Sukses

Gelombang Pengungsi Rohingya Terus Mengalir ke Bangladesh

Liputan6.com, Dhaka - Etnis Rohingya menjadikan Bangladesh sebagai tujuan utama mereka untuk menyelamatkan diri dari kekerasan yang terjadi di Rakhine, Myanmar.

Gelombang masuknya pengungsi Rohingya ke Bangladesh berlangsung sejak konflik pecah pada 25 Agustus 2017. Semenjak itu, ribuan orang telah menyeberangi perbatasan.

Dua pekan setelahnya, situasi tidak berubah. Perbatasan Myanmar dan Bangladesh yang dipisahkan Sungai Naf, di Hnila, dekat Teknaf, tetap penuh sesak dengan warga Rohingya.

Jumlah warga Rohingya diperkirakan mencapai ribuan. Sementara, kondisi di perbatasan dilaporkan semakin parah. Warga Rohingya dilanda kelaparan dan didera sejumlah penyakit yang membutuhkan penanganan segera.

Salah seorang jurnalis Dhaka Tribune yang berada di perbatasan Hnila, mengatakan, kondisi di wilayah itu begitu memprihatinkan.

"Sudah ada ribuan orang yang menyeberang. Asap membumbung tinggi di perbatasan sepanjang hari ini," ucap dia seperti dikutip dari Dhaka Tribune, Selasa (5/9/2017).

Seorang aktivis HAM, Nur Khan, mengatakan, dari data PBB, ada 90 ribu warga Rohinya yang kabur ke Bangladesh. Namun, jumlah itu kemungkinan besar tidak tepat.

Perhitungan beberapa relawan serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyebut hampir 200 ribu warga Rohingya yang menyeberang ke Bangladesh.

"Aliran kedatangan warga Rohingya ke Bangladesh seperti air," ucap Nur.

1 dari 2 halaman

Menlu Retno ke Bangladesh

Usai melakukan sejumlah pertemuan di Myanmar, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melanjutkan lawatannya ke Bangladesh.

Rencananya, Menlu Retno akan bertemu Perdana Menteri Bangladseh Sheikh Hasina dan Menteri Luar Negeri Shahidul Haque. Pembahasan mengenai nasib Rohingya jadi fokus utama. Demikian dilansir dari Bangladesh News 24.

Menanggapi masalah Rohingya, Bangladesh sempat mengambil langkah kontroversial dengan menutup perbatasannya.

Langkah Bangladesh itu direspons Turki. Menlu Turki, Mevlut Cavusoglu, meminta Bangladesh membuka perbatasannya untuk Rohingya. Semua biaya siap ditanggung Turki.

"Kami juga akan berkomunikasi dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan berencana menggelar pertemuan tahun ini guna membicarakan isu ini, untuk mendapatkan solusi definitif," papar Menlu Covusoglu.

Di Myanmar, Menlu Retno telah bertemu State Counsellor sekaligus pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Indonesia menawarkan formula 4+1 untuk menyelesaikan krisis Rohingya.

Empat elemen yang dimaksud adalah mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, dan perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku serta agama. Yang terakhir, pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan.


Simak video keberangkatan Menlu Retno ke Bangladesh