Sukses

Dapat Kekebalan Diplomatik, Ibu Negara Zimbabwe 'Bebas'

Liputan6.com, Harare - Grace Mugabe (52), istri Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, telah meninggalkan Afrika Selatan dan kembali ke negaranya. Kepulangan Grace terjadi di tengah tuduhan penyerangan oleh dirinya terhadap seorang model di sebuah hotel di Johannesburg.

Seperti dikutip BBC pada Minggu (20/8/2017), sebuah radio di Zimbabwe mengabarkan bahwa Grace mendarat di Harare pada hari Minggu pagi waktu setempat.

"Presiden Robert Mugabe, ditemani oleh Ibu Negara , tiba dengan penerbangan Air Zimbabwe pada Minggu pagi," demikian laporan yang disampaikan radio milik negara ZBC.

Grace sebelumnya dijadwalkan tampil mendampingi sang suami dalam KTT Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC) di Pretoria. Namun, ia diketahui absen dalam ajang tersebut.

Sementara itu, otoritas Afrika Selatan beberapa waktu lalu mengatakan, Zimbabwe meminta kekebalan diplomatik atas Grace terkait tudingan penyerangan yang dilakukannya terhadap seorang model berusia 20 tahun.

Permintaan kekebalan diplomatik Grace dikabulkan oleh Afrika Selatan. Dengan dikabulkannya permohonan kekebalan diplomatik, Grace dipastikan tidak akan menghadapi persidangan.

 

Kepolisian Afrika Selatan mengatakan, Grace seharusnya hadir dalam persidangan yang digelar pada Selasa depan. Sementara itu, kekebalan diplomatik diberikan atas alasan keamanan.

Mereka khawatir, jika Grace hadir dalam persidangan, besar kemungkinan ia akan diserang massa.

Grace dituding menyerang Gabriella Engels dengan kabel ekstensi listrik setelah model tersebut menemui dua putranya, Robert dan Chantunga, di Capital 20 West Hotel di Johannesburg pada hari Minggu lalu. Tak dijelaskan pasti apa yang memicu perbuatan Grace. Hingga saat ini, perempuan nomor satu di Zimbabwe itu belum buka suara terkait tuduhan atas dirinya.

Adapun pengacara Engels mengatakan, kliennya sempat ditawari sejumlah uang demi menutup kasus ini. Meski demikian, model itu menolaknya.

Artikel Selanjutnya
Putin Akan Kembali Mengusir Diplomat AS dari Rusia?
Artikel Selanjutnya
Selamatkan Rohingya, Kapal Migran Mediterania Bertolak ke Myanmar