Sukses

4 Skenario Ini Bisa Membalik Hasil Akhir Perang Dunia II?

Liputan6.com, Jakarta - Perang Dunia II adalah konflik bersenjata paling berdarah dalam sejarah manusia, sebanyak 50 juta hingga 85 juta manusia menjadi korbannya.

Pertempuran yang berawal pada 1 September 1939 dan berakhir pada 2 September 1945 memiliki dampak langsung maupun tak langsung pada hampir seluruh negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. 

Ada beberapa versi soal pemicu Perang Dunia II, dari kekecewaan yang dipicu Perjanjian Versailles 1919 yang membuka peluang kemunculan Adolf Hitler dan Partai Nazi yang dipimpinnya, hasrat Sang Fuhrer untuk menguasai Eropa, hingga penyerangan Kekaisaran Jepang ke teritorial Amerika Serikat di Hawaii.

Namun, dampak seperti apa yang muncul jika ketiga faktor di atas --beserta faktor dan peristiwa lain-- tidak terjadi dalam alur sejarah Perang Dunia II, melainkan serangkaian peristiwa yang berbeda?

Mungkinkah Nazi tetap menguasai Jerman hingga sekarang? Atau mungkin, Jepang berhasil menguasai seluruh Pasifik seperti yang diidam-idamkan Negeri Sakura?

Dari berbagai contoh, berikut sejumlah fakta sejarah alternatif jika empat hal ini jadi fakta Perang Dunia II, seperti yang Liputan6.com rangkum dari TopTenz.com, Kamis (17/8/2017).

1 dari 5 halaman

1. Seandainya Pendaratan Normandia Gagal

Invasi Normandia atau yang lebih populer dengan sebutan 'D-Day' menandakan hari kemenangan Sekutu melawan Nazi Jerman. (Sumber: Express UK)

Pendaratan tentara Sekutu di Pantai Normandia, Prancis pada 6 Juni 1944 digadang-gadang sebagai titik balik bagi Amerika Serikat Cs untuk memenangkan Perang Dunia II.

Dari sana, pasukan Sekutu menyeruak masuk ke Prancis, Belanda, kemudian Jerman. Nazi pun akhirnya tumpas.

Akan tetapi, apa yang terjadi jika pendaratan 156.000 pasukan sekutu di pantai tersebut gagal? Atau misalnya, pasukan Nazi Jerman yang membentengi diri di garis pantai Normandia berhasil menghalau pasukan Sekutu untuk menginjakkan kaki lebih jauh?

Menurut sejarawan dan pakar militer, kegagalan pendaratan akan mengakibatkan dampak krusial bagi Sekutu dalam pertempuran di teater Eropa.

Dari segi sumber daya militer, kegagalan pendaratan di Normandia akan mengakibatkan kerugian besar dari segi personel dan alutsista. Banyak nyawa yang melayang dan peralatan tempur yang rusak.

Menurut Jenderal Inggris Sir Richard Dannatt, jika operasi 6 Juni 1944 mengalami kegagalan, butuh waktu bertahun-tahun bagi Sekutu untuk menyiapkan kembali personel dan alutsista demi melancarkan pendaratan Normandia jilid 2.

Dan persiapan yang sangat lama itu akan memanjangkan periode Perang Dunia II hingga mungkin melebih tahun 1945. Atau yang paling signifikan adalah, membuat Nazi memenangi pertempuran di Benua Biru.

2 dari 5 halaman

2. Seandainya Nazi Menyerang Dunkirk

Evakuasi Dunkirk 1940 (Wikimedia Commons)

Pada tahun 1940, Serangan Kilat (blitzkrieg) pasukan Nazi Jerman berhasil meluluhlantakkan dataran Eropa. Hasilnya, Polandia, Norwegia, Denmark, Belanda, Luksemburg, dan Belgia berhasil direbut oleh pasukan Adolf Hitler dalam kurun waktu yang cukup cepat.

Prancis jadi salah satu negara yang diambang jatuh ke tangan Nazi Jerman saat salah satu kota di Prancis yang dianggap vital dari segi strategi militer hendak direbut oleh pasukan Wehrmacht (angkatan darat Nazi Jerman). Kota itu adalah Dunkirk.

Saat Wehrmacht hendak tiba di Dunkirk pada 1940, Adolf Hitler memerintahkan secara langsung agar pasukan Nazi Jerman menunda serangan ke kota pelabuhan di pinggir perbatasan Prancis itu.

Padahal Panglima Nazi Jerman Herman Goering berujar bahwa pasukan udara Luftwaffe mampu dengan cepat membombardir kota yang menampung 300.000 pasukan Sekutu dan dengan mudah mengambil-alih kekuasaan Dunkirk ke tangan Hitler.

Tak dinyana, hal itu diketahui dan dimanfaatkan dengan baik oleh pasukan Sekutu. Sekitar 300.000 pasukan dan alutsista penting berhasil dievakuasi dari Dunkirk dalam rentang waktu singkat, menandai keuntungan besar bagi Inggris pada tahap Perang Dunia II selanjutnya.

Jika saja Nazi Jerman memutuskan untuk menyerang Dunkirk ketimbang menundanya, 300.000 pasukan Sekutu mungkin akan berhasil diporak-porandakan oleh Wehrmacht. Dan keuntungan berpihak ke Adolf Hitler.

3 dari 5 halaman

3. Seandainya Nazi Punya Bom Atom

Ilustrasi bom nuklir (iStock)

Sejak 1939, Nazi Jerman telah berencana untuk memproduksi bom nuklir. Namun faktanya, seperti yang telah terjadi, Adolf Hitler tak berhasil memilikinya.

Namun, apa yang terjadi jika ternyata Reich Ketiga berhasil memproduksi bom nuklirnya dan mendahului 'Fat Man and Little Boy' --bom nuklir-- milik Amerika Serikat yang menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima?

Menurut majalah mingguan berkala The National Interest, apabila Nazi berhasil menciptakan bom nuklir lebih dulu dari AS, hal itu diyakini tidak akan memberikan banyak perbedaan, Bagaimanapun Reich Ketiga tetap akan kalah dalam Perang Dunia II.

Mengapa? Karena Nazi Jerman dinilai tidak mampu mengirim bom itu ke lokasi sasaran. Berikut alasannya.

Pertama, menurut sejarawan, bom atom seperti milik AS dikirim menggunakan pesawat bomber khusus mengingat ukuran 'Fat Man and Little Boy' yang besar. Namun, pakar sejarah menilai bahwa Nazi Jerman tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun pesawat semacam itu.

Maka, Jerman harus mempertimbangkan opsi alternatif seperti mengecilkan ukuran bom nuklir dan mengirimnya ke lokasi sasaran menggunakan transportasi lain, semisal kapal atau kapal selam. Namun, riwayat sejumlah alutsista milik Nazi Jerman tersebut terkenal sering mengalami malfungsi.

Andaikan berhasil, lokasi yang berpotensi dan realistis dapat dijangkau oleh Nazi Jerman, hanyalah Moscow dan London. Namun, menyerang kedua kota itu dengan bom nuklir tidak akan memberikan keuntungan signifikan. Ditambah lagi dengan kedatangan Amerika Serikat ke Eropa.

Sehingga menurut pakar, meski Nazi Jerman memiliki bom nuklir lebih awal ketimbang Amerika Serikat, dewi fortuna tidak akan berpihak ke Reich ketiga.

Karena, sesungguhnya sangat banyak faktor yang menjadi penyebab kekalahan Nazi --seperti berperang di segala penjuru dan personel yang keletihan-- dalam Perang Dunia II.

4 dari 5 halaman

4. Seandainya Nazi Bekerja Sama dengan Jepang

Tentara Jepang pada Perang Dunia II (Wikimedia Commons)

Ketidakefektifan Nazi Jerman untuk meminta bantuan Jepang dalam proses invasi Uni Soviet, dianggap sebagai salah satu kesalahan besar.

Pasalnya, jika sejumlah pasukan Negeri Sakura turut ikut menyerang Uni Soviet dari Timur, hal itu akan memecah konsentrasi Tentara Merah dan membuat mereka melakukan perang dua arah.

Ditambah lagi, berdasarkan laporan sejarah, divisi Siberia Tentara Merah yang berbasis di Uni Soviet barat, merupakan pasukan yang dianggap membuat Wehrmacht kewalahan di Stalingrad dan Leningrad.

Jika Jepang terlibat, divisi Siberia mungkin akan dikerahkan untuk membendung Negeri Sakura di timur. Dan hal itu mungkin akan membuka peluang kesuksesan Nazi Jerman untuk menduduki Moskow, atau bahkan, memenangkan Perang Dunia II.

 

Saksikan juga video berikut ini

Artikel Selanjutnya
6 Negara Sudah Pastikan Tiket ke Piala Dunia 2018
Artikel Selanjutnya
2-9-1945: Jepang Menyerah, Momentum Berakhirnya Perang Dunia II