Sukses

Rusia Sesatkan Navigasi GPS di Laut Hitam?

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah laporan muncul terkait permasalahan navigasi satelit di Laut Hitam. Diduga Rusia sedang menguji sistem baru untuk menyesatkan GPS (Global Positioning System).

Sistem baru Rusia itu bisa menjadi pertanda awal bentuk perang elektronik yang bisa dijangkau, baik oleh negara-negara bandel maupun pelaku kriminal kelas teri.

Pada 22 Juni lalu, US Maritime Administration mengajukan laporan kejadian aneh. Seorang nakhoda kapal di lepas pantai Novorossiysk, Rusia, mendapati GPS-nya memberikan lokasi yang salah. Kapalnya seakan berada 32 kilometer di daratan, tepatnya di bandara Gelendzhik.

Setelah memeriksa untuk memastikan perangkatnya bekerja baik, kapten itu menghubungi beberapa kapal lain di dekatnya.

Ternyata, sistem pelacak kapal (automatic identification system, AIS) pada kapal-kapal lain juga memberikan indikasi bahwa mereka berada di bandara yang sama.

Dikutip dari New Scientist pada Senin (14/8/2017), setidaknya ada 20 kapal yang terdampak keanehan tersebut.

Walaupun insiden itu belum dikonfirmasi, para pakar menduga inilah dokumentasi pertama adanya penggunaan penyesatan GPS.

1 dari 3 halaman

Pokemon Go Jadi Bukti

Seorang perempuan muda sedang bermain Pokemon Go di Stasiun Biblioteka Imeni Lenina. Sumber: Mikhail Tereshchenko/TASS

Serangan spoofing (serangan ke akses secara ilegal) penyesatan GPS sudah lama diperingatkan bisa terjadi, hanya saja belum ada kasus yang mengemuka.

Hingga sekarang, kekhawatiran utama serangan pada GPS adalah penggunaan derau (noise) untuk mengganggu sinyal satelit GPS. Gangguan itu memang bisa menyebabkan kekacauan, tapi mudah dideteksi.

Perangkat penerima GPS membunyikan alarm ketika kehilangan sinyal akibat jamming. Sementara, spoofing lebih tersamar karena sinyal palsu dari stasiun darat bisa cukup membingungkan penerima sinyal satelitnya.

Seorang konsultan bernama David Last, yang juga mantan presiden Royal Insitute of Navigation di Inggris, menjelaskan, "Jamming menyebabkan perangkat penerimanya mati, sedangkan spoofing menyebabkan penerima sinyalnya berbohong.”

Terkait dengan insiden Laut Hitam, Last menduga adanya suatu perangkat baru yang sanggup menyebarkan gangguan meluas, misalnya jika digunakan dalam pertikaian Rusia dengan Ukraina.

"Menurut dugaan saya, ini adalah pengujian suatu sistem yang suatu saat nanti akan digunakan secara tidak baik."

Selain David Last, selama bertahun-tahun, Todd Humphreys dari University of Texas di Austin, pernah memperingatkan kemungkinan adanya spoofing terhadap GPS. Pada 2013, ia menunjukkan bahwa navigasi canggih pada sebuah superyacht sekalipun bisa dijebak oleh spoofing.

Terkait insiden GPS di Laut Hitam, ia mengatakan, "Perilaku penerima dalam insiden Laut Hitam sangat serupa dengan serangan rekaan yang pernah dilakukan oleh tim saya."

Humphreys berpendapat bahwa itu adalah ulah Rusia yang sedang melakukan eksperimen dengan bentuk baru peperangan elektronika.

Selama setahun belakangan, spoofing GPS telah menyebabkan kekacauan aplikasi di pusat kota Moskow.

Keparahan masalah itu tidak terasa sebelum orang bermain Pokemon Go. Sinyal palsu yang diduga berpusat di Kremlin menggiring orang-orang ke bandara Vnukovo yang terletak 32 kilometer jauhnya.

Penyesatan tersebut mungkin memiliki alasan pertahanan karena banyak bom, rudal dan drone milik NATO mengandalkan navigasi GPS.

Keberhasilan spoofing menyebabkan semua itu gagal mengenai sasaran-sasaran sebenarnya.

Tapi sekarang gangguan lokasi itu dipakai jauh dari Kremlin.

2 dari 3 halaman

Penyebaran dan Penggunaan Teknologi Jahat

Krisis Ukraina (BBC)

Beberapa pihak mengkhawatirkan penyebaran spoofing yang menjadi indikasi semakin mudahnya melakukan hal itu. 

Di masa lalu, spoofing terhadap GPS memerlukan keahlian teknis yang tinggi. Pada 2008, Humphreys menciptakan sistem spoofing dari awal.

Sekarang, pembuatan pengacau itu bisa dilakukan menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang bisa didapatkan dari internet.

Selain itu, daya yang diperlukan pun tidak terlalu besar. Sinyal satelit memang sangat lemah, hanya sebesar 20 watt dari jarak 36 ribu kilometer di orbit.

Dengan demikian, pemancar berkekuatan 1 watt yang ditempatkan di puncak bukit, pesawat terbang, atau drone cukup untuk melakukan spoofing.

Jika hardware dan software semakin mudah didapat, maka bukan hanya negara-negara yang bisa menggunakan teknologi ini. Seorang peretas yang piawai pun bisa melakukannya.

Sejauh ini memang belum ada laporan autentik kejadian spoofing untuk tujuan kriminal. Akan tetapi, tidak susah bagi para pelaku kejahatan untuk menggunakan peretasan guna menyesatkan kendaraan tanpa pengemudi atau drone sekalipun, atau untuk membajak perahu-perahu otonom.

Semua perangkat yang terdampak oleh spoofing akan mengarah ke lokasi yang sama, jadi seorang pembajak hanya memerlukan sistem jarak pendek untuk mengganggu satu kendaraan.

Walaupun demikian, Humphreys menduga spoofing oleh negara menjadi ancaman yang lebih serius. Katanya, "Hal itu berdampak kepada keamanan operasi di suatu kawasan yang luas."

"Di perairan sibuk bercuaca buruk seperti Selat Channel di Inggris, gangguan itu bisa menimbulkan kebingungan hebat hingga kemungkinan tabrakan."

 

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

Artikel Selanjutnya
1-9-1983: AS Tuduh Uni Soviet Dalang Jatuhnya Korean Airlines
Artikel Selanjutnya
Ini Spesifikasi KRI Nagapasa-403, Kapal Selam TNI Buatan Korsel