Sukses

6 Perangkat Bionik Ini Bisa Gantikan Bagian Tubuh Manusia

Liputan6.com, Jakarta - Pada 1974, pernah hadir serial terkenal 'The Six Million Dollar Man' tentang seorang astronot bernama Steve Austin yang beberapa bagian tubuhnya diganti dengan perangkat buatan.

Perangkat-perangkat bionik itu dipasang setelah si astronot mengalami cedera parah setelah ledakan pesawat eksperimen yang diawakinya.

Sekarang, sekitar 40 tahun kemudian, perangkat-perangkat bionik bukan lagi sekadar cerita film. Misalnya beberapa perangkat yang dipasangkan kepada para veteran perang dan korban ledakan bom Boston.

John Simpson yang berusia 60-an menderita polio sejak berusia 2 tahun. Hingga beberapa tahun lalu, ia menggunakan penopang kaki berteknologi rendah.

Sekarang ia menggunakan penopang berbahan karbon dilengkapi komputer berteknologi Bluetooth dan menggunakan baterai isi ulang. Ia pun bisa bebas bergerak.

Hailey Daniswicz menggunakan kaki bionik yang bergerak sesuai perintah dari saraf di paha kiri. Wanita itu kehilangan bagian kaki kiri mulai dari atas dengkul karena kanker.

Levi Hargrove, pemimpin proyek Center for Bionic Medicine di University of Chicago, mengakui bahwa mereka bertujuan menggabungkan manusia dengan mesin melalui pengukuran aktivitas listrik pada otot manusia seperti perangkat yang dipasangkan pada Daniswicz.

Hugh Herr, direktur Biomechatronics di Massachusetts Institute of Technology (MIT), menjelaskan, telah memasang kaki palsu bionik dengan dengkul dan kaki canggih yang dibuat meniru model otot pemakai.

Penari balet profesional Adrianne Haslet-Davis kehilangan bagian bawah kaki kiri karena ledakan bom Boston. Sekarang ia bahkan bisa menari lagi dengan kaki bionik buatan MIT yang bergerak sesuai perintah dari syaraf tulang belakangnya.

Selain tungkai, seperti diringkas dari listverse.com pada Selasa (12/9/2017), berikut ini adalah beberapa perangkat bionik pengganti bagian-bagian lain tubuh manusia:

1 dari 8 halaman

1. Mata

1. Mata

Teknologi bionik penglihatan untuk membantu pasien gangguan mata. (Sumber BBC News)

Karena gangguan degenerasi mata terkait usia, seorang pensiunan Inggris bernama Ray Flyinn kehilangan kemampuan membedakan wajah sejak 2009.

Pada 2015, mutu kehidupan pulih kembali setelah mendapat implan yang memancarakan video ke sel-sel sehat pada retina. Pemancar video itu sendiri terpasang pada kamera mungkil yang terpasang pada kacamata.

Ia sekarang bisa lagi mengenali wajah dan membaca. Menonton TV pun sudah lebih jelas. Ia bahkan bisa melihat walaupun sedang terpejam, karena pemancar video terus mengirim sinyal walaupun ia menutup mata.

Teknologi serupa membantu para penderita gangguan yang dikenal dengan retinitis pigmentosa.

Ahli optalmologi Paulo Stanga di Manchester Royal Eye Hospital mengatakan, "Teknologi ini bersifat revolusioner dan mengubah kehidupan pasien karena memulihkan sebagian fungsi penglihatan untuk membantu mereka hidup secara lebih mandiri."

2 dari 8 halaman

2. Telinga

2. Telinga

Syaraf auditori baru ditumbuhkan menggunakan teknologi sel punca. (Sumber 2) guinea-pic-cochlear-implant (UNSW Australia Biological Resources Imaging Laboratory/National Imaging Facility of Australia)

Dalam beberapa kasus, terapi gen mungkin bisa membantu teknologi bionik untuk memperbaiki pendengaran.

Hilangnya pendengaran kebanyakan terjadi pada sel-sel rambut dalam koklea dan pada syaraf auditori. Implan koklea memperbaiki keadaan ini melalui pemberian rangsangan pada saraf dengan menggunakan elektroda mungil.

Namun demikian, jika saraf auditori rusak, sinyal yang dikirim harus lebih kuat sehingga suaranya malah menggaung. Satu-satunya cara perbaikan adalah dengan memperbaiki saraf-saraf auditori.

Di sinilah terapi gen bisa berperan. Dalam beberapa tes, terapi gen berhasil menumbuhkan ulang saraf-saraf auditori yang telah layu.

Jeremy Pinyon, seorang ilmuwan auditori di University of New South Wales, bersama-sama timnya memberikan neurotropfin kepada sel-sel telinga dalam pada marmot yang tuli.

Penambahan neurotropfin, yaitu protein regenerasi syaraf, memungkinkan hewan tersebut mendengar lagi.

Prosedur demikian memang belum siap untuk penggunaan klinis dalam waktu dekat, tapi hasilnya menjanjikan cara menghasilkan telinga bionik dengan memanfaatkan terapi gen.

3 dari 8 halaman

3. Gigi

Para peneliti mendapati bahwa bahan baru itu mampu membunuh 99% bakterinya. Padahal, polimer resin biasa hanya mampu membunuh 1% bakteri.

Kemampuan regenerasi gigi dan pencegahan lubang gigi menggunakan teknologi bionik akan dimungkinkan dalam waktu dekat.

Menurut Dr. Ana Angelova Volponi, penggantian gigi dengan zat bioaktif telah mengalami kemajuan pesat berkat pemanfaatan sel punca gigi dewasa.

Walaupun pengembangan gigi bio dimungkinkan, para pakar berbeda pendapat tentang kepraktisan pengembangan gigi sebagai praktik rutin kedokteran gigi.

Di tengah perbedaan pandangan, penelitian dilanjutkan dengan melibatkan pencetakan 3 dimensi (3D printing), agar di masa depan kita bisa menumbuhkan gigi pengganti.

4 dari 8 halaman

4. Tangan

Tangan bionik. (Newcastle University)

Pada 2006, film Pans Labyrinth menampilkan sosok dengan telapak tangan yang memiliki mata. Kenyataannya, sekarang telah ada prostesis tangan yang menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) untuk 'melihat' benda-benda.

Niat pengguna untuk memungut benda dikirimkan dalam bentuk denyut-denyut listrik kepada tangan buatan. Tangan menanggapi dengan cara mengambil foto benda itu.

Lalu, tangan tesebut mencocokkan satu di antara empat posisi untuk mencengkeram dan mengangkat benda.

Tangan buatan tersebut dilatih mengenali 500 benda berbeda. Tiap benda ditampilkan dalam 72 foto untuk mencirikan sudut-sudut dan latar belakang berbeda. Melalui serangkaian uji, tangan buatan belajar posisi cengkeram terbaik untuk suatu benda.

Sekarang ini, tangan buatan yang dimaksud masih berupa purwarupa (prototype). Selama diuji oleh dua pengguna yang mengalami amputasi, keberhasilannya mencapai 90 persen.

Untuk bisa dipakai umum, angka kesuksesannya harus 100 persen. Para peneliti berhadap agar algoritma baru bisa membantu meraih sasaran. Perangkat itu juga akan dibuat lebih ringan dan kameranya akan ditaruh di telapak tangan, bukan di punggung tangan.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

5 dari 8 halaman

5. Pankreas

Aplikasi iPhone untuk pemantauan pankreas bionik. (Sumber Healthline)

Pankreas bionik temuan para peneliti Massachusetts General Hospital dan Boston University mengukur kadar gula darah secara otomatis dan mengeluarkan insulin sesuai kebutuhan.

Suatu sensor ditanam di bawah kulit pasien untuk memantau kadar gula darah dalam jejaring pemakai, lalu mengunggah data kepada aplikasi iPhone. Setiap 5 menit, aplikasi akan menghitung jumlah insulin yang dibutuhkan, lalu mengeluarkan zat itu melalui suatu pompa.

Tidak perlu menentukan jumlah karbohidrat yang dimakan dalam setiap kudapan atau menuliskan jumlah kepada perangkatnya. Si pemakai hanya perlu menjelaskan apakah porsi makanan seperti biasa, lebih dari biasa, kurang dari biasa, atau ukuran kecil, baik untuk sarapan, makan siang, atau makan malam.

Pengujian pada penderita diabetes dewasa dan remaja menunjukkan bahwa kandungan gula darah mereka menjadi lebih baik ketika menggunakan pankreas bionik dibandingkan dengan perawatan yang biasa.

Setelah beberapa uji lanjutan, pankreas bionik bisa menjadi cara baru pemantauan dan pengendalian kadar gula darah pada para pasien diabetik.

6 dari 8 halaman

6. Kerangka Luar (Eksoskeleteon)

Konsep kerangka luar untuk membantu pasien lumpuh. (Sumber Ekso Bionic)

Kemajuan teknologi bionik memungkinkan pengembangan kerangka luar (eksoskeleton) bionik. Kerangka luar itu dipasang di sekujur tubuh dan membantu pemakainya berjalan.

Misalnya, seperti korban kecelakaan snowmobile bernama Kevin Oldt. Akibat kecelakaan, ia sempat bergantung pada kursi roda.

Sekarang ia menggunakan kerangka luar yang merupakan gabungan dari pegas, sensor, tali, dan perangkat lunak yang membantu kebutuhannya secara spesifik.

Ketika Oldt mulai dibantu tongkat, empat motor listrik pada kerangka itu membantu menegakkan tubuhnya. Kakinya pun dibantu oleh eksoskeleton yang mengukur daya ketika ia mengangkat kaki.

Pada April 2016, wewenang obat dan makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration, FDA) memberi izin penggunaan eksoskeleton sejenis itu untuk penggunaan oleh para pasien strok dan cedera saraf dari leher ke bawah.

7 dari 8 halaman

7. Ekor

Ekor putri duyung bionik. (Sumber Weta Workshop)

Tidak banyak orang yang memerlukan ekor, kecuali dengan kondisi khusus.

Nadya Vessey dari Auckland, Selandia Baru, mengalami cacat sejak lahir sehingga kaki-kakinya tidak berkembang sempurna dan harus menjalani amputasi pada usia 16 tahun.

Ketika berusia 50 tahun, seorang remaja yang melihatnya melepas kaki palsu mempertanyakan tentang kaki-kaki aslinya. Wanita itu menjawab bahwa ia adalah seorang putri duyung.

Vessey malah mendapat inspirasi dari perbincangan itu dan menulis surat kepada Weta Workshop, perusahaan special effect pemenang Oscar yang juga menciptakan visual effect untuk The Chronicles of Narnia dan King Kong.

Ia meminta dibuatkan ekor putri duyung. Perusahaan itu kemudian membuatkan ekor dari bahan baju selam (wet suit) dan cetakan plastik.

Dengan ekor itu, Vessey bisa berenang dengan anggun tanpa tertatih-tatih seperti ketika mengenakan prostesis.

Ekor itu dibuat khusus untuk Vessey, lengkap dengan 'tulang belakang' dari bahan polikarbonat, sirip ekor, dan pola sisik cetakan digital.

Vessey sekarang menggunakan ekor bionik itu untuk bertanding renang triatlon.

Artikel Selanjutnya
5 Tanda Penglihatan Ini Menandakan Kesehatan Tubuh
Artikel Selanjutnya
Kesehatan Anda Bisa Terdeteksi Dari Bentuk Bokong