Sukses

Misteri Serangan Sonik di Kuba Belum Terpecahkan

Liputan6.com, Havana - Sejumlah diplomat Amerika Serikat dan Kanada serta keluarga mereka yang berada di Havana, Kuba, diyakini telah diserang dengan senjata sonik. Jumlah korban diperkirakan jauh lebih banyak dari yang sebelumnya dilaporkan.

"Lebih dari 10 diplomat AS dan anggota keluarga mereka mendapat perawatan akibat serangan yang dimulai pada pertengahan November 2016 dan baru berhenti pada musim semi ini," demikian pernyataan seorang pejabat AS seperti dikutip dari CNN pada Senin (21/8/2017).

Dua diplomat AS yang dipulangkan ke negara mereka dikabarkan menderita luka serius termasuk gangguan pendengaran. Sementara itu, terkait dengan serangan ini sejumlah diplomat AS lainnya memilih meninggalkan Kuba.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan di tengah isu ini, Kedubes AS di Havana tetap "beroperasi secara penuh".

Pada Juni lalu, lima diplomat Kanada serta anggota keluarga mereka melaporkan gejala yang konsisten terkait dengan serangan tersebut. Hal ini memicu dugaan bahwa di tengah proses penyelidikan terjadi serangan kedua.

"Kami mengetahui gejala tidak biasa yang memengaruhi personel diplomatik Kanada dan AS serta keluarga mereka di Havana," terang Juru Bicara Departemen Urusan Global Kanada Brianne Maxwell dalam sebuah pernyataan pada awal Agustus.

Ditambahkannya, "Pemerintah bekerja secara aktif -- termasuk dengan otoritas AS dan Kuba -- untuk memastikan penyebabnya".

Menurut sejumlah pejabat AS yang enggan menyebut nama, dalam beberapa serangan, sebuah senjata sonik canggih ditempatkan di dalam atau di luar tempat tinggal para diplomat. Senjata tersebut memicu mual, sakit kepala, dan gangguan pendengaran.

"Serangan lainnya membuat suara yang sangat memekakkan telinga serupa dengungan yang disebabkan serangga atau logam yang digoreskan ke lantai. Namun, sumber suaranya tidak dapat diidentifikasi," kata sejumlah pejabat AS.

1 dari 2 halaman

Investigasi Tengah Berlangsung

Selama berbulan-bulan AS dan Kuba diam-diam membahas serangan tersebut. Bahkan kebijakan AS yang mengusir dua diplomat Kuba pada Mei lalu merupakan bentuk protes atas serangan tersebut.

"Kami percaya dengan tanggung jawab otoritas Kuba untuk mencari tahu siapa pelaku serangan ini yang tidak hanya melanda diplomat kami, namun seperti yang Anda lihat, sejumlah diplomat lain juga menjadi korban," ujar Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson.

Pasca-serangan, para diplomat asing mendapat pengawasan ketat oleh pemerintah Kuba, khususnya mereka yang bekerja di Kedubes AS di Havana. Para diplomat yang bertugas di Kuba diminta untuk menyewa rumah dari pemerintah dan mereka dilarang tinggal di rumah warga Kuba jika bepergian ke luar Havana.

Pejabat pemerintah AS mengatakan kepada CNN bahwa pejabat Kuba merespons serangan ini dengan serius. Menurut mereka, Kuba memiliki kepentingan nasional yang lebih besar untuk menentukan dalang serangan ini.

"Kuba tidak pernah dan tidak akan pernah membiarkan wilayah Kuba digunakan untuk tindakan melawan agen diplomatik atau keluarga mereka yang terakreditasi, tanpa terkecuali," tegas pemerintah Kuba.

Pada Musim Panas ini, Kuba mengambil langkah tidak biasa dengan mengizinkan FBI dan otoritas Kanada untuk memasuki negara itu demi melakukan penyelidikan. Sementara di lain sisi, Kuba juga meningkatkan keamanan di sekitar tempat tinggal para diplomat.

 

Saksikan video berikut:

Artikel Selanjutnya
Bom Mobil Hantam Kendaraan Militer Afghanistan, 13 Orang Tewas
Artikel Selanjutnya
Teror Golok di Brussels, 2 Tentara Terluka