Sukses

Tahukah Anda? 4 Hal Aneh Ini Bisa Terjadi Saat Gerhana

Liputan6.com, Jakarta - Siang mendadak gelap di daratan Amerika Serikat, Senin 21 Agustus 2017. Jutaan orang menjadi saksi peristiwa gerhana matahari total langka, yang untuk kali pertamanya terjadi di Negeri Paman Sam setelah 99 tahun.

Sorak-sorai pecah ketika bayangan Bulan perlahan menutupi Matahari. Bagi kebanyakan warga AS, 'Great American Eclipse' adalah momentum yang tak boleh dilewatkan.

"Saya merasa tak boleh melewatkannya," kata politisi Republik Rob Nosse yang rela bangun dini hari, mengejar kereta fajar dari Portland ke Salem untuk menyaksikan gerhana matahari total, seperti dilaporkan Los Angeles Times.

Presiden AS Donald Trump bersama Ibu Negara, Melania Trump menyaksikan  gerhana matahari dari balkon Gedung Putih di Washington, Senin (21/8). Trump tertangkap kamera menyaksikan fenonema langka tersebut tanpa kacamata pelindung. (NICHOLAS KAMM/AFP)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan keluarganya juga tak ketinggalan menyaksikan fenomena langit itu dari balkon Gedung Putih.

Miliarder nyentrik itu bahkan tertangkap kamera berusaha menatap gerhana matahari dengan mata telanjang.

Kemajuan ilmu pengetahuan saat ini membuat manusia tak lagi takut pada gerhana. Itu adalah peristiwa langit biasa, tak ada hubungannya dengan naga, monster, apalagi pertarungan sengit dewa-dewa di khayangan.

Namun, perubahan mendadak terang menjadi gelap tak dipahami hewan-hewan. Burung-burung pun terdiam, sapi di ladang rebah ke tanah.

Faktanya, tak hanya itu saja keanehan yang terjadi saat gerhana. Seperti dikutip dari Listverse, Rabu (23/8/2017), berikut 4 hal aneh yang terjadi saat gerhana matahari maupun Bulan:

1 dari 5 halaman

1. Jam Biologis Hewan Kacau

Gerhana matahari total bisa mengacaukan jam biologis hewan. Burung dan serangga tak jarang terdiam 'membeku' dalam keheningan aneh yang tak mereka ketahui sebabnya.

Hewan-hewan yang terbiasa terlelap kala gelap bersiap untuk tidur, sementara binatang nokturnal terbangun dan berkeliaran.

Karena kegelapan hanya berlangsung sementara. Hewan-hewan pun segera terbangun, sementara hewan nokturnal kembali terlelap.

Yang pasti, mereka semua kebingungan, terutama karena Bumi mendadak lebih dingin dan embusan angin kian intens.

 Sejumlah lemur di Japan Monkey Center di Jepang menyaksikan saat-saat gerhana (AP)

Seperti dikutip dari BuzzFeed, pada 2002 lalu, sejumlah lemur di Japan Monkey Center di Jepang mengira, saat gerhana adalah malam yang datang terlalu cepat.

Sekitar 20 ekor binatang tersebut melewatkan makan, memanjat dan melompat antara pepohonan dan tiang-tiang -- seperti apa yang mereka lakukan saat malam.

Namun, ada juga beberapa binatang yang tetap tenang dan bahkan ikut menikmati pemandangan. Misalnya, kucing dan anjing.

2 dari 5 halaman

2. Hubungan Seks dan Kehamilan

Warga Eropa pada Abad Pertengahan yakin, berhubungan seksual saat gerhana bulan akan berdampak buruk pada anak yang dihasilkan dari hubungan suami-istri itu.

Konon, anak-anak yang dijuluki 'moon children' itu akan terlahir dengan setan jahat yang merasuk di dalam diri mereka.

Takhayul juga beredar di era modern, yang menyebut bahwa perempuan hamil dilarang menyentuh perutnya selama gerhana bulan. Jika itu dilanggar, diyakini bayi yang dilahirkan akan memiliki tanda lahir.

Besaran tanda lahir itu konon tergantung besar-kecilnya kekuatan sentuhan.

Ilustrasi Wanita Hamil (iStockphoto)

Saat gerhana bulan parsial terjadi pada 8 Agustus 2017, banyak orang di India percaya, gerhana merupakan pertanda buruk. Selama itu, warga diminta tak makan atau minum.

Menurut kepercayaan di India, makanan menjadi tak murni saat gerhana sehingga tak boleh dikonsumsi. Untuk mengurangi dampak gerhana pada makanan, orang menambahkan kemangi (tulsi) ke makanan dan air.

Mitos itu juga berlaku bagi wanita hamil di India. Para ibu yang tengah mengandung disarankan oleh para sesepuh agar tak keluar saat gerhana atau melihat aktivitas langit itu dengan mata telanjang.

Mereka mengatakan bahwa janin di rahim bisa cacat jika wanita hamil melakukannya. Tentu saja, tak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan itu.

Namun, kebetulan bisa saja terjadi. "Saya memotong sebutir apel, meskipun aku sudah diperingatkan untuk tidak menyentuh benda tajam. Anak saya lahir dengan jari yang tak utuh," kata salah seorang perempuan seperti dikutip dari Daily Times.

3 dari 5 halaman

3. Tipuan Columbus

Pada 11 Mei 1502, armada Christopher Columbus meninggalkan Cadiz, Spanyol menggunakan empat kapal, Capitana, Gallega, Vizcaína dan Santiago de Palos. Namun, akibat wabah cacing kapal yang menyerang bahtera yang digunakan, Columbus hanya bisa menggunakan dua kapalnya dan tiba di sebuah pulau yang kini dikenal sebagai Jamaica pada 25 Juni 1503.Columbus (Wikipedia)

Seperti dikutip dari Space.com, awalnya, penduduk asli, Indian Arawkl menyambut kedatangan mereka dengan baik, menyediakan makanan dan tempat bernaung.

Namun, ketegangan terjadi saat awal Columbus mulai bersikap kasar, merampok, bahkan membunuh pihak tuan rumah. Suku Indian Arawak pun enggan menyediakan makanan bagi para pendatang yang di ambang kelaparan.

Columbus kala itu memeras otak untuk menyelamatkan para bawahannya. Ia pun ingat, punya salinan almanak yang menginformasikan bahwa pada 29 Februari 1504 gerhana bulan akan terjadi.

Berbekal pengetahuan itu, sang penjelajah menemui pemimpin Arawak, memberitahukan bahwa Tuhan marah para mereka yang tak menyediakan makan untuk para bawahannya.

Tiga malam dari saat itu, bulan purnama konon akan lenyap, berganti rembulan yang memerah oleh 'murka ilahi'.

Pada malam yang telah ditentukan, saat matahari terbenam, Bulan muncul di tepian cakrawala.

Seham kemudian, saat cahaya senja memudar dan langit gelap, rembulan terlihat merah mengerikan, seperti 'berdarah-darah'.

Bulan purnama berubah jadi bola merah redup di langit timur.

Suku Indian Arawak yang ketakutan datang dari segala arah menuju kapal Columbus.

Mereka meminta Bulan dikembalikan ke kondisi normal dengan imbalan perbekalan dan makanan hingga Columbus dan para bawahannya kembali ke Spanyol pada 7 November 1504.

4 dari 5 halaman

4. Pecandu Gerhana

Meski terjadi tiap tahun, gerhana adalah peristiwa yang menarik. Tidak semua orang berkesempatan menyaksikannya. 

Pada 1972, Marcy Sigler adalah menyewa sebuah kapal untuk berlayar dari New York, Amerika Serikat ke Nova Scotia, Kanada. Tujuannya, hanya untuk menyaksikan gerhana matahari total.

Seorang pria melihat gerhana matahari melalui topeng tukang las dari atas bar The Stage on Broadway di Tennessee, Senin (21/8). Gerhana matahari total terjadi di 14 negara bagian AS, sementara lainnya mengalami gerhana matahari parsial. (Erik Schelzig/AP)

Ada 830 peserta yang mendaftar. Dua hari setelah angkat sauh, pada pukul 15.47, mereka menyaksikan bayangan hitam Bulan muncul, sesuatu yang gelap seperti tornado, mengubah warna laut yang biru menjadi ungu tua. Kala itu Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.

Konon, sekali menyaksikan terjadinya gerhana, orang selalu ingin menyaksikannya kembali.

Bahkan ada istilah untuk para 'pecandu' gerhana yang memburunya ke mana pun: umbraphile.

Sekali dalam 16 bulan, mereka rela melakukan apapun untuk menyaksikannya: membeli tiket pesawat, menumpang kendaraan(hitchhike), mengemudi, berlayar, bahkan naik unta ke tempat terpencil sekalipun.

Di mana ada gerhana matahari, di situlah mereka berada.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

https://www.vidio.com/watch/828034-presiden-donald-trump-saksikan-gerhana-matahari-as-21-agustus-2017

Artikel Selanjutnya
Inilah 6 Tanda Anda Terlalu Stres
Artikel Selanjutnya
5 Hal Sederhana yang Jadi Ribet Saat Sedang Panik