Sukses

Studi: Kekerasan Domestik Memicu Obesitas pada Remaja

Liputan6.com, Durham - Banyak di antara kita yang berpaling kepada makanan untuk mendapatkan kenyamanan untuk melepas stres atau mengatasi kesedihan.

Makanan pembuat nyaman (comfort food) itu biasanya jenis yang manis, gorengan, atau berkeju.

Ternyata, menurut para peneliti Duke University, remaja-remaja yang terpapar kepada kekerasan juga berpaling kepada makanan demikian. Laporan penelitian sudah diterbitkan dalam jurnal Social Science & Medicine.

Dikutip dari Ozy pada Senin (11/9/2017), para peneliti merekrut 151 remaja berisiko yang berusia antara 12 hingga 15 tahun dari lingkungan-lingkungan berpenghasilan rendah di California.

Para peserta diberi telepon genggam berisi program yang meminta mereka mengisi survei 3 kali dalam sehari selama 30 hari. Mereka diminta melaporkan paparan kepada perkelahian fisik yang terjadi baik di rumah, sekolah, lingkungan atau tempat manapun.

Para peserta juga melaporkan konsumsi makanan siap saji (fast food), soda dan minuman berkafein, asupan buah dan sayuran, jumlah kegiatan fisik, jumlah jam dan kualitas tidur, serta derajat kelelahan.

Penelitian tersebut menemukan ada suatu hubungan antara reaksi perilaku dengan kekerasan, demikan menurut Joy Piontak, Ph.D, cendekiawan yang terafiliasi dengan Sanford School of Public Policy, Duke University.

Wanita yang juga menjadi pimpinan penelitian mengatakan bahwa sejumlah penelitian sebelumnya telah mendapati bahwa anak-anak yang terpapar kepada kekerasan domestik lebih berkemungkinan menjadi kegemukan di masa depan.

Penelitian teranyar tersebut memang tidak menanyakan apakah peserta menyaksikan kekerasan melalui media atau perminan video. Tapi, menurut Piontak, jenis paparan seperti itu mungkin tidak memicu tanggapan emosional yang membuat seorang remaja merasa tidak aman.

Penelitian lebih menekankan pada kebutuhan untuk mengerti apa yang terjadi pada kehidupan kaum remaja agar membantu mereka menyerap perilaku yang lebih sehat, demikian ditambahkan oleh sang peneliti.

Ilustrasi Kekerasan Pada Anak (iStockphoto)

Penelitian itu mungkin bisa memberikan pengertian tentang cara membantu mencegah obesitas remaja.

Menurut mantan juru rawat bedah Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) bernama Dr. A.J. Marsden, penelitian mengungkapkan bahwa kaum remaja berpaling kepada makanan tidak sehat yang penuh gula untuk mengatasi stres karena terpapar pada kekerasan.

Asisten profesor di Beacon College, Leesburg, Florida itu melanjutkan, "Gula mencetuskan neurotransmitter rasa enak (feel-good) dalam otak kita, sehingga membantu mengurangi perasaan-perasaan negatif berkaitan dengan stressor (penyebab stres).”

Semua gula itu bisa mengarah kepada obesitas, tapi ada satu faktor negatif lagi.

Dr. Sophia Yen dari Teen and Young Adult Clinic, Stanford University, mengatakan bahwa stres meningkatkan produksi kortisol dalam tubuh.

Padahal kortisol memberi sinyal bagi penghentian metabolis sehingga penurunan berat hampir mustahil terjadi, demikan menurut Dr. Carolyn Dean, seorang penulis buku "Kids' Health: A Doctor's Guide for Parents."

Jadi, ketika kaum remaja stres itu melahap lebih banyak kalori untuk kenyamanan mental, reaksi fisik tubuh mereka malah menghentikan pemrosesan kalori itu secara efisien. Dengan demikian, berat tubuh pun bertambah.

 

1 dari 2 halaman

Cara Penanggulangan Stres

Ilustrasi Meditasi (iStockphoto)

Lalu bagaimana? Bukankah kita tidak dapat mengendalikan sumber-sumber stres kita, misalnya paparan kepada kekerasan?

Oleh karena itu, menurut Dr. Yen, "Kita perlu mengajari kaum remaja dan diri kita cara-cara lebih sehat untuk menghadapi stres."

Untuk itu, ia menganjurkan "meditasi, olah raga, menulis…mengobrol dengan teman-teman, memeluk dan menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita."

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Pakai Plester ini, Hasrat Seksual Wanita Menopause Berkobar Lagi
Artikel Selanjutnya
Studi: Nyaris 80 Persen Pria Korsel Menganiaya Kekasih