat usianya delapan tahun, sang ayah, yang berprofesi sebagai penjaga, meninggal dunia.

Sang ibu pun terpaksa banting tulang, mengais nafkah demi membesarkan Halimah dan empat kakak laki-lakinya. Kala itu, mereka tinggal di sebuah flat satu kamar di Hindoo Road.

Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, Halimah membantu ibunya berjualan nasi padang dengan sebuah gerobak dorong, sebelum akhirnya sang ibu mendapat lisensi untuk membuka warung makan.

Di samping harus mengerjakan tugas-tugas sekolah, ia juga masih membantu ibunya berjualan. Di lain sisi, uang sekolahnya kerap tak terbayarkan.

Bahkan setelah "jadi orang", Halimah tetap hidup sederhana. Ia dan keluarganya msih tinggal di flat milik negara di Yishun. Ia sudah tinggal di sana sejak tahun 1983.

Halimah bahkan berharap ia dapat terus tinggal di flat murah tersebut, meski sebagai presiden ia berhak menempati Istana.

Dalam sebuah wawancara dengan The Straits Times, dia mengatakan, "Lebih dari 80 persen rakyat kita tinggal di flat milik negara. Dan jika itu cukup baik bagi mereka, maka cukup baik pula bagi saya".

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Enam Tahun Memimpin, Presiden Singapura Akhiri Masa Jabatan
Artikel Selanjutnya
Jokowi Akui Kerap Berkelakar dengan Jusuf Kalla