Sukses

Kisah 'Pemberontakan' Putri Diana di Hari Pernikahannya

Liputan6.com, London - Nyaris 20 tahun jelang kematiannya, kehidupan Putri Diana masih menjadi perbincangan. Baik itu kisah cintanya, gaya berbusana, atau kegiatan amal yang dilakukannya.

Mayoritas, menunjukkan kekaguman mereka atas sosok humanis Diana dan juga kecantikan fisiknya. Semasa hidupnya, Diana boleh jadi anggota keluarga kerajaan Inggris yang paling dikenal publik dunia.

Diana atau yang terlahir dengan nama Diana Frances Spencer tidak berasal dari kalangan rakyat jelata. Dalam dirinya mengalir darah bangsawan. Dari garis ayahnya, Edward John Spencer atau Earl Spencer ke-8, Diana merupakan keturunan langsung Raja Charles II.

Sementara, ayah Diana merupakan mantan ajudan Ratu Elizabeth II. Maka tak heran dengan latar belakang tersebut, Diana tumbuh di Althorp, sebuah kediaman super megah yang dimiliki keluarga Spencer.

Perempuan berjuluk Princess of Wales itu dikenal pula dengan sikap "pemberontaknya". Seperti dikutip dari news.com.au pada Rabu (23/8/2017), pada hari pernikahannya 29 Juli 1981, Diana bersikeras memakai salah satu tiara milik keluarganya ketimbang yang diberikan mertuanya, Ratu Elizabeth II.

Tiara itu bernilai sangat sentimental bagi keluarga Spencer karena pada awalnya diberikan sebagai hadiah pernikahan bagi nenek Diana, Viscountess Althorp. Kakak perempuan tertua Diana juga mengenakan mahkota yang sama pada hari pernikahannya.

Keputusan Diana untuk mengenakan tiara milik keluarga Spencer menuai banyak pujian. Ia dinilai melakukan hal yang tepat dengan lebih memilih mengenakan barang miliknya di hari bersejarah dalam hidupnya dibanding memakai tiara pemberian.

Lagi pula, mahkota kepunyaan keluarga Spencer itu jauh lebih ringan ketimbang tiara kerajaan Inggris.

Sejak kematian Diana pada 31 Agustus 1997, tiara keluarga Spencer itu belum pernah dipakai. Atau mungkin selamanya tidak akan pernah dikenakan kembali, kecuali keponakan Diana, Lady Kitty Spencer, memutuskan untuk memakainya.

Diana sendiri beberapa kali memakai tiara pemberian Ratu Elizabeth yang bernama Queen Mary’s Lover’s Knot, meski ia mengeluhkan bahwa mahkota itu sangat berat sehingga sering membuatnya sakit kepala.

1 dari 2 halaman

Diana Mendobrak Tradisi Kerajaan Inggris

Diana yang juga dijuluki sebagai "The People Princess" atau "Putri Rakyat" mendobrak tradisi kerajaan dengan banyak cara, termasuk lewat gaya berbusana.

Sebagai anggota keluarga kerajaan, ibu dari Pangeran William dan Pangeran Harry tak suka mengenakan sarung tangan dan topi. Dengan tangan telanjangnya, ia tak sungkan menyentuh penderita AIDS hingga mereka yang diamputasi.

Eleri Lynn, perempuan di balik pameran "Diana: Her Fashion Story" yang digelar di Istana Kensington menjelaskan alasan di balik sikap Diana tersebut.

Putri Diana saat mengunjungi rumah sakit yang merawat pasien penderita kusta di Indonesia (The Leprosy Mission)

"Dia melanggar protokol kerajaan untuk memakai sarung tangan karena dia suka memegang tangan orang yang dikunjunginya atau bersalaman dengan mereka dan melakukan kontak langsung," terang Lynn.

Lazimnya, anggota keluarga kerajaan memakai sarung tangan demi terhindar dari bakteri.

Adapun tentang topi, Lynn menjelaskan bahwa Diana pernah mengatakan, "Anda tidak bisa memeluk anak-anak jika memakai topi."

Tindakan lain yang menunjukkan "pembangkangan" Diana terhadap aturan kerajaan adalah ketika ia memutuskan mengenakan gaun berwarna hitam untuk menghadiri sebuah pesta dansa. Padahal, hitam adalah warna formal yang dipakai anggota kerajaan dalam momen berkabung.

 

Saksikan video menarik berikut:

Artikel Selanjutnya
Benarkah Putri Diana Menolak Lamaran Dodi Al Fayed?
Artikel Selanjutnya
Pernikahan 4 Artis Ini Sebabkan Hari Patah Hati Nasional Beruntun