Sukses

5 Pembantaian Atas Nama Sihir di Masa Modern

Liputan6.com, Jakarta - Ketika kita mendengar kata pembantaian dukun, kita teringat kisah-kisah pada masa lalu sejarah.

Berdasarkan acuan modern, kepercayaan yang tidak masuk nalar di masa lalu bisa mengundang eksekusi orang tak bersalah yang secara sembarangan dituduh oleh warga.

Ternyata, pembantaian tersangka dukun ataupun pelaku ilmu hitam lainnya masih terjadi hingga sekarang.

Pada pertengahan Agustus lalu, 32 warga Tanzania diseret ke pengadilan untuk mempertanggunjawabkan pembakaran hidup-hidup terhadap lima wanita yang dituduh sebagai penyihir.

Bukan hanya di Afrika, perburuan orang-orang tertuduh sebagai tukang sihir masih terjadi di berbagai bagian dunia hingga saat ini, seperti diringkas dari listverse.com pada Senin (4/9/2017) berikut:

1 dari 6 halaman

1. Kabur 11 Tahun

Pada 2009, Santiago Iniguez Olivares ditangkap dengan tuduhan pembunuhan 11 tahun sebelumnya. (Sumber Kantor Jaksa Agung Michoacan)

Pada April 1998, seorang pria menerobos masuk rumah Modesta Navarro Nieves di desa Guadalupe del Cobre, Meksiko, dan menuduh wanita itu mengirimkan kutukan sihir terhadap dirinya.

Pria itu kemudian menghajar wanita tersebut hingga tewas walaupun sempat rehat sejenak ketika suami wanita itu tiba di rumah. Tersangka juga kemudian menyerang suami korban, lalu kabur dari tempat kejadian.

Setelah 11 tahun kemudian, pria bernama Santiago Iniguez Olivares itu diseret ke pengadilan. Olivares yang saat itu berusia 78 tahun pulang ke desa sunyi tersebut karena menyangka kasus pembunuhan tersebut sudah dilupakan warga.

Penangkapan dirinya terjadi setahun sesudah pembantaian seorang wanita di Meksiko tengah oleh seorang wanita lain yang mengaku dirinya kesurupan akibat serangan seorang dukun.

2 dari 6 halaman

2. Ramuan Halusinogenik dan Penyiksaan

Ilustrasi bahan-bahan ramuan sihir. (Sumber Pixabay)

Gambia adalah sebuah negara kecil yang terletak di Afrika Barat. Pada 2009, negeri itu melancarkan kampanye anti-sihir untuk membasmi penyihir dan tukang tenung.

Perintah kekejian itu datang dari penguasa negara yang meminta dirinya dipanggil sebagai "Yang Mulia Presiden Profesor Dr. Al-Haji Yahya Jammeh."

Perburuan dilakukan dari desa ke desa oleh para "dokter sihir" yang didampingi oleh polisi, tentara, dan pihak keamanan. Sekitar 1.000 warga desa ditangkap di bawah todongan senjata, lalu digelandang ke tempat-tempat rahasia.

Di sana, para tertuduh dipaksa minum ramuan pemicu halusinasi. Mereka yang tidak tewas karena ramuan disiksa dengan pisau, dipukuli, disundut rokok, dan dikejutkan dengan listrik.

Kebanyakan dari mereka yang tertuduh adalah kaum uzur dan tidak jelas berapa yang sudah dihabisi berdasarkan tuduhan tak masuk nalar tersebut.

Setiap orang yang mempertanyakan kebijakan itu kemudian menghilang, sehingga suasana ketakutan menyebar di seluruh negeri. Banyak wilayah menjadi kosong karena warga mengungsi ke Senegal.

3 dari 6 halaman

3. Voodoo di New York

Carlos Alberto Amarillo dijatuhi 2 hukuman seumur hidup karena membunuh 2 wanita yang dituduhnya melakukan voodoo. (Sumber New York Post)

Pada suatu malam dingin bulan Januari 2014, datang panggilan darurat kepada polisi New York. Panggilan datang dari kediaman Estrella Castaneda.

Ketika tiba di tempat kejadian, mereka bertemu dengan Carlos Alberto Amarillo sedang menunggu di jalan sambil memegang Alkitab.

Beberapa menit sebelumnya, pria yang saat itu berusia 44 tahun melakukan panggilan nomor darurat 911 untuk melaporkan dirinya yang baru saja membunuh dua wanita di dalam rumahnya.

Ketika masuk ke kamar tidur utama, polisi menemukan jasad Estrella terbaring di ranjang dengan bantal yang menutupi mukanya. Jasad putrinya yang bernama Lina ditemukan di kamar tidur belakang.

Dua korban telah dihantam berulang kali menggunakan palu.

Dalam laporan polisi, Amarilo mangaku bahwa ia membunuh ibu dan anak perempuannya itu karena mereka adalah penyihir yang "melakukan voodoo dan mengirimkan jampi-jampi kepada dirinya."

Dalam pengadilan, tim juri mendapati Amarillo bersalah telah membunuh kekasih dan putri kekasihnya. Ia diganjar 2 hukuman penjara seumur hidup.

4 dari 6 halaman

4. Kesatuan Anti-Sihir di Arab Saudi

Ilustrasi pria di Arab Saudi. (Reuters)

Pada 2011, seorang wanita bernama Amina bint Abdel Halim Nassar dari provinsi Qariyat, Arab Saudi, dihukum karena telah melakukan praktik sihir dan tenung.

Hukuman itu dijatuhkan setelah pihak berwenang menemukan beberapa botol berisi cairan yang "diduga dipakai untuk keperluan perdukunan" di rumahnya.

Beberapa sumber anonim mengadu kepada pihak berwenang bahwa Nassar menjual jampi-jampi dan botol-botol berisi cairan. Menurut hukum syariah ketat di negeri itu, upaya coba-coba dengan "ramuan" sejenis itu dapat dijatuhi hukuman mati.

Amnesty International sempat memohonkan pengampunan, tapi Nassar tetap dipancung. Hukuman pancung itu merupakan yang ke-2 dalam tahun yang sama setelah seorang warga Sudan dipancung di Medina setelah didakwa dengan tuduhan tenung.

Di Arab Saudi, kaum ulama berpendapat bahwa penyihir memang benar-benar mengendarai sapu dan mendapat bantuan dari jin ketika melakukan kejahatan.

Pada 2007, seorang ahli farmasi bernama Mustafa Ibrahim dipancung akibat praktik magis karena ia memasuki kamar mandi sambil memegang Al Quran.

Pada 2009, pemerintah Saudi meresmikan Kesatuan Anti-Sihir untuk mendidik warga tentang sihir dan tenung. Di akhir tahun yang sama, ada 118 orang yang dituduh setelah sumber-sumber tanpa nama mengadukan mereka "menggunakan kitab Allah secara menghina" sehingga menjurus kepada praktik perdukunan.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

5 dari 6 halaman

5. Wanita Hamil di Papua Nugini

Pada 2009, seorang wanita hamil di Papua Nugini dibakar hidup-hidup karena dituduh melakukan tenung yang menewaskan tetangganya. (Sumber Franciscans International)

Di Papua Nugini, pada 2008, seorang wanita hamil yang dicurigai melakukan tenung diseret keluar dari rumahnya oleh warga desa. Warga mempersalahkan wanita itu terkait kematian mendadak tetangganya.

Ia kemudian digantung di pohon dan selama beberapa jam ia berusaha membebaskan diri. Trauma yang dialaminya mengakibatkan ia mengalami persalinan.

Untunglah ibu dan anak selamat. Namun demikian, pada tahun yang sama ada 50 orang yang disiksa dan dibunuh secara semena-mena.

Kepercayaan tradisional masih kental ditaati di banyak kawasan negeri tersebut sehingga warga pribumi seringkali mempersalahkan orang tak bersalah terkait kematian yang tak dapat dijelaskan.

Padahal, ketidaktahuan itu lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan kedokteran.

Misalnya seperti suatu kasus pada 2009. Saat itu, seorang gadis remaja diseret oleh gerombolan orang menuju lapangan pembuangan sampah.

Di sana, ia ditelanjangi, diikat tangan dan kakinya, diikat ke batang kayu, lalu dibakar hidup-hidup di atas tumpukan ban.

Jasad tertuduh ditemukan setelah beberapa warga sekitar mencium bau daging terbakar menyebar di udara malam yang sepi.

Menurut PBB, sekitar 90 persen kasus HIV di kawasan Pasifik ada di Papua Nugini sehingga warga desa dengan gampangnya mengkaitkan wabah itu dengan sihir.

Artikel Selanjutnya
3 Orang Ini Ternyata Sosok yang Telah Mengubah Dunia
Artikel Selanjutnya
Top 3: Kisah 4 Pedang Paling Bersejarah