Sukses

Kisah 2 Pertempuran Paling Berdarah di Tengah Perang Dunia II

Liputan6.com, Jakarta - Perang habis-habisan terjadi sepanjang sejarah, hampir di semua peperangan yang dilakukan manusia.

Ada beberapa alasan mengapa seorang prajurit memilih bertempur hingga titik darah penghabisan, bukannya mundur atau menyerah kalah.

Beberapa di antara mereka memandang mulia tugasnya untuk tidak pernah mundur, bahkan ketika dihadapkan pada kemungkinan terburuk.

Ada juga mencoba melakukan sebisa mungkin sebelum bantuan datang atau memang mengupayakan mempertahankan lokasi taktis yang penting.

Perang Dunia II merupakan salah satu perang paling mematikan dalam sejarah dan beberapa kali terjadi pertempuran habis-habisan.

Disarikan dari Listverse.com pada Sabtu (9/9/2017), berikut ini adalah dua pertempuran habis-habisan yang paling terkenal selama Perang Dunia II:

1 dari 3 halaman

1. Rumah Pavlov di Stalingrad, 1942

Operasi Barbarossa merupakan kekuatan invasi terbesar sepanjang sejarah. Operasi itu melibatkan 4 juta pasukan Axis  (Poros) dan sekitar 600 ribu kendaraan bermotor dalam upaya menduduki Uni Soviet.

Garis depan utara-selatan operasi itu membentang sekitar 3.000 kilometer.

Pada tahap awal, pihak Soviet segera kehilangan wilayah yang sekarang adalah Ukraina, Belarus, dan negara-negara Baltik. Kawasan-kawasan itu merupakan yang paling padat penduduk dan paling maju industrinya.

Peta serangan Operasi Barbarossa dalam Perang Dunia II, salah satu invasi paling besar dalam sejarah. (Sumber Wikimedia Commons)

Pasukan Soviet pun tercerai-berai.

Di selatan, Hitler memutuskan untuk mencaplok kawasan Kaukasus yang kaya minyak, tapi kemudian mengalihkan Angkatan Darat ke-6 menuju Stalingrad.

Kota itu tidak memiliki kepentingan strategis, tapi memiliki nama Joseph Stalin, sang diktator Uni Soviet. Peperangan yang dikira akan dimenangkan secara mudah ternyata menjadi salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah manusia.

Pihak Soviet melakukan pertahanan mati-matian dan berperang di setiap jengkal kota. Mereka kebanyakan didatangkan dari tepi barat Volga di Stalingrad. Wilayah sempit di pinggir sungai itu masih berada di bawah kendali Rusia.

Di sanalah terletak apartemen empat lantai yang dikenal sebagai Rumah Pavlov. Lokasinya luar biasa, tepat di sisi kanan alun-alun besar dengan pandangan ke segala sisi.

Operasi Barbarossa dalam Perang Dunia II, salah satu invasi paling besar dalam sejarah. (Sumber Wikimedia Commons/Bundesarchiv Bild 101I-265-0026A-30)

Sekitar 30 tentara Soviet yang dipimpin oleh Sersan Madya Yakov Pavlov memperkuatnya sebisa mungkin. Mereka juga menebar ranjau dan mendirikan kawat duri di sekitar bangunan.

Karena jalur pasokan berada di seberang sungai, pasukan itu berhasil bertahan dari beberapa gelombang serangan Jerman. Mereka memiliki senapan mesin di setiap jendela dan senapan anti-tank serta mortir di atap.

Bangunan itu dikepung beberapa kali tiap hari selama 2 bulan, tapi pasukan Jerman tidak pernah berhasil merebutnya. Bantuan datang pada 25 November 1942 dalam rupa serangan balik pasukan tank oleh pihak Soviet.

Jenderal Vasily Chuikov dengan berguyon mengatakan bahwa pihak Jerman kehilangan lebih banyak pasukan dan tank ketika mencoba merebut rumah Pavlov daripada ketika merebut Paris.

Begitulah, seandainya rumah itu direbut pihak Jerman, maka pihak Soviet akan lebih susah lagi menggalang serangan balik dari seberang sungai. Jika mereka kalah dalam Perang Stalingrad, maka kemungkinan seluruh Uni Soviet akan jatuh ke tangan Nazi.

Peperangan itu menjadi titik balik Perang Dunia II.

Grup Panzer III Nazi Jerman saat Operasi Barbarossa dalam Perang Dunia II, salah satu invasi paling besar dalam sejarah. (Sumber Wikimedia Commons)

2 dari 3 halaman

2. Pemberontakan Ghetto di Warsawa, 1943

Pemberontakan ghetto di Warsawa, Polandia, 1943. (Sumber Wikimedia Commons)

Sebagai salah satu bagian darai "Solusi Akhir", maka semua kaum Yahudi yang ada dalam wilayah pendudukan Jerman selama Perang Dunia II wajib dihimpun dalam beberapa ghetto lokal sebelum dibawa ke kamp-kamp pemusnahan.

Hal yang sama terjadi di ghetto Warsawa, Polandia. Letaknya di kawasan kota tua berpenduduk Yahudi yang kemudian dikelilingi dengan kawat berduri dan belakangan diganti dengan tembok bata setinggi 3 meter.

Kawasan itu luasnya hanya 3,4 kilometer persegi. Akan tetapi, pada 1942, ghetto sesempit itu dijejali lebih dari 500 ribu kaum Yahudi.

Kondisi kehidupan di dalam benar-benar merana. Rata-rata ada sembilan orang dalam setiap kamar ghetto. Sisanya tinggal di lorong-lorong dan tangga-tangga. Kelaparan dan penyakit pun melanda.

Sejak Juli 1942, pihak Nazi mengirim sekitar 5.000 orang per hari ke kamp pemusnahan Treblinka. Menjelang akhir September, hanya tersisa 55 ribu kaum Yahudi di sana.

Kemudian, pada Januari 1943, Heinrich Himmler mengunjungi ghetto dan memerintahkan deportasi 8.000 kaum Yahudi.

Keputusan itu mengagetkan penghuni sehingga mereka bukannya melapor diri seperti diperintahkan, tapi malah bersembunyi di tempat-tempat rahasia yang mereka ciptakan ketika dikurung dalam ghetto.

Perlawanan kaum Yahudi yang terbangun dalam ghetto mulai menyusun diri mereka untuk memulai serangan.

Pemberontakan ghetto di Warsawa, Polandia, 1943. (Sumber Wikimedia Commons)

Pihak Jerman tidak kembali lagi ke ghetto hingga 19 April saat Himmler menggelar operasi pembersihan khusus demi menghormati hari ulang tahun Hitler pada 20 April.

Secara kebetulan, tanggal 19 April merupakan hari Passover ketika bangsa Yahudi merayakan pembebasan dari perbudakan di Mesir.

Lebih dari 2.000 tentara Jerman masuk ke dalam kawasan di pagi hari, dibantu dengan tank dan senapan-senapan mesin.

Perlawanan dilakukan oleh lebih dari 1.500 orang yang menggunakan apa pun yang ada, terutama pistol ditambah beberapa senapan, satu senapan mesin, dan beberapa bom buatan sendiri.

Pihak Jerman mundur di malam hari, tapi kembali lagi pada pagi di keesokan hari. Kali ini pihak Jerman menggunakan bom-bom asap, anjing-anjing penyerang, dan penyembur api (flamethrower).

Pemberontakan ghetto di Warsawa, Polandia, 1943. (Sumber Wikimedia Commons)

Pihak Jerman bermaksud mengosongkan ghetto dalam tiga hari, tapi ternyata perlu hampir sebulan untuk melakukannya.

Pada akhirnya, beberapa ratus tentara Jerman kehilangan nyawa dan lebih dari 40 ribu warga Yahudi ditangkap. Di antara mereka yang tertangkap, 7.000 orang langsung ditembak di tempat, sekitar 22 ribu orang dikirim ke kamp-kamp kematian. Sisanya dibawah ke kamp-kamp kerja paksa.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
6-9-1915: Untuk Pertama Kali Prototipe Tank Diproduksi
Artikel Selanjutnya
Top 3: Kisah 4 Pedang Paling Bersejarah