Sukses

Roti Tawar Potong Pernah Dilarang di AS, Kenapa?

Liputan6.com, Jakarta - Roti tawar sudah menjadi menu sarapan bagi kebanyakan orang. Dalam perkembangannya, kehadiran roti tawar potong sangat memudahkan pembeli. 

Di Amerika Serikat, roti tawar potong sebenarnya sudah ada di pasar sejak 1928. Keberadaannya dianggap sebagai "langkah maju terbesar dalam industri ini sejak kehadiran roti yang sudah dikemas".

Meski demikian, selama Perang Dunia II, roti tawar iris sempat dilarang di AS.

Dikutip dari The Vintage News pada Senin (28/8/2017), Menteri Pertanian sekaligus Administrasi Pangan Peperangan Claude R. Wickard melarang roti tawar iris walau alasannya tidak terlalu jelas.

Keputusan itu diduga menjadi cara penghematan sumber daya yang menyusut selama perang, misalnya untuk mengirit kertas minyak, baja, atau gandum.

Akan tetapi, keputusan itu juga diduga menjadi jawaban atas masalah peningkatan harga roti, karena dipicu peningkatan harga tepung gandum sebesar 10 persen yang dikeluarkan oleh Office of Price Administration.

1 dari 3 halaman

Alasan yang Dibuat-buat

Mesin pengiris roti otomatis ciptaan Rohwedder. Unit ini dipakai di St. Louis pada 1930. (Sumber Wikimedia Commons)

Saat pelarangan, roti tawar iris sangat populer sehingga larangan yang diterbitkan diharapkan dapat mengurangi konsumsi roti, permintaan tepung, hingga akhirnya mengurangi harga produk sambil menumpuk cadangan gandum.

Roti tawar iris memang memerlukan kertas minyak yang lebih tebal karena rotinya lebih cepat basi. Hal ini pun menjadi alasan resmi, walaupun saat itu tidak dilaporkan adanya kekurangan kertas minyak. Kebanyakan perusahaan roti memiliki pasokan kertas minyak untuk beberapa bulan.

Bukan hanya itu, alasan penghematan gandum juga dipandang tidak masuk akal, karena saat itu AS telah menimbun lebih dari 1 miliar ikatan gandum yang setara dengan keperluan 2 tahun tanpa perlu tambahan hasil panen.

Untuk mencegah masalah roti basi, Rohwedder, pencipta mesin otomatis pemotong roti pertama, mencoba menjepit helai-helai roti menggunakan pin yang ditarik keluar setiap kali sehelai roti diambil.

Penggunaan pin tidak memuaskan sehingga mesin itu dimodifikasi agar membungkus roti dengan kertas minyak.

Bicara soal ketersediaan baja, sejumlah mesin pemotong memang menggunakan baja sehingga larangan tersebut diduga berkaitan dengan penghematan logam tersebut.

Namun, alasan itu terasa lemah, karena kebanyakan pembuat roti pada saat itu tidak secara aktif membeli mesin-mesin potong. Jumlah logam yang dipakai pun tidak banyak.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Kekecewaan Warga

Menilik alasan-alasan yang dipaparkan, tentu saja warga merasa kecewa dengan larangan tersebut.

Harian New York Times menerbitkan surat bernada kekecewaan dari seorang ibu rumah tangga, "Saya ingin Anda tahu betapa pentingnya roti iris bagi semangat dan kewarasan dalam rumah tangga. Suami dan empat anak saya selalu terburu-buru selagi sarapan dan sesudahnya".

"Tanpa roti iris, sayalah yang harus mengiris sebelum dipanggang. Jadi semuanya 10 helai roti. Untuk makan siang, saya harus mengiris dengan tangan setidaknya 20 helai".

"Setelah itu saya membuat roti panggang untuk saya. Jadi ada 22 helai roti yang harus diiris secara terburu-buru!"

Untungnya, sekitar tiga bulan setelah terbit, larangan itu ditarik pada 8 Maret 1943. Saat pembatalan larangan, Wickard menjelaskan bahwa penghematan yang diraih tidak seberapa.

Artikel Selanjutnya
Lelucon Deddy Mizwar soal Daging Kambing
Artikel Selanjutnya
5 Daging Termahal Di Dunia, Ada yang dari Indonesia?