Sukses

Eks-Navy SEAL: Lawan Korut Pakai 25 Juta iPhone dan WiFi Gratis

Liputan6.com, Washington, DC - Pekan lalu, akun Twitter Jocko Willink menerima pertanyaan yang cukup eksentrik. Pria yang saat ini bekerja sebagai penulis dan kontributor untuk kantor berita Amerika Serikat itu dimintai pendapatnya tentang Korea Utara.

Pemilik akun Twitter @Blak3Johnson bertanya kepada @jockowillink, "bagaimana menurutmu kita harus menangani isu Korea Utara?".

Uniknya, Willink, yang merupakan mantan anggota pasukan khusus angkatan laut AS Navy SEAL, tidak memberikan saran opsi militer untuk menangani Korut.

Membalas tweet @Blak3Johnson, @jockowillink justru menulis, "jatuhkan 25 juta iPhone dan berikan mereka satelit yang mampu menyediakan akses WiFi gratis. Demikian seperti dikutip dari Independent, Rabu (12/9/2017).

Meski usulan yang disampaikan Willing terasa di luar nalar, seorang pakar yang mendalami isu Korea Utara justru menilai, intisari gagasan tersebut sesungguhnya sangat masuk akal, yakni untuk memberangus kuatnya propaganda rezim Kim Jong-un.

"Kim Jong-un pasti memahami, ketika arus informasi mengalir deras ke negaranya, dan warga Korut mulai menyadari segala ketertinggalan yang mereka alami, maka rezim Kim akan runtuh," jelas Yun Sun dari Stimson Center, firma analis yang berbasis di Washington DC.

"Atas alasan itu, sebisa mungkin Korut akan menolak segala upaya terkait hal tersebut," tambahnya.

Sun juga menyebut, upaya yang hampir mirip seperti gagasan Willink, pernah dilakukan oleh Korea Selatan, yakni dengan menjatuhkan pamflet berita dan DVD via udara ke Korea Utara.

Menurut Yun, tindakan itu justru dibalas oleh Korut dengan aksi militer, mengindikasikan bahwa rezim Kim Jong-un sangat mengkhawatirkan hal-hal seperti itu serta menganggapnya sebagai gangguan atas propaganda pemerintah.

"Maka besar kemungkinan Korut akan menolak gagasan pengiriman iPhone tersebut," tambah analis untuk Stimson Center itu.

 

1 dari 2 halaman

Situs Propaganda Korea Utara Mulai Ditutup

Situs berbagi video, YouTube, memutuskan untuk menutup dua akun propaganda Korea Utara. Mereka menyatakan, kedua channel itu melanggar aturan.

Kedua akun itu adalah Stimmekoreas dan Uriminzokkiri. Masing-masing memiliki 20.000 dan 18.000 pelanggan. Keduanya kerap mengunggah video dari televisi Korea ataupun rekaman lainnya untuk menarik perhatian penonton.

Namun, penutupan itu dikritik habis-habisan oleh akademisi dan ahli Korea Utara. Demikian seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu 9 September 2017.

Pakar kontrol senjata, Jeffrey Lewis, menggunakan dua saluran itu untuk menganalisis video peluncuran rudal. Lewis juga bisa lebih memahami kemampuan nuklir rezim tersebut. Dia mendesak YouTube untuk mencabut keputusannya demi kepentingan keamanan nasional.

"Korea Utara adalah negara dengan senjata termonuklir yang memiliki ICBM [rudal balistik antarbenua] yang bisa mencapai Amerika Serikat. Sangat penting untuk memahaminya meski kita tidak menyukainya," katanya.

"Untuk memahami mereka dimulai dengan menganalisis propaganda mereka. Meskipun tendensius, Anda bisa belajar banyak tentang sebuah negara dari kebohongan yang mereka ceritakan."

Stimmekoreas diyakini dioperasikan oleh seorang pendukung Korea Utara yang tinggal di luar negeri dan mengirimkan video resolusi tinggi propaganda negara dari media corong Pyongyang, KCNA. Saluran ini kerap menggunakan berbagai bahasa untuk menargetkan orang asing.

Sementara, Uriminzokkiri terkait langsung dengan sayap propaganda Korea Utara, dan mengirimkan konten yang tampaknya menargetkan warga Korea Utara yang tinggal di luar negeri.

Akademisi menggunakan rekaman resmi peluncuran rudal untuk menilai seberapa kuat persenjataan yang dimiliki Korea Utara itu.

Mereka juga bisa belajar tentang senjata dari mesin dan bagian yang terlihat dalam video tur pabrik oleh pemimpin tertinggi Kim Jong-un.

"Ketika dia mengunjungi pabrik di antah-berantah dan menatap peralatan mesin, ini memberi wawasan penting tentang kemajuan yang mereka buat," tambah Lewis, yang juga Direktur Program Nonproliferasi Asia Timur di Middlebury Institute of International Studies.

Video resolusi tinggi Stimmekoreas sangat berguna untuk jenis analisis ini.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Galaxy Note 8 Meluncur dengan Dua Paket Penjualan, Pilih Mana?
Artikel Selanjutnya
Resmi, Galaxy Note 8 Dibanderol Rp 13 Juta di Indonesia