Sukses

Rudal 'Nuklir Super' AS Dapat Jangkau Korut dalam Waktu 30 Menit

Liputan6.com, Helena - Ketegangan di Semenanjung Korea meningkat dalam hari-hari belakangan seiring dengan intensnya perang kata antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Saling kecam dan ancam membuat berbagai pihak khawatir bahwa perang nuklir dapat pecah sewaktu-waktu. Sejumlah analis meyakini AS dan Korut masih akan menahan diri, tapi tidak ada yang dapat menjamin situasi di Semenanjung Korea terkendali.

Negara Bagian Montana di Amerika Serikat memainkan penting jika AS hendak melancarkan serangan ke Korut. Pasalnya, di sana "terkubur" 150 rudal Minuteman III. Seluruhnya terkunci, terisi, dan siap untuk diluncurkan.

Seperti dikutip dari news.com.au pada Senin (21/8/2017), Minuteman III disebut 20 kali lebih kuat dibanding bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Tak hanya itu, rudal antarbenua tersebut dapat mencapai target dalam waktu setengah jam atau 30 menit.

Dengan perintah Trump, Minuteman III siap dikerahkan kapan saja. Beberapa waktu lalu, Trump sendiri pernah mengatakan akan mengirimkan "api dan kemarahan yang tak pernah disaksikan dunia" dan Montana adalah tempat peluncurannya.

Terdapat sekitar 450 senjata "nuklir super" yang menghuni fasilitas nuklir Montana.

Sersan Kepala Jennifer Hubner mengatakan, seandainya Gedung Putih menelepon, ia dan rekan-rekannya dalam posisi siap. "Tidak seorang pun dari kami berharap bahwa 'hari ini' adalah saatnya. Namun, kami ingin agar musuh berpikir dua kali sebelum mereka memutuskan untuk menggunakan senjata pemusnah massal terhadap kami atau sekutu kami".

Sekutu AS yang dimaksud Hubner juga termasuk Australia. Kepada Negeri Kanguru itu, Hubner mengatakan, "Kami selalu di belakangmu."

Adapun Komandan Ronald Allen menegaskan, "Tak ada musuh yang dapat lolos dari rudal kami. Tak seorang pun. Kami memiliki kemampuan untuk menghalau musuh."

Menurut mantan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta, ancaman serangan Korut ke wilayah AS juga membuat Australia berisiko.

"Saya rasa ini adalah masa yang sangat berbahaya -- mungkin ancaman paling berbahaya yang kita hadapi setelah krisis rudal Kuba," ujar Panetta.

Panetta menyarankan agar Negeri Kanguru mempertimbangkan untuk membangun senjata nuklirnya sendiri. "Anda harus melindungi negara Anda. Mungkin ada saat di mana Kim Jong-un harus menghadapi kenyataan bahwa rezimnya akan berakhir, dan dia akan menekan tombolnya demi membuat sejarah mengenangnya".

Pria berusia 79 tahun tersebut tidak dapat menjelaskan apa yang akan terjadi jika perang nuklir pecah. Namun, yang terbayang di benaknya adalah kematian ratusan ribu atau bahkan jutaan orang dan skala kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Negeri Paman Sam dikabarkan akan mengalokasikan dana sebesar US$ 340 miliar terkait persenjataan nuklir dalam dekade berikutnya. Langkah ini merupakan pencegahan dalam menghadapi musuh-musuhnya, termasuk Korut.

 

Saksikan video berikut:

Artikel Selanjutnya
AS dan Rusia Beda Pendapat Soal Sanksi Kepada Korea Utara
Artikel Selanjutnya
Pasca-Uji Coba Nuklir Korut, Trump Setuju Jual Senjata ke Korsel