Sukses

Kisah Patung Sang Jenderal yang Menguak Luka Lama Amerika

Liputan6.com, Charlottesville - Patung perunggu itu menggambarkan sosok Jenderal Konfederasi Robert E Lee. Duduk tegak di atas kuda, ia terlihat gagah meski sejatinya di pihak yang kalah.

Bagi sebagian warga Amerika Serikat bagian Selatan, Lee adalah pahlawan dalam narasi "The Lost Cause", yang berusaha mengaitkan kubu Konfederasi dalam Perang Saudara AS dengan perjuangan mempertahankan hak-hak negara bagian dan pemerintahan otonom -- bukan lantaran mereka ingin mempertahankan hak untuk memperbudak manusia lain.

Beruntung mereka kalah dari kubu lawan, Uni (Union), karena dengan itu, praktik perbudakan tumpas dan memungkinkan seorang Barack Obama bisa menjadi Presiden Amerika Serikat. 

Banyak yang menganggap sang jenderal sebagai simbol rasisme dan perbudakan di Amerika Serikat. 

 Patung Jenderal Konfederasi Robert E. Lee (Chip Somodevilla / Getty Images / AFP)

Karena itulah, meski sudah ada sejak 1924, keberadaan patungnya di Charlottesville, Virginia, digugat.

Namun, keputusan dewan kota untuk mencopot patung itu dan menjualnya mendapat perlawanan.

Kelompok supremasi kulit putih, Ku Klux Klan, dan neo-Nazi ada di pihak yang menuntut patung itu dipertahankan.

Hari itu, Sabtu 12 Agustus 2017, ketegangan antara dua kubu pecah jadi bentrok fisik di Emancipation Park, yang beberapa bulan sebelumnya masih bernama Lee Park.

Perang kata-kata dan perkelahian fisik berubah jadi insiden maut saat mobil yang dikemudikan James Alex Fields Jr (20) menabrak kerumunan demonstran anti-fasis.

Akibat Heather Heyer (32) tewas, sementara 19 orang lainnya cedera. Amerika pun terguncang.

Apa yang terjadi di Charlottesville membuka kembali luka lama yang dipicu perpecahan Perang Saudara 1861-1865.

Sebuah sedan hendak menabrak kerumunan demonstran di Charlottesville, Virginia (AP)

Keturunan Jenderal Robert E Lee ikut mengutuk kekerasan yang terjadi akibat patung nenek moyangnya.

"Jika mereka memilih untuk menurunkan patung-patung itu, tidak masalah," kata Robert E Lee V, cucu buyut sang jenderal, seperti dikutip dari CNN, Kamis (17/8/2017).

Namun, ia menegaskan, apa pun yang terjadi, keputusan harus diambil dengan kepala dingin. Tanpa didasari kebencian apalagi kekerasan.

Pria 54 tahun itu berharap, patung kakek buyutnya, maupun simbol Konfederasi lain bisa dimuseumkan.

Robert E Lee V, yang bekerja sebagai direktur atletik di sebuah sekolah di Virginia, menyebut insiden di Charlottesville sama sekali tak masuk akal. Keluarganya menganggap itu hal yang menyedihkan.

"Kami yakin, Jenderal Lee tak akan pernah mendukung kekerasan semacam itu," tegas dia.

Dalam pernyataannya, keluarga Jenderal Robert E Lee juga menceritakan kehidupan kakek moyang mereka.

"Pada akhir Perang Saudara, ia mengimbau seluru bangsa untuk bersatu, menyembuhkan luka bersama, melangkah maju sebagai negara yang lebih bersatu," seperti dikutip dari pernyataan tersebut.

Ilustrasi Perang Saudara Amerika (Wikipedia)

"Ia tak akan menoleransi kata-kata penuh kebencian dan aksi kekerasan yang dilakukan kelompok supremasi kulit putih, KKK (Ku Klux Klan), atau neo-Nazi."

Kepada CNN, Robert E Lee V mengatakan, keluarganya bangga menjadi keturunan dari sang jenderal. Namun, keterkaitan darah itu tak menjadi fokus dalam hidup mereka.

Bukan kali ini saja simbol-simbol Konfederasi dipersoalkan.

Pada 2015, terjadi pembantaian yang menewaskan sembilan jemaat Emanuel African Methodist Episcopal Church di Charleston, South Carolina.

Pelakunya, yang menyebut dirinya sebagai pendukung supremasi kulit putih, diketahui kerap berpose dengan bendera Konfederasi.

Sejak itulah, debat soal simbol-simbol Konfederasi berlangsung panas. Perang Saudara Amerika yang terjadi 156 tahun lalu mungkin belum benar-benar tamat.

 

1 dari 2 halaman

Menolak Dijadikan Patung

Sikap berbeda soal patung Jenderal Tentara Konfederasi Robert E Lee yang berdiri di Charlottesville mengerucut jadi dua kubu.

Kubu pertama adalah mereka yang ingin melestarikan dan membiarkan patung itu tetap berada pada tempatnya, menganggapnya sebagai benda bersejarah. Mereka diwakili oleh kelompok supremasi kulit putih, fasis - rasialis, ultranasionalis, ekstremis sayap kanan, dan yang terinspirasi.

Kubu kedua adalah mereka yang ingin merobohkan pahatan figur sang jenderal Konfederasi, karena menganggapnya sebagai simbol glorifikasi perbudakan Afrika-Amerika dan rasialisme pada masa Antebellum (pra-Perang Saudara) di AS.

Kubu kedua terdiri dari kelompok penggiat hak-hak sipil Afrika-Amerika, liberalis - pluralis, hingga ekstremis sayap kiri. 

Perselisihan dari kedua kubu itulah yang menjadi akar penyebab demonstrasi berdarah di kota Charlottesville pada Sabtu 12 Agustus lalu. Satu orang tewas dan 19 lainnya terluka setelah seorang pria simpatisan kubu pertama memacu mobil yang dikendarainya ke arah demonstran kelompok kedua.

Bagai api tersiram minyak, peristiwa yang awalnya merupakan demonstrasi terkait patung Robert E Lee, merebak menjadi krisis sosial-politik yang sarat mengandung narasi dan tendensi rasialisme, fasisme, serta ultranasionalisme di seantero Negeri Paman Sam.

Akan tetapi, menurut pengandaian atas penelusuran dokumen sejarah, jika Robert E Lee masih hidup, sang jenderal justru tak berkenan dirinya diabadikan menjadi patung seperti yang ada di Charlottesville. Demikian seperti dilansir CNN, Kamis (17/8/2017).

Patung Robert E Lee versi Charlottesville, Virginia (AP)

Dokumen sejarah yang ditelusuri itu bersumber dari sejumlah teks yang ditulis oleh Jenderal Lee seorang.

"(Patung itu) terus membuka luka lama perang (Perang Saudara AS)," tulis sang jenderal seperti yang diutarakan oleh sejarawan Jonathan Horn dan dikutip oleh CNN.

Dalam surat yang ditulis Lee kepada Jenderal Konfederasi Thomas L Rosser pada 1866, pria yang kini diabadikan menjadi monumen berkuda di Charlottesville itu menuturkan;

"Mengenai pendirian monumen semacam itu, saya meyakini, meski Selatan (Konfederasi) akan sangat bersyukur, namun, hal itu akan memiliki efek berlanjut atau menambah kesulitan bagi Selatan," ujar Lee kepada Rosser dalam suratnya.

Tiga tahun kemudian pasca-surat itu, Jenderal Lee diundang hadir dalam pertemuan para perwira tinggi militer Union (negara bagian di utara) dan Konfederasi (negara bagian di selatan) pada 1869.

Pertemuan itu membahas tentang rencana pembangunan monumen penghormatan bagi para tentara yang gugur dalam pertempuran Gettysburg, konflik bersenjata paling berdarah dalam rangkaian Perang Saudara.

Namun, pria kelahiran Virginia itu menolak hadir. Melalui sebuah surat, sang jenderal menjelaskan keengganan-nya bertandang ke pertemuan itu. Ia menulis;

"Saya pikir adalah hal yang bijak untuk tidak terus membuka luka lama perang. Tetapi, (AS) baiknya mengikuti contoh dari negara yang berusaha untuk menghapus tanda-tanda yang menunjukkan bekas perselisihan antar saudara sesama bangsa. Dan, berkomitmen untuk melupakan perasaan yang timbul (dari perselisihan lama)," tulis Robert E Lee.

Patung Robert E Lee versi New Orleans, Louisiana yang telah diturunkan sejak 19 Mei 2017 (AP)

Namun, surat itu tak cukup kuasa untuk mencegah pembangunan monumen dan patung memorial Perang Saudara yang kini berdiri serta tersebar di seantero Negeri Paman Sam. Termasuk salah satunya, pahatan yang mengabadikan Jenderal Lee di Charlottesville.

Bagai api dalam sekam, patung dan monumen itu kini menyulut kembali bara panas noktah hitam isu perbudakan dan rasialisme, dua topik yang dulu menjadi musabab pecahnya Perang Saudara.

Meski gencar menolak pembangunan patung bernuansa Perang Saudara, namun berdasarkan dokumen sejarah, Jenderal Robert E Lee dianggap sebagai sosok yang memiliki dualisme pandangan tentang perbudakan.

Dalam surat yang ia tulis pada 1865 misalnya, sang jenderal menyebut perbudakan sebagai tindakan yang 'jahat dari segi moral dan politik'.

Namun dalam surat berbeda di tahun yang sama, Lee --yang juga pemilik budak Afrika-Amerika-- menulis, "pendisiplinan yang menyakitkan yang dialami mereka (Afrika-Amerika) merupakan hal yang perlu untuk menanamkan instruksi mereka sebagai sebuah ras."

Terlepas akan hal itu, konsistensi sang jenderal yang terus menolak pembangunan monumen memorial Perang Saudara, membuatnya seakan menjadi ahli nujum yang mampu memprediksi masa depan.

"Lee takut bahwa monumen itu melestarikan hasrat dan memori masa lalu," tutur Horn dalam buku biografi Robert Lee yang ditulisnya yang berjudul 'The Man Who Would Not Be Washington'.

"Memori dan hasrat itu mengancam proses rekonsiliasi AS," ujarnya melengkapi dalam sebuah wawancara dengan CNN.

 

Saksikan juga video berikut ini

 

Artikel Selanjutnya
31-8-1997: Kabar Kematian Putri Diana Menggemparkan Dunia
Artikel Selanjutnya
Simpan Jasad Ayah di Bak Mandi Selama 3 Tahun, Pria Ini Ditahan