Sukses

Pesawat Jatuh di Lahan Milik Ratu Inggris, 2 Awak Tewas

Liputan6.com, Norfolk - Sebuah pesawat ringan jatuh di lahan milik Ratu Inggris di Sandringham Estate, Norfolk. Dua orang tewas dalam kecelakaan tersebut.

Seperti dikutip dari News.com.au, Rabu (13/9/2017), pilot berusia 50-an dan penumpang wanita berusia 70-an meninggal saat pesawat jenis Piper PA-28 terbang rendah lalu jatuh di atas lahan rawa sebuah area perumahan milik Ratu Inggris di dekat Wolferton pada Senin 11 September 2017.

Polisi mengatakan, pasangan tersebut dinyatakan tewas di lokasi kejadian. Kini Air Accidents Investigation Branch (AAIB) atau badan investigasi kecelakaan udara setempat tengah menyelidiki peristiwa tersebut.

"Penyidik kami sudah berada di tempat kecelakaan, mengumpulkan bukti serta melakukan investigasi," kata juru bicara AAIB.

"Kami berharap dapat mengevakuasi pesawat segera, dan membawanya ke fasilitas kami di Farnborough (di Hampshire). Pemeriksaan terperinci akan dilakukan di sana seiring penyelidikan yang dilakukan," jelas jubir tersebut.

Wolferton terletak di dalam Sandringham Estate dan berada di dekat pantai sisi utara Norfolk.

Saat kecelakaan, Ratu Elizabeth diperkirakan sedang tak berada di lokasi tersebut.

1 dari 2 halaman

Kecelakaan Pesawat Menewaskan Presiden

Sebelumnya, sebuah kecelakaan pesawat dilaporkan pernah menewaskan 2 presiden sekaligus.

Kapal terbang yang mengangkut Presiden Rwanda Juvenal Habyarimana dan Presiden Burundi Cyprian Ntayamira pada 6 April 1994 itu ditembak rudal dari darat ketika hendak mendarat di Bandara Internasional Kigali, Rwanda. Kedua pemimpin negara Afrika itu tewas seketika.

Selain itu, 7 pejabat kedua negara yang juga berada di pesawat, serta 3 kru pesawat, dilaporkan tewas. Mereka yakni Menteri Tenaga Kerja Burundi Bernard Ciza, Menteri Komunikasi Burundi Cyriaque Simbizi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rwanda Jenderal Deogratias Nsabimana, petinggi militer Rwanda Mayor Thaddee Bagaragaza.

Kemudian, ada Sekretaris Presiden yang juga Kepala Kabinet Militer Rwanda, Kolonel Elie Sagatwa, penasihat hubungan luar negeri Rwanda Juvenal Renaho, dan dokter pribadi Presiden Rwanda Emmanuel Akingeneye.

Kejadian tersebut terjadi ketika Presiden Juvenal Habyarimana dan Presiden Cyprian Ntayamira kembali dari pertemuan pemimpin Afrika Timur dan Tengah di Tanzania yang fokus membahas upaya penyelesaian kekerasan terhadap etnis di Burundi dan Rwanda.

Menurut saksi mata, rudal pertama mengenai sayap pesawat presiden buatan Dassault Falcon tersebut. Dan rudal kedua menghantam ekor. Pesawat terbakar dan meledak di udara hingga akhirnya jatuh di taman Istana Presiden Rwanda.

Duta besar (Dubes) Rwanda untuk PBB kala itu, Jean Damascene Bizimana mengatakan bahwa insiden kecelakaan tersebut merupakan aksi pembunuhan. Demikian seperti dimuat BBC On This Day.

Penembakan terhadap pesawat tersebut memicu situasi buruk di kedua negara, baik Rwanda maupun Burundi. Pertempuran yang diduga melibatkan kelompok RPF dan pasukan pemerintan bergolak di sekitar istana. Konflik ini meluas hingga terjadinya genosida di Rwanda dan Perang Kongo.

Artikel Selanjutnya
3-9-1998: Tragedi Pesawat Swissair Jatuh dan Meledak di Pesisir
Artikel Selanjutnya
1-9-1983: AS Tuduh Uni Soviet Dalang Jatuhnya Korean Airlines