Sukses

5 Rencana Hitler jika Nazi Terus Berkuasa

Liputan6.com, Jakarta - Adolf Hitler menduga ia akan menjadi pemenang Perang Dunia II. Sebab pihak Nazi bukan hanya merencanakan pertempuran dan bahan-bahan peledak dahsyat, tapi mereka juga merencanakan tata dunia baru.

Ketika peperangan dan pertumpahan darah usai, mereka pun berencana membangun kekaisaran fasis baru di atas reruntuhan Eropa. Pihak Nazi bahkan sudah memiliki cetak biru untuk itu.

Jika semua berjalan sesuai dengan rencana Hitler, dunia sekarang ini menjadi tempat yang sama sekali berbeda.

Misalnya, Hitler berencana membunuh Mahatma Gandhi dan melihat bangsa India sebagai bangsa yang harus tunduk kepada ras Arya.

Selain rencana pembunuhan beberapa tokoh, seperti dikutip dari listverse.com pada Selasa (22/8/2017), berikut ini adalah sejumlah plot besar terkait tata dunia baru menurut Adolf Hitler dan sekutu-sekutunya:

1 dari 6 halaman

1. Mengembalikan Benua Amerika

Elwood A. Towner mengaku sebagai 'Chief Red Cloud.' (Sumber crosscut.com)

Kaum Nazi memang supremasis kulit putih, tapi terkait dengan Pribumi Amerika. Namun siapa sangka bahwa mereka juga dapat menerima perbedaan.

Buktinya Nazi berjanji mengembalikan Amerika kepada Pribumi Amerika setelah mereka menduduki benua itu.

Untuk itu, pihak Nazi bekerja sama dengan kelompok American Indian Federation yang berkenan menjadi kelompok fasis pendukung Nazi.

Beberapa anggota kelompok bukan sekadar simpati dan terang-terangan menjadi Nazi, seperti yang dilakukan 'Chief Red Cloud' yang menyematkan swastika pada pakaiannya dan berpidato tentang kaum Yahudi sebagai "anak-anak Setan."

'Chief Red Cloud' adalah identitas palsu yang dicomot oleh seorang pengacara di Portland bernama Elwood A. Towner, seorang Pribumi Amerika. Chief Red Cloud yang asli meninggal pada 1909 dan tidak ada urusan apapun dengan Nazi.

Pihak Nazi menyenangi tindakan simpatisan Pribumi Amerika itu, sehingga Nazi bahkan menyatakan bahwa bangsa pribumi itu termasuk dalam ras Arya.

Jerman menyusupkan perwira-perwira propaganda ke Amerika agar meyakinkan para simpatisan untuk menggulingkan pemerintah Amerika Serikat (AS).

Sebagai imbalannya, seperti yang disumpahkan oleh Nazi, kaum Pribumi Amerika akan mendapatkan kembali tanah mereka dan banyak yang percaya akan sumpah itu.

'Chief Red Cloud' (Towner) mengaku memiliki 750 ribu pasukan Pribumi Amerika yang siap bertempur demi Hitler. Menurutnya, ketika pasukan Nazi menginjak benua Amerika, pasukan itu siap mencabik-cabik AS.

2 dari 6 halaman

2. Kesejahteraan Bersama Asia Timur Raya

Kesejahteraan Bersama Asia Timur Raya. (Sumber Wikimedia Commons/Kendrikdirksen)

Pihak Jepang juga mempunyai rencana. Dalam ruang-ruang perang mereka, pihak Nazi dan Jepang sudah memilah-milah semua bagian dunia.

Mereka sepakat Jepang akan memerintah dunia di sebelah timur garis 70 derajat Bujur Timur (BT) yang termasuk sebagian besar India. Oleh Jepang, wilayah kekuasaan itu akan dinamai Kesejahteraan Bersama Asia Timur Raya.

Setiap pemimpin wilayah di bawah naungannya akan dilatih menjadi "pemimpin bangsa" sebagai pemerintahan boneka bagi negara Jepang. Upaya itu sudah dimulai dengan slogan "Asia untuk Bangsa Asia."

Syaratnya, bangsa-bangsa Asia dipaksa tunduk kepada kekuasaan Jepang, bahkan menjadikan bahasa Jepang sebagai bahasa resmi di seluruh belahan Timur dan dilengkapi dengan guru-guru Jepang di sekolah-sekolah.

Australia dan Selandia Baru juga akan berada di bawah kendali Jepang.

Menurut Hitler, jika Nazi menang, maka binasalah semua warga kulit putih yang ada dalam wilayah kekuasaan Jepang. Akan tetapi, garis pertahanan baru Nazi pun nantinya bermula di garis 70 derajat BT, karena dua penguasa baru itu akan bergesekan juga.

Rencana Nazi melibatkan penempatan koloni-koloni Jerman di sepanjang perbatasan dan beranak-cucu sebanyak-banyaknya. Warga di koloni-koloni Timur akan dibekali dengan pertanian dan persenjataan.

Para veteran Nazi diminta menikahi wanita-wanita lokal karena tidak boleh membawa istri mereka dari Jerman. Dengan demikian, diharapkan terjadi penyebaran gen melalui bayi-bayi setengah Jerman.

Hitler bahkan menuntut agar setiap pria berusia di atas 12 tahun yang ditempatkan di Timur memiliki setidaknya 7 anak.

3 dari 6 halaman

3. Adu Domba Antara AS dan Inggris

Ilustrasi bendera AS dan Inggris. (Sumber Pixabay)

Berbeda dengan apa yang dijanjikannya kepada 'Chief Red Cloud' secara langsung, Hitler secara terbuka mengaku tidak punya rencana melakukan invasi ke AS. Kepada majalah Life, ia mengatakan bahwa gagasan melakukan invasi serupa dengan "invasi khayal ke Bulan."

Hitler menyalahkan paranoia yang ada pada "penghasut perang" yang menganggap rasa takut sebagai sesuatu yang "menguntungkan bagi bisnis."

Akan tetapi, kepada kelompok pendengar yang lain ia bicara berbeda. Katanya kepada seorang staf, "Perasaan menentang Amerika berasal dari perasaan kebencian dan jijik yang mendalam.”

"Segala sesuatu terkait perilaku masyarakat Amerika membuktikannya setengah Yahudi dan setengah Negro."

Walaupun berpandangan demikian, ia tidak berencana menyerbu Amerika. Sebelum AS terlibat dalam perang, Hitler menggunakan semua kesempatan yang ada untuk menyerang Inggris.

Ketika AS terseret dalam perang, Hitler berpendapat bahwa itu semua merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk mengalahkan Inggris. Menurutnya, apa pun hasil akhir peperangan itu, Amerika akan menyerbu Inggris.

Ia tidak mau menyerbu AS karena menduga Inggris akan melakukan hal itu baginya. Kata Hitler, "Suatu hari nanti, Inggris dan Amerika akan berperang satu sama lain dalam kebencian yang sedemikian besarnya."

"Salah satu dari antara mereka akan lenyap." Jika tidak, maka Hitler akan melakukannya.

Jika AS masih berdiri setelah Eropa jatuh ke tangan Nazi, maka, seperti dijanjikan Hitler, AS akan menghadapi pembantaian habis-habisan oleh Third Reich.

4 dari 6 halaman

4. Perbudakan Eropa Timur

Kamp kerja paksa di Krychów pada 1940. (Sumber Wikimedia Commons)

Tidak mengherankan kalau kaum Nazi berkeinginan membasmi semua kaum Yahudi dari planet ini, tapi rencana genosida mereka tidak berhenti di situ.

Kaum Slavia di Eropa Timur adalah kelompok yang "secara rasial tidak diinginkan" sehingga harus dibasmi.

Usai perang, Hitler sudah mulai menjalankan sebagian rencananya yang disebut Generalplan Ost.

Rencana itu mencakup operasi sistematis untuk membasmi warga Slavia dan budaya mereka dari muka Bumi. Pertama-tama adalah pembasmian para pemimpinnya.

Sebelum berakhirnya perang, pihak Nazi sudah "melumat" kaum elit Soviet dan siapapun yang memiliki pengaruh kultural agar segera melenyapkan kebanggaan budaya dan identitas warga Eropa Timur.

Akan tetapi, jika Nazi berhasil menguasai Rusia, mereka harus mengusir 31 juta kaum Slavia menjadi budak di kamp-kamp kerja paksa di Siberia.

Sebagian kaum Slavia akan diperdagangkan sebagai budak, mirip dengan perbudakan AS di masa lalu.

Untuk menggantikan mereka yang terusir, sebanyak 10 juta etnis Jerman akan dikirim untuk memulai keluarga-keluarga ras murni.

Dalam 30 tahun ke depan, sebanyak 50 juta orang akan dideportasi ke kamp-kamp perbudakan atau dibunuh. Hampir semua bangsa Eropa Timur akan dibasmi.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

5 dari 6 halaman

5. Perbudakan Kaum Pria Inggris

Ilustrasi Eropa di bawah pendudukan Nazi Jerman. (Sumber Wikimedia Commons)

Perang terus berlangsung dan pihak Inggris menolak untuk menyerah, sehingga kekaguman Hitler kepada semangat bangsa Inggris pun mulai pudar.

Hitler pun memiliki rencana untuk Inggris. Jika Kerajaan itu jatuh ke dalam cengkraman, ia akan menerapkan undang-undang baru.

Setiap pria Inggris berbadan sehat usia antara 17 dan 45 akan dipindahkan ke benua Eropa untuk dipekerjakan sebagai budak. Kaum wanita dan anak-anak tetap tinggal di Inggris hingga anak-anak lelaki menginjak usia 17 tahun.

Semua harta milik warga Inggris akan dirampas dan siapa pun yang melawan pemerintahan Nazi akan dibunuh di tempat.

Rencana itu terdengar mengerikan, tapi bisa lebih jahat lagi. Heinrich Himmler merencanakan membasmi 80 persen warga Inggris segera setelah kerajaan itu jatuh ke tangan Nazi.

Artikel Selanjutnya
Ucapannya Dianggap Mendukung Hitler, Wakil PM Jepang Dikritik
Artikel Selanjutnya
Pertemuan Mendadak PM Israel dengan Presiden Putin, Ada Apa?