Sukses

Tepung hingga Vespa, 4 Benda Biasa Ini Ternyata Bisa Jadi Senjata

Liputan6.com, Jakarta - Tengok sebuah peperangan dan benda-benda seperti pisau, pistol, senapan, hingga artileri, pasti lazim dimanfaatkan sebagai sebuah senjata. Ada pula pesawat, helikopter, tank, dan panser yang dijadikan tak hanya sekadar sebagai moda transportasi, tapi juga memiliki fungsi tempur.

Akan tetapi, sejumlah kondisi khusus dalam sebuah pertempuran ternyata membutuhkan kehadiran beberapa benda yang mungkin 'nampak biasa', namun memiliki kemampuan yang 'luar biasa'.

Bahkan, pada sejumlah situasi, para personel militer juga harus mampu mengalihfungsikan benda sehari-hari menjadi sebuah senjata mematikan.

Misalnya, tepung terigu yang dapat dijadikan alat peledak atau motor skuter vespa yang merangkap sebagai tank, seperti yang akan diulas dalam artikel ini.

Berikut, empat benda biasa atau 'nampak biasa' yang ternyata dapat dialihfungsikan menjadi senjata mematikan, seperti yang Liputan6.com rangkum dari Listverse.com, Senin (28/8/2017).

 

1 dari 5 halaman

1. Panci, Merangkap Helm, dan Pistol

Ilustrasi pistol. (Istimewa)

Pada Perang Dunia I, Albert Bacon Pratt dari Vermont, Amerika Serikat, menciptakan senjata api rakitan yang unik nan tak biasa.

Ia berimprovisasi dengan mengombinasikan pistol dan helm pelindung khusus perang. Pratt menyebutnya sebagai 'helmet gun', atau pistol helm.

Senjata api rakitan itu tidak memiliki tuas pemicu seperti pada pistol pada umumnya. Lantas, cara yang digunakan untuk mengoperasikan senjata itu adalah dengan meniupkan udara melalui selang khusus.

Udara itu terdistribusi lewat selang menuju sebuah tabung yang akan memicu peluru terlontar dari laras 'helmet gun' itu.

Untuk membidik, operator pistol cukup mengarahkan kepalanya ke sasaran. Akan tetapi, tingkat akurasinya tak begitu mumpuni ketimbang pistol konvensional.

Masalah lain dari senjata itu adalah daya sentak (recoil) yang dihasilkan kala proyektil pistol itu ditembakkan. Daya sentak yang besar nan tak terkendali dapat mencederai leher pengguna.

Akan tetapi, Pratt mengklaim bahwa kendala itu dapat diatasi dengan memasang pegas untuk menahan daya sentak.

Dan inovasi lain, Pratt mengklaim bahwa kombinasi pistol dan helm itu dapat dimanfaatkan sebagai panci untuk memasak. Memang, senjata rakitan itu amat multifungsi, tapi mungkin, 'helmet gun' tak dapat beroperasi dengan mumpuni pada pertempuran nyata.

 

2 dari 5 halaman

2. Bom Tepung Terigu

ilustrasi tepung terigu

Pada Perang Dunia II, George Bogdan Kistiakowsky, seorang tentara dan ilmuwan yang bekerja untuk Office of Strategic Service (OSS) --badan intelijen dan spionase AS-- mengembangkan tepung terigu yang tak hanya dapat diolah menjadi makanan, tapi juga dapat berfungsi ganda sebagai bom.

Tepung itu disebut sebagai Aunt Jemima, berdasarkan merk merek terigu populer yang dijual di Amerika Serikat.

Tepung terigu Aunt Jemima itu memiliki kandungan HMX (atau octogen), zat kimia yang lazim digunakan sebagai bahan baku bom.

Produsen tepung itu dilakukan dengan mencampur HMX dengan terigu roti biasa. Takaran masing-masing komposisi dikalkulasikan dengan presisi tinggi nan seimbang, sehingga tepung itu tetap dapat digunakan untuk membuat roti serta memiliki daya ledak yang cukup mumpuni.

Tepung itu kerap dipasok di medan pertempuran Perang Dunia II di China dan Jepang. Meski begitu, pasukan militer sangat berhati-hati saat mengonsumsi roti yang dibuat dengan tepung Aunt Jemima. Karena, terigu itu dapat menyebabkan sakit perut yang serius.

Lantas, bagaimana caranya agar tepung itu berfungsi sebagai sebuah bom?

Prajurit hanya cukup menambahkan pemicu atau detonator pada sebuah roti yang dibuat dengan tepung Aunt Jemima. Ketika detonator itu disulut dengan api, roti itu dapat menjadi bom rakitan yang efektif.

Multifungsi, praktis, mengenyangkan, namun juga, mematikan.

 

3 dari 5 halaman

3. Tongkat Jalan, Merangkap Pedang, dan Pistol

Seorang nenek bawa tongkat isi pedang ke bandara

Pada 1850-an, adalah sebuah hal yang lazim jika menemukan seorang pria dewasa yang sehat walafiat mengarungi kota dengan menggenggam sebuah tongkat jalan.

Berjalan sambil membawa tongkat jalan adalah tanda bahwa pria yang bersangkutan berasal dari kalangan berstatus ekonomi di atas rata-rata.

Akan tetapi, pada saat yang sama, mereka yang berjalan menggunakan tongkat kerap menjadi sasaran kejahatan bagi para perampok dan penjambret.

Hal itu memicu inovasi tongkat jalan multifungsi. Tak hanya sekadar sebagai alat penuntun dan simbol status sosial-ekonomi, tongkat itu turut dapat berfungsi sebagai sarung pedang.

Dengan begitu, seorang pria bisa dengan cepat melepaskan pedang dari tongkatnya, jika sewaktu-waktu ada seorang penjahat datang menghampirinya.

Inovasi lain bahkan menerapkan multifungsi tongkat jalan yang lebih canggih, yakni sebagai sebuah senapan laras panjang. Salah satu jenis yang paling terkenal dari jenis itu adalah varian kaliber-31 yang diproduksi oleh Remington Arms pada 1858.

 

4 dari 5 halaman

4. Tank Vespa

Vespa Sprint 150 dan Vespa Primavera adalah brand andalan Piaggio untuk menembus pasar nasional.

Prancis menciptakan sebuah alat tempur multifungsi, mengombinasikan sebuah skuter vespa dengan sejumlah komponen meriam artileri.

Inovasi itu digunakan oleh tentara Prancis saat konflik bersenjata di Aljazair dan Indochina (Vietnam, Laos, serta Kamboja) pada 1950-an. Pada konflik itu, taktik gerilya dan sporadis yang diterapkan pasukan Aljazair dan Indochina kerap menyulitkan militer Prancis yang cenderung bergerak secara terstruktur.

Maka, untuk mengatasi hal itu, pasukan Prancis berusaha untuk mengombinasikan aspek kecepatan mobilisasi dengan daya tempur yang mumpuni, agar dapat memberikan perlawanan pada taktik perang yang digunakan para gerilyawan.

Solusinya adalah dengan membuat vespa versi militer dan mengombinasikannya dengan meriam artileri. Untuk vespa, Prancis menggunakan skuter varian 150TAP, sementara meriam yang digunakan adalah jenis M20.

Idenya skuter itu dapat dengan cepat diterbangkan ke udara untuk memberikan bantuan artileri bagi pasukan Prancis.

Akan tetapi, dalam pengoperasiannya, meriam itu tidak ditembakkan dari skuter tersebut, melainkan harus dibongkar dan dipasang terlebih dahulu pada tripod sebelum ditembakkan. Sekitar 500 skuter dibuat, dan mereka terbukti menjadi tandingan mumpuni untuk melawan gerilyawan.

 

Simak pula video berikut ini

Artikel Selanjutnya
Menyicip Pisang Genderuwo yang Langka dan Berwarna Eksotis
Artikel Selanjutnya
Kayu Hanyut Sungai Kampar Jadi Karya Ukir Keren