Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

6 Praktik Serupa Ritual Seks Gunung Kemukus di Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Baru-baru ini, sebuah ritual tradisional Indonesia menjadi sorotan dunia.

Tiap malam Jumat Pon dan Jumat Kliwon, orang-orang berdatangan ke Gunung Kemukus yang terletak di Desa Pendem, Sumber Lawang, Sragen, Jawa Tengah.

 

Di sana mereka melakukan ritual yang dipercaya dapat segera mendatangkan kesuksesan dan kekayaan

Laporan Liputan6.com sebelumnya menyebutkan bahwa peserta ritual biasanya menutup rangkaian upacara dengan hubungan seksual bersama lawan jenis yang bukan pasangan sah.

Tentu saja banyak yang menuding perilaku di Gunung Kemukus tak ubahnya ritual mesum.

Ternyata, selain Gunung Kemukus, ada sejumlah masyarakat dunia yang memiliki ritual seks unik. Berikut adalah 6 ritual yang dirangkum dari berbagai sumber:

1 dari 7 halaman

1. Suku Trobriander, Papua Nugini

Hiasan ukiran perahu pembawa roh warga suku Kepulauan Trobiand. (Sumber Wikimedia Commons)

Suku Trobiander di Papua Nugini mulai melakukan seks pada usia sangat dini. Anak lelaki memulainya pada usia 10 hingga 12 tahun, sedangkan anak perempuan melakukannya pada usia 6 hingga 8 tahun.

Walau terdengar mencengangkan bagi dunia luar, hal tersebut dilakukan tanpa mengundang tudingan tidak enak.

Menurut laman rebelcircus.com, kaum wanita anggota suku tersebut sangat agresif mencari-cari hubungan seks. Pakaian yang serba terbuka merupakan hal yang lazim dan seks sangat dianjurkan.

Suatu pernikahan lebih seperti pergi menginap ke rumah seorang pria setelah melakukan seks dengannya.

Yang menarik, seperti dikutip dari Oddee, berbagi makanan sebelum pernikahan merupakan hal yang dilarang. Artinya, pasangan tidak boleh pergi kencan makan bersama sebelum mereka menikah.

2 dari 7 halaman

2. Pulau Mangaia, Kepulauan Cook, Samudra Pasifik

Ilustrasi wanita Polinesia. (Sumber Pinterest)

Pulau Mangaia terletak di selatan Samudra Pasifik. Di pulau itu, anak lelaki mulai melakukan seks pada usia 13 tahun, segera sesudah disunat.

Ada beberapa praktik seks yang menarik dan semua itu menjadi bagian penting dalam masyarakat. Misalnya, kaum wanita yang lebih tua dilibatkan untuk mengajari pria-pria muda caranya memuaskan wanita.

Pengajaran itu penting karena, dalam sistem masyarakat Mangaia, kedudukan sosial seorang pria bergantung kepada jumlah orgasme yang diraihnya dalam semalam.

Bukan hanya pada kaum pria, tapi orgasme wanita juga dianggap sebagai hal yang penting. Secara budaya, pasangan-pasangan diminta melakukan seks setidaknya sekali dalam seminggu hingga mereka secara fisik tidak mampu lagi melakukannya.

Sebuah makalah University of Hawaii menuliskan bahwa warga Mangaia boleh melakukan hubungan seks saat usia berapapun di sebuah ruang dalam rumah tradisional yang juga dihuni oleh 5 hingga 15 anggota keluarga berbagai usia.

Kebanyakan tindakan seksual berlangsung tanpa pemberitahuan, sehingga anggota keluarga pun sekedar mengalihkan pandangan ketika ada pasangan yang sedang bersanggama.

3 dari 7 halaman

3. Kepulauan Marquesas, Samudra Pasifik

Ilustrasi wanita Polinesia. (Sumber Pixabay)

Kepulauan Marquesas merupakan bagian dari gugusan kepulauan Polinesia. Ritual seks di sana juga terbilang tidak biasa.

Warga menganjurkan simulasi seks antara anak-anak dengan orang dewasa dan bahkan melibatkan anak-anak dalam praktik seksual ketika mereka berusia 11 atau 12 tahun.

Ketika bertumbuh dewasa, anak-anak juga berbagi ruang dengan orangtua mereka dan diharapkan menyimak ketika orangtua sedang melakukan hubungan seks.

Makalah University of Hawaii yang sama seperti di atas menuliskan bahwa para remaja pria yang sudah memasuki pubertas dibimbing melakukan hubungan dengan istri-istri berusia 30-an hingga 40-an.

Penelitian oleh Suggs (1966) menyebutkan bahwa para istri tersebut dengan sabar mengajari para remaja pria dan praktik itu "menjadi kenikmatan bagi banyak wanita Marquesas."

Bagi anak perempuan, pengalaman seks pertama terjadi pada usia jauh lebih muda dan biasanya dilakukan dengan seorang pria dewasa tanpa direncanakan sebelumnya.

4 dari 7 halaman

4. Suku Sambia, Papua Nugini

Bagian pendewasaan kaum pria muda suku Sambia, Papua Nugini. (Sumber WikiFoundry)

Anak-anak lelaki suku Sambia di Papua Nugini menjalani serangkaian pelatihan pendewasaan sebagai pria selama 10 tahun.

Selama pelatihan, sejak usia 7 tahun mereka dipisahkan dari kaum wanita karena wanita dipercaya dapat menghalangi kedewasaan mereka sebagai pria.

Salah satu latihan adalah mencolokkan batang kayu yang ujungnya diraut hingga tajam ke dalam saluran hidung agar berdarah. Maksudnya adalah untuk membuktikan mereka tahan sakit.

Anak-anak itu juga menyantap batangan tebu hingga muntah-muntah.

Praktik lainnya adalah melakukan masturbasi pada para ksatria paling gagah, lalu menelan sperma para pria dewasa tersebut.

Menurut warga suku, cairan sperma mengandung roh maskulin seorang pria. Melalui tindakan menelan air mani, anak-anak lelaki mereka juga ikut menjadi maskulin

Penting bagi seorang pria dalam suku tersebut agar pernah "menelan penis" sebelum dianggap sebagai ksatria.

Menurut laman Oddee, ketika kaum pria muda kembali ke tengah-tengah suku, mereka melanjutkan kebiasaan menusuk lubang hidung yang dilakukan saat istrinya dengan mengalami siklus menstruasi.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

5 dari 7 halaman

5. Suku Kreung, Kamboja

Ilustrasi gubug di pedalaman Kamboja. (Sumber USAID)

Suku Kreung di Kamboja tidak mengizinkan perceraian sehingga seorang wanita diharapkan mengenal secara keseluruhan pria yang akan menjadi suaminya.

Dengan demikian, ketika mencapai usia remaja, orangtua seorang remaja putri akan membuatkan gubuk cinta untuk menjajal para calon pasangan.

Si remaja putri kemudian bergantian mengajak pria-pria untuk melakukan hubungan seks dalam rumah kecil yang dibangun oleh sang ayah.

Menurut laman Daily Mail, masyarakat suku di timur laut Kamboja tersebut percaya bahwa praktik kuno seperti itu merupakan cara terbaik untuk menyaring calon suami.

Untuk mencegah kehamilan, suku Kreung tidak lagi menggunakan kontrasepsi tradisional dari campuran alkohol dan kelabang, digantikan dengan penggunaan kondom.

Dengan maraknya HIV/AIDS dan peningkatan ekploitasi seks pada remaja, praktik itu masih terus berlangsung.

Seorang remaja putri bernama Nang Chan (17) mengaku kepada Daily Mail bahwa ia malah merasa mendapatkan pemberdayaan (empowerment).

Menurut pengakuan masyarakat suku, perceraian dan kekerasan seksual di antara mereka nyaris tidak ada. Kaum wanita muda pun kemudian hanya berhubungan dengan pasangan yang terbukti nyaman baginya.

Walaupun terdengar sangat bebas dalam urusan seks sebelum menikah, pasangan yang akhirnya berpacaran tidak boleh terlihat bersamaan di muka umum hingga mereka bertunangan atau menikah.

Menurut ulasan Phnom Penh Post, tradisi ini cukup terkikis saat berkuasanya rezim Pol Pot di tahun 1950-an.

6 dari 7 halaman

6. Suku Wodaabe, Afrika Barat

Wanita muda suku Wodaabe. (Sumber Wikimedia Commons)

Suku Wodaabe di kawasan Niger, Afrika Barat, memandang diri mereka paling rupawan di muka Bumi.

Tulisan dalam rebelcircus.com menyebutkan bahwa kaum wanita suku memiliki semua kekuatan seksual dan para wanita lajang boleh melakukan seks dengan kapan saja dengan siapapun yang mereka mau.

Namun demikian, oleh keluarganya, kaum wanita biasanya dinikahkan pada waktu masih anak-anak. Dikutip dari laman Oddee, pernikahan pertama tersebut biasanya dengan sepupu dari garis keturunan yang sama.

Pernikahan yang dijodohkan tersebut tidak menjadi hambatan untuk mencari pasangan lagi di kemudian hari.

Saat berlangsungnya pesta rakyat tahunan yang dikenal sebagai Gerewol, kaum pria pun berhias mengenakan kostum bulu burung dan menari untuk mencuri hati wanita-wanita.

Jika ada seorang istri yang menepuk pundaknya dan pria itu pun menyukai wanita yang menepuk, maka pria tersebut boleh mencuri wanita itu dari suaminya.

Masih dari laman Oddee, dijelaskan bahwa jika pasangan baru itu tidak ketahuan suami lama yang mungkin sebenarnya tidak ingin berpisah, maka pasangan baru itu mendapatkan pengakuan sosial.

Berbeda dengan pernikahan sewaktu anak-anak, pernikahan baru pun menjadi pernikahan karena cinta.

Artikel Selanjutnya
Bukan Takhayul, Kemukus Juga Tandai Kelahiran Bung Karno
Artikel Selanjutnya
Ritual di Afrika yang Lebih Mengerikan dari Ritual Gunung Kemukus