Sukses

Koordinator Arisan WNI di Australia Kabur, Uang Rp 4 Miliar Raib

Liputan6.com, Sydney - Sedikitnya 40 warga Indonesia yang tinggal di Sydney (New South Wales), Australia, mengkhawatirkan uang yang mereka ikutkan dalam arisan akan hilang. Kekhawatiran ini muncul setelah koordinator arisan tersebut menghilang sejak beberapa waktu terakhir.

Seperti Liputan6.com kutip dari ABC Australia Plus, Rabu (13/9/2017), diperkirakan jumlah kerugian dari dokumen yang sudah dilihat tim media Negeri Kanguru itu berkisar 400 ribu dolar Australia atau sekitar Rp 4 miliar.

Koordinator arisan tersebut, seorang wanita berinisial DP, kini sudah tidak diketahui keberadaannya. Para korban memperkirakan perempuan tersebut berada di Indonesia, karena diduga memiliki rumah atau sanak keluarga yang tinggal di Medan (Sumatera Utara).

Beberapa korban sudah melapor apa yang terjadi dengan mereka kepada kepolisian di New South Wales.

Sejauh ini pihak ABC sudah meminta keterangan dari kepolisian, tapi belum mendapatkan keterangan resmi. Kendati demikian, dalam korespondensi yang dilakukan korban dengan petugas, disebutkan bahwa kasus ini sekarang ditangani oleh kantor polisi Fairfield di Sydney.

Menurut keterangan, beberapa orang yang merasa menjadi korban telah meminta agar rekening DP di Australia dibekukan. Namun, menurut polisi, bank tidak bersedia membekukan karena hal itu harus mendapat perintah dari pengadilan.

Wartawan ABC, Sastra Wijaya, yang berbicara dengan dua korban mendapati informasi bahwa keduanya telah menyetor 20 ribu dan 10 ribu dolar Australia, yang kini tersangkut dalam arisan. Mereka mengaku sangat khawatir dana itu tak bisa kembali.

Dari daftar uang yang sudah disetorkan untuk arisan, mereka yang mengalami kerugian saat ini bervariasi antara 1.000 sampai yang tertinggi 52 ribu dolar Australia.

Seorang ibu rumah tangga yang menolak disebut identitas lengkapnya dan menyebut dirinya F, mengatakan bahwa akibat kejadian itu dirinya sangat mengkhawatirkan masa depan keluarganya.

"Saya sudah diancam oleh suami akan diceraikan bila uang tersebut tidak kembali. Padahal, uang itu akan kami gunakan untuk membayar uang sekolah anak 10 ribu dolar Australia dan juga biaya untuk memperpanjang visa," kata F yang menyetor 20 ribu dolar Australia tapi tak diketahui keberadaannya.

F mengatakan, dia sudah mengikuti arisan ini sejak dua tahun terakhir, dan sebelumnya sudah mendapatkan bagian tanpa adanya masalah.

Sistem arisan yang dilakukan di Sydney ini tak berbeda dengan sistem arisan yang dilakukan di Indonesia umumnya. Beberapa orang mengumpulkan uang dan pada waktu tertentu, misalnya setiap dua minggu atau per bulan, setelah terkumpul akan diberikan kepada satu orang yang mendapat giliran.

Dana Arisan hingga Miliaran Rupiah 

Lalu mengapa uang yang terkumpul dalam aliran ini mencapai angka ratusan ribu dolar atau miliar rupiah?

Dari dokumen yang dilihat oleh ABC Australia Plus, koordinator arisan tersebut ternyata diketahui memiliki beberapa kelompok arisan yang berjalan dalam waktu bersamaan.

F misalnya, saat ini ia mengikuti empat kelompok arisan berbeda.

"Saya sudah pernah dapat sekali, sementara ini yang tiga belum selesai," katanya lagi.

Ketika ditanya motivasinya ikut arisan, F mengatakan bahwa dirinya tak bisa bekerja karena kedua anaknya masih kecil. Sebagai ibu rumah tangga, dia melihat arisan merupakan salah satu cara untuk menambah pemasukan bagi keluarga mereka.

"Karena saya pikir kalau saya simpan di bank, kadang kalau lihat rekening mungkin akan tergoda untuk belanja," katanya lagi.

Apakah F sebelumnya tidak khawatir nantinya dia akan mengalami masalah seperti sekarang?

"Dulu saya tidak merasa akan tertipu, karena awal-awalnya semuanya lancar, dan juga uang saya tidak banyak. Kemudian ketika sudah merasa nyaman, saya mulai kirim uang terus, meski suami saya sempat memperingatkan saya untuk berhati-hati," tambah F.

"Tetapi saya tak mendengarkan pendapat suami karena saya melihat DP sebagai orang yang jujur," kata F lagi.

Seorang perempuan lain yang juga berinisial F mengatakan bahwa untuk sementara dana yang ditanamkan di arisan tersebut sebesar 10 ribu dolar Australia.

"Saya ikut arisan sejak awal 2015. Awalnya saya ikut yang kecil yang penarikannya 3 ribu dolar Australia, semua berjalan lancar. Saya kemudian ikut lagi yang 5 ribu, 8.500, 10 ribu, 15 ribu dolar Australia," kata F kedua kepada Sastra Wijaya.

Menurut informasi kedua orang tersebut, masalah dengan arisan tersebut muncul pada Juli 2017 lalu.

"Ketika itu koordinator arisan mengatakan bahwa rekening banknya dibekukan oleh ATO (Kantor Perpajakan Australia). Namun, belakangan alasannya berubah-ubah, dan kemudian kontaknya di WA dan FB tidak bisa dihubungi," kata F.

Beberapa orang yang khawatir akan dana mereka juga kabarnya sempat mendatangi rumah koordinator tersebut. Namun, mereka hanya berhasil menemui suami DP yang mengaku sudah bercerai dari istrinya dan tidak tinggal serumah lagi di Sydney.

1 dari 2 halaman

Jangan Mudah Percaya Soal Uang

Didi Setyawan, seorang koordinator sebuah kelompok komunitas Facebook bernama The Rock di Sydney, kini berusaha membantu untuk mengatasi kasus arisan tersebut.

"Saya sudah menghubungi kedua belah pihak untuk melakukan mediasi. Jadi, berusaha menyelesaikannya baik baik. Hasilnya dari pihak koordinator merasa tidak ada kasus dan pihak suami merasa merekalah yang jadi korban," kata Didi kepada ABC Australia Plus mengenai apa yang terjadi.

Koordinator arisan tersebut tak merasa bersalah. Menurut Didi, ketika ada masalah pada Juli lalu karena ada beberapa orang tak bayar, sehingga beberapa korban lain tidak mau menyetor uang lagi.

"Itulah yang menyebabkan sistem arisannya hancur, karena tidak ada uang yang masuk. Itulah mengapa koordinator merasa hal itu bukan kesalahan dia," tambah Didi.

Namun, menurut keterangan yang didapat Didi dari para korban, koordinator arisan ini memasukkan nama-nama fiktif supaya dia mendapat uang tunai duluan.

"Itulah mungkin salah satu alasan mengapa dia menolak mediasi, karena akan terbongkar semua nama-nama yang ada di dalam daftar arisan tersebut," jelasnya.

Terlepas dari semua ini, Didi Setyawan berharap agar kasus ini bisa menjadi bahan masukan bagi semua pihak untuk lebih bijaksana menaruh uang.

"Tahun 2015 juga terjadi kasus pinjam-meminjam yang cukup banyak. Di mana pelaku memakai uang tersebut untuk bayar apartemen di Jakarta," ujarnya.

"Oleh karena itu, saya ingin mengingatkan agar kita jangan percaya begitu saja kepada orang sampai dengan mudahnya mentransfer uang dalam jumlah ribuan dolar," tukas Didi.

Artikel Selanjutnya
Diduga Memeras, Polisi Tangkap Kades Hambalang Bogor
Artikel Selanjutnya
Pria Sukoharjo Gelapkan Uang Jual Beli Sapi Kurban hingga Rp 1 M