Sukses

3 Ciri Khas Alien Menurut Ilmu Pengetahuan

Liputan6.com, Jakarta - Kalau kita percaya apa pun yang disodorkan oleh Hollywood, mungkin kita akan mengira alien sebagai makhluk raksasa berwarna hijau yang sangat membenci manusia.

Menurut para ilmuwan, harus ada beberapa ciri sehingga makhluk-makhluk itu bisa mencapai planet kita. Yang jelas, alien haruslah memiliki sifat sebagai penjelajah (explorer).

Diringkas dari listverse.com pada Selasa (29/8/2017), Stephen Hawking dan rekan-rekan menduga bahwa penjelajahan itu belum tentu untuk keperluan mencari koloni dan mungkin sekedar meraup sumberdaya yang ada di Bumi.

Selain itu, secara ilmu pengetahuan, bentuk tubuh mereka tidak mungkin seperti serangga raksasa sebagaimana digambarkan dalam film-film.

Struktur tubuh serangga tidak memiliki darah yang mengandung oksigen, sehingga tidak bisa menyerap oksigen dari atmosfer untuk tumbuh lebih besar daripada manusia.

Dipelajari dari penjelasan Stephen Hawkings dan beberapa ilmuwan masa kini, berikut ini adalah sejumlah ciri alien:

1 dari 4 halaman

1. Sifat Agresi dan Pembunuh

(Sumber iStock via listverse.com)

Dari sudut pandang evolusioner, salah satu pembeda manusia dari spesies lain di planet ini adalah agresi.

Spesies yang unggul dalam habitat tertentu harus menghadapi kesulitan dan mengatasinya. Pergumulan itu memicu adaptasi evolusioner sehingga kehidupan dominan apapun di planet – termasuk alien – harus mampu mengatasinya.

Menurut makalah terbitan University of Missouri, hal itu berarti alien harus bersifat agresif untuk bisa bertambah banyak dan menguasai lingkungan mereka agar bisa maju.

Ketika memasuki rumah baru, kita seringkali menemukan koloni serangga yang mengganggu. Kebanyakan dari kita akan melakuan pembasmian hama tersebut.

Sebagai mahluk yang maju, alien akan menggunakan teknologi untuk keuntungan mereka sehingga kemungkinan akan membasmi segala bentuk kehidupan pada planet yang digadang-gadang akan dipakai.

Mungkin sekali bukan seperti serbuan UFO yang menembaki manusia seperti dalam film, tapi dengan cara yang cepat dan efisien untuk membasmi kita, misalnya dengan pemusnah yang sifatnya biologis.

Walaupun pembasmian manusia terdengar menyeramkan, alien juga diduga tidak perlu menyantap manusia.

Jika mereka sudah mampu melakukan perjalanan angkasa, tentunya alien sudah menggunakan asupan berkelanjutan (sustainable) dan tidak lagi mengandalkan santapan makhluk hidup.

2 dari 4 halaman

2. Ciri Biologis, Sistem Kekebalan, dan Bentuk Tubuh

(Sumber iStock via listverse.com)

Dalam tayangan-tayangan fiksi ilmiah, alien digambarkan musnah dan kalah melawan bakteri Bumi karena belum pernah mengenal bakteri tersebut sehingga tidak memiliki kekebalan terhadapnya.

Hal tersebut mirip dengan para pengelana dan penakluk (conquistador) benua-benua yang kalah melawan cacar dan tifus ketika berinteraksi dengan penduduk pribumi di benua-benua baru. Akan tetapi, pengelana dan penakluk adalah manusia.

Menurut Seth Shostak, seorang insinyur senior di SETI, dampak bakteri terbatas hanya pada bentuk kehidupan yang terkait secara biokimia. Kuman-kuman berkembang untuk bisa menyintas menghadapi DNA manusia.

Bahkan infeksi virus dan bakteri pada satu spesies belum tentu menular pada spesies lain. Misalnya, anjing jarang tertular flu.

Film-film juga menggambarkan alien sebagai humanoid (berbentuk seperti manusia), hanya saja dengan wajah yang asing. Padahal, manusia berkembang seperti sekarang ini akibat kondisi lingkungan tertentu.

Misalnya, manusia berdiri tegak agar bisa berkeliaran lebih jauh dan membebaskan tangan agar bisa menggunakan perkakas. Jempol hadir karena lelulur manusia yang hidup di pohon-pohon. Kalau tidak ada pepohonan, tentu tidak perlu adaptasi pengembangan ibu jari.

Bentuk alien tidak bisa dipastikan, tapi diduga memiliki ciri dasar yang ada pada kebanyakan bentuk kehidupan makhluk Bumi, yaitu mulut, mata, sejenis pendengaran, dan tungkai gerak yang efisien.

Selain itu, alien diduga bukanlah makhluk yang sangat kuat. Setelah mencapai kemajuan teknologi tertentu untuk menjadi penjelajah angkasa, kebutuhan kekuatan otot sudah ditinggalkan ribuan tahun lamanya.

Makhluk-makhluk itu akan berbentu ramping dan memiliki rancangan yang efisien agar menggunakan energi minimal untuk memberi daya pada tubuh mereka.

Konsumsi energi menentukan penyintasan dalam skala besar. Otot-otot yang besar menggunakan lebih banyak energi dan perawatan sehingga mengalihkan energi yang diperlukan bagi kemajuan evolusioner.

Budaya yang telah maju secara ilmu pengetahuan tidak lagi memerlukan kekuatan fisik untuk menghadapi lingkungan.

Perjalanan antar bintang memerlukan spesies pendukung evolusi berdasarkan ikatan sosial yang kompleks, pemikiran serta komunikasi yang abstrak, ketrampilan otot halus, dan manipulasi perkakas. Jadi, bukan lagi dengan kekuatan atau kecepatan fisik.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

3 dari 4 halaman

3. Kecerdasan Luar Biasa

Ilustrasi tentang otak dan kecerdasan. (Sumber Pixabay)

Ciri ini tidak mengherankan. Akan tetapi, dalam banyak film, alien digambarkan sebagai makhluk territorial yang menghancurkan apa pun di hadapan mereka. Tidak masuk akal, karena perjalanan antarbintang memerlukan kecerdasan yang amat maju dan bukan sekadar menghancurkan.

Memang benar, spesies alien haruslah bersifat agresif. Namun, mereka penuh perhitungan dan mengendalian diri agar bisa membuat keputusan yang cermat.

Spesies yang mengandalkan agresi dengan kecerdasan rendah cenderung memfokuskan energi mereka untuk saling mengalahkan demi penyintasan.

Ras makhluk tertentu yang maju mengatasi tingkatan yang kita saksikan sekarang dalam peradaban kita, tentulah mengesampingkan perbedaan individual demi kepentingan bersama.

Keterampilan yang diperlukan untuk penjelajahan jarak jauh merupakan salah satu ciri kecerdasan alamiah. Sebelum bisa meraih tingkat kecukupan ilmiah yang cukup, harus ada ingatan, mawas diri, kognisi terhadap motif, dan kreativitas.

Agar peradaban bisa berkembang, harus ada komunikasi. Harus ada bentuk komunikasi jarak jauh agar bisa mengorganisasi dan menyebarkan informasi yang demikian banyaknya.

Seperti halnya manusia, alien memerlukan kemampuan mengomunikasikan teori-teori kompleks dan melakukan pencatatan sehingga bisa membantu generasi berikutnya melalui pembelajaran.

Tanpa ada bentuk tulisan, kemungkinan besar kita tidak bisa mewarisi melebihi batasan generasi secara individual.

Akan tetapi, jenis pembicaraan yang dipakai para penjelajah antar bintang masih menjadi misteri. Demikian juga dengan cara pencatatannya.

Berdasarkan lingkungan masing-masing, gelombang suara mungkin bukanlah pendekatan yang paling efektif. Mungkin alien menggunakan getaran (vibrasi) yang diterima menggunakan organ sensori khusus.

Atau, seperti yang disodorkan oleh Hollywood, alien bicara secara telepati. Cara itu memang masih harus dibuktikan dulu pada spesies-spesies lain dan mungkin lebih sebagai pengembangan sekunder atau hasil kemajuan teknologi.

Artikel Selanjutnya
Unik, Memasak dengan Teknik Origami yang Tak Biasa
Artikel Selanjutnya
Seperti Otak Manusia, Makhluk Misterius Ini Bikin Heboh Ilmuwan