Sukses

Di Sini Lokasi Kuburan Satelit Uzur dan Tak Layak Digunakan

Liputan6.com, Jakarta - Baru-baru ini, sejumlah layanan ATM milik sebuah bank swasta nasional terganggu karena adanya masalah dengan satelit Telkom-1 yang mendukung jejaring komputer ATM.

Satelit Telkom-1 disebut-sebut telah melewati masa usia pakai selama 15 tahun. Lamanya masa pakai sendiri bergantung kepada ketersediaan bahan bakar yang dipakai untuk menyalakan roket penjaga posisi satelit di orbit.

Berdasarkan rancangan lazim satelit komersial, bahan bakar tersebut tersedia hanya untuk rata-rata 15 tahun. Setelah bahan bakar itu habis, satelit tidak lagi memiliki posisi yang tetap di orbit aslinya walaupun sistem komunikasinya masih beroperasi.

Dalam keadaan demikian, satelit masih bisa dipakai walaupun orbitnya sedikit melantur (mengalami orbit inklinasi atau inclined orbit). Diperlukan perangkat stasiun Bumi khusus dengan kesanggupan melacak pergerakan orbit yang agak melantur tersebut. Sistem sejaring ATM perbankan tidak bisa melakukannya.

Lalu, apa yang terjadi ketika tiba masanya satelit itu tidak bisa dipakai lagi?

Dikutip dari laman NASA pada Selasa (29/8/2017), sekarang ini ada dua pilihan untuk 'mengubur' satelit mati. Pilihannya tergantung ketinggian satelit.

Untuk satelit-satelit yang lebih dekat dengan Bumi, para insinyur menggunakan sisa-sisa bahan bakar untuk mengurangi kecepatannya melintas di orbit.

Dengan demikian, karena satelit melambat, ia akan terdepak turun dari lintasan orbit aslinya lalu ditarik gravitasi Bumi dan jatuh kembali ke Bumi. Ketika sedang jatuh, satelit itu pun habis terbakar di atmosfer.

Pilihan kedua adalah dengan mendorong satelit menjauhi Bumi. Pilihan ini biasanya dilakukan untuk satelit pada orbit sangat tinggi karena tindakan menjauhkan satelit memerlukan lebih banyak bahan bakar untuk mengarahkannya masuk ke atmosfer Bumi seperti yang terjadi pada pilihan pertama.

Artinya, pada satelit-satelit dengan orbit sangat tinggi, akan lebih hemat bahan bakar jika operator mendorongnya menjauh dari Bumi daripada menariknya masuk atmosfer.

1 dari 3 halaman

Logam Terbakar dan Kuburan Satelit

Lokosi di selatan Samudra Pasifik ini menjadi 'Kuburan Satelit'. (Sumber NASA)

Menyingkirkan satelit-satelit kecil pada orbit rendah lebih mudah. Panas akibat gesekan dengan udara membakar satelit itu ketika jatuh ke Bumi pada kecepatan ribuan kilometer per jam.

Akibat pembakaran itu, satelit pun habis terbakar.

Nah, apa jadinya dengan benda-benda lebih besar semisal stasiun-stasiun angkasa atau satelit lebih besar yang ada pada orbit rendah?

Benda-benda yang cukup besar itu mungkin tidak akan terbakar sampai habis sebelum menghempas Bumi.

Solusi untuk itu adalah dengan mengarahkan satelit ke kawasan yang tidak berpenghuni. Menurut istilah industri satelit, tempat itu diistilahkan sebagai Kuburan Satelit.

Sekarang ini, Kuburan Satelit terletak di selatan Samudra Pasifik.

 

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Orbit Kuburan

Ilustrasi rencana menggeser orbit satelit yang tidak terpakai lagi. (Sumber EUMETSAT)

Lalu bagaimana dengan satelit-satelit pada orbit lebih tinggi yang kita "usir" menjauh? Nah, lintasan orbit yang lebih jauh dari Bumi tersebut dikenal sebagai Orbit Kuburan.

Letak lintasan orbit sekitar 320 kilometer di atas ketinggian orbit satelit biasa atau setara dengan 36 ribu kilometer di atas permukaan Bumi.

Apakah 2 pilihan tersebut menjadi akhir bagi satelit-satelit? Menurut pandangan kita, itulah nasib akhir satelit-satelit yang sudah tidak terpakai lagi karena berbagai alasan.

Namun demikian, ada segelintir satelit yang masih terus berada di orbit untuk waktu yang sangat lama. Di masa depan mungkin manusia perlu mengirim wahana angkasa pemungut sampah-sampah angkasa tersebut.

Artikel Selanjutnya
6 Rumah Unik Tak Kasat Mata, Bikin Bengong yang Melihatnya
Artikel Selanjutnya
Meikarta, Apartemen Sekaligus Tempat Rekreasi