Sukses

Putri Diana, Sang Pendobrak Aturan Berbusana Kerajaan Inggris

Liputan6.com, London - Putri Diana mendobrak aturan berbusana Kerajaan Inggris dengan bantuan sejumlah desainer terkenal. Perempuan yang memiliki jiwa sosial tinggi itu pun dijuluki menjadi salah satu legenda fashion dunia.

"Diana menjadi fashion icon sama seperti Jackie Kennedy atau Audrey Hepburn -- tak lekang oleh waktu, elegan, dan masih relevan hingga saat ini," ujar Eleri Lynn, kurator pertunjukan bertajuk Diana: Her Fashion Story.

Diana dijuluki 'Shy Di' atau 'Diana si Pemalu' menjelang pernikahannya dengan Pangeran Charles. Namun setelah menikah, ia keluar dari cangkangnya dan menyadari bahwa pakaiannya bisa digunakan sebagai alat komunikasi yang hebat.

"Sang Putri belajar untuk membuat apa yang ia kenakan mengatakan apa yang tak dapat dikatanya, dan bekerja sama dengan para desainer seperti Catherine Walker untuk menunjukkan kepribadiannya melalui pakaian," ujar fashion director majalah Tatler, Sophie Goodwin, kepada The New York Times.

Dikutip dari Hindustan Times, Rabu (16/8/2017), Diana sangat mahir mengenakan pakaian yang sesuai dengan acaranya. Ia mengenakan pakaian berwarna cerah saat mengunjungi rumah perawatan agar menampilkan kesan hangat dan akrab.

Putri Diana dan ibunya Frances Shand Kydd (AP)

Saat kunjungan luar negeri, Diana akan memilih pakaian yang terinspirasi dari warna nasional. Misalnya waktu berkunjung ke Jepang pada 1986, ia mengenakan gaun putih dengan bintik merah.

Perempuan berdarah bangsawan itu juga memilih untuk tak memakai sarung tangan. Hal tersebut sengaja Diana lakukan agar ia dapat berhubungan langsung dengan orang-orang yang ditemuinya.

Hal tersebut berbeda dengan Ratu Elizabeth. Pemimpin monarki terlama itu sengaja mengenakan sarung tangan agar bakteri tak mudah berpindah ke tubuhnya.

Sebuah gambar yang memperlihatkan Putri Diana berjabat tangan dengan pengidap AIDS pada 1987, membuat dunia heboh. Langkah Diana itu membantu meruntuhkan mitos yang menyebut bahwa penyakit tersebut dapat tertular dengan bersentuhan langsung dengan penderitanya.

Putri Diana saat mengunjungi rumah sakit yang merawat pasien penderita kusta di Indonesia (The Leprosy Mission)

Meski memahami aturan berbusana istana, Diana tak takut untuk mendobraknya.Ia melanggar protokol kerjaan dengan mengenakan gaun dansa berwarna hitam, warna yang dipakai secara formal oleh wanita kerajaan hanya saat berkabung.

Diana juga pernah mengenakan pakaian androgini, seperti tuxedo dan dasi kupu-kupu. "Itu adalah penampilan berani yang tak pernah dibayangkan bisa dikenakan oleh seorang putri," kata Lynn.

Ia mengatakan bahwa Lady Di merupakan perempuan pertama di keluarga kerajaan yang mengenakan celana panjang dalam acara malam.

Putri Diana ketika berdansa dengan John Travolta (Ronald Reagan Library)

Perempuan kelahiran 1 Juli 1961 juga membuat pakaian kerajaan lebih modern dan berkesan. Salah satu pakaian Diana yang paling dikenang adalah gaun biru tua berbahan beludru rancangan desainer Inggris Victor Edelstein.

Gaun itu dikenakan dirinya saat memenuhi undangan makan malam di Gedung Putih pada 1985. Saat itu, ia berdansa dengan aktor Hollywodd John Travolta -- gaun itu pun dikenal dengan nama Travolta Dress.

Setelah bercerai dengan Pangeran Charles pada 1996, Diana mengganti gaya busananya lagi. Ia mulai memakai desainer di luar Inggris, seperti Dior, Lacroix, dan Chanel.

"Selama bertahun-tahun, Princess of Wales menjadi satu-satunya obsesi fashion dunia, dan pendahulu gaya glamor modern seperti yang kita kenal," tulis Sarah Mower di surat kabar Daily Mail.

Penampilan Putri Diana ditiru secara luas dan menginspirasi sejumlah catwalks dan desainer hingga saat ini.

 

Simak video berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Heboh Prediksi Nama Calon Anak Ketiga Kate Middleton
Artikel Selanjutnya
Benarkah Putri Diana Menolak Lamaran Dodi Al Fayed?