Sukses

Foto Ini Menguak Rencana Baru Program Nuklir Korut

Liputan6.com, Pyongyang - Sebuah foto terbaru dari media corong pemerintah Korea Utara secara terselubung memperlihatkan rencana program nuklir terbaru negara itu. Termasuk, tipe proyektil paling anyar. 

Foto tersebut disiarkan oleh media pemerintah Korut, KCNA, yang mengabarkan bahwa Kim Jong-un tengah mengunjungi Chemical Material Institute of the Academy of Defense Sciences.

"Ia telah menginstruksikan lembaga pendidikan itu untuk memproduksi mesin roket berbahan bakar padat dan hulu ledak misil dengan terus mengembangkan proses produksi mesin lainnya," kata pernyataan KCNA seperti dikutip dari CNN, Kamis (24/8/2017).

Namun, foto-foto Kim Jong-un, yang digambarkan tengah melakukan inspeksi, langsung menarik perhatian ahli misil sekaligus pengamat Korut. 

"Foto ini secara terselubung ingin memamerkan kepada kita bahwa Korea Utara mengembangkan program nuklir berbahan bakar padat," kata David Schmerler, periset di Middlebury Institute of International Studies di Pusat Studi Non-proliferasi James Martin.

Pada salah satu foto Kim, bisa terlihat sebuah poster di dinding, yang jelas-jelas menyebut misil 'Pukguksong-3'.

Rudal itu disebut-sebut menyempurnakan dua versi sebelumnya yang berbahan padat dengan jangkauan menengah.

Korea Utara memiliki ambisi untuk membangun misil berbahan dasar padat agar proyektil buatan mereka mampu melesat dengan cepat dan tepat, demikian menurut peneliti Michael Duitsman dari lembaga James Martin Center.

"Rudal berbahan bakar padat jauh lebih cepat untuk diluncurkan... mereka hanya harus mengarahkannya tepat ke sasaran," katanya.

"Selain itu juga lebih sulit untuk dicegat oleh musuh," lanjut Duitsman.

Foto Ini Menguak Detil Rencana Baru Program Nuklir Korea Utara (STR / KCNA VIA KNS / AFP)

Duitsman menambahkan, semua rudal balistik yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Rusia adalah model bahan bakar padat.

Di foto lain, terlihat pemimpin Korea Utara berdiri di samping sebuah wadah besar berwarna tembaga, yang menurut para ahli bisa menjadi casing atau rangka berbahan plastik.

Menurut para ahli, casing itu diduga wadah untuk misil dengan teknologi lebih ringan.

1 dari 2 halaman

Korea Utara yang Makin Bebal

Meskipun sudah diberi sanksi terbaru oleh Badan Perserikatan Bangsa-bangsa atau PBB, Korea Utara tak peduli. Mereka justru makin bebal memperkaya program nuklir miliknya.

"Pemerintah Korut melihat sanksi tersebut sebagai pelanggaran keras terhadap kedaulatan yang disebabkan rencana AS untuk mengisolasi dan Korut," sebut pernyataan resmi Pemerintah Korut yang melalui kantor berita KCNA, pada 8 Agustus lalu

Pyongyang pun memastikan sanksi tersebut tidak akan ampuh membuat mereka mau bernegosiasi terkait program senjata nuklir.

Bukan cuma itu, dengan dijatuhkannya sanksi baru ini, dipastikan tidak bisa menghentikan rencana penguatan kemampuan senjata atom yang sudah direncanakan.

Mereka menyebut akan melakukan aksi 'menuntut keadilan'. Namun, tidak disebutkan secara detail aksi macam apa yang akan dilakukan.

Korut membuat hampir seluruh dunia geram dengan aksi peluncuran misil balistiknya bulan lalu. Negara itu, mengklaim misil baru tersebut punya menjangkau tanah Amerika Serikat (AS).

AS pun merespons peluncuran rudal baru Korut. Angkatan Udara AS, melakukan uji coba peluncuran misil balistik antar-benua (ICBM) di California.

Misil jenis LGM-30 Minuteman III diluncurkan pada Rabu 2 Agustus 2017 pukul 02.10 pagi waktu setempat di North Vandenberg Air Force Base, Lompoc, California.

Peristiwa itu menandai keempat kalinya AS melakukan tes rudal Minuteman sepanjang 2017. Terakhir kali, uji coba serupa dilaksanakan pada Mei lalu.

Korut sendiri akibat terus melakukan uji coba misil, akhirnya mendapat sanksi PBB. Organisasi multilateral dunia itu, melarang semua negara anggotanya mengimport barang Korut seperti batubara, besi, timah dan produk makanan laut.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Artikel Selanjutnya
AS Jatuhkan Sanksi ke Perusahaan China Penyokong Rudal Korut
Artikel Selanjutnya
Korea Utara Rilis Video Propaganda Serangan Nuklir ke Guam