Sukses

Heli Jatuh dan Terbakar Saat Pantau Demo Virginia, 2 Polisi Tewas

Liputan6.com, Virginia - Sebuah helikopter kepolisian jatuh saat bertugas memantau aksi demonstrasi yang terjadi di Kota Charlottesville, Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat, pada Sabtu, 12 Agustus 2017. Akibatnya, seluruh awak tewas.

Korban tewas adalah pilot Jay Cullen (48 tahun) dan awak Berke Bates (40 tahun). Keduanya merupakan anggota Kepolisian Negara Bagian Virginia. Demikian seperti dilansir CNN, Minggu (13/8/2017).

Helikopter itu jatuh di kawasan pepohonan lebat, tak jauh dari lokasi aksi protes di Charllotesville. Beruntung, tak ada orang di darat yang menjadi korban dalam peristiwa itu.

Semula, burung besi beserta awak ditugaskan untuk berpatroli dan memantau situasi demonstrasi. Namun, karena sebab yang belum diketahui, helikopter itu terjatuh, menghantam tanah, dan terbakar.

"Helikopter itu ditugaskan untuk membantu melakukan pemantauan di udara terkait situasi yang terjadi di Charlottesville," ujar pernyataan resmi dari kepolisian.

Otoritas setempat masih menyelidiki penyebab jatuhnya helikopter itu.

Gubernur Virginia Terry McAuliffe sangat berduka atas kematian Jay Cullen dan Berke Bates. Ia dan istri menganggap kedua almarhum sebagai "awan dekat".

"Jay telah sering mengantarkan kami ke penjuru wilayah selama tiga setengah tahun terakhir. Sementara Berke adalah pria yang berdedikasi bagi keluarga dan pekerjaannya," jelas McAuliffe.

Belasungkawa turut diutarakan oleh Presiden Donald Trump pada 13 Agustus. Melalui akun Twitternya, ia berkata, "Turut berduka untuk para keluarga dan kepolisian Virginia atas meninggalnya dua petugas. Mereka adalah putra terbaik bangsa."

Selain kasus jatuhnya helikopter, demonstrasi di Charlottesville juga ditandai dengan kasus penabrakan sebuah mobil terhadap kelompok demonstran. Akibatnya, satu orang tewas dan 19 lainnya terluka ketika sedan jenis Dodge Challenger berkecepatan tinggi menabrak kerumunan.

Tensi tinggi sarat kekerasan tengah meningkat di Kota Charlottesville, Virginia, Amerika Serikat, sejak Sabtu 12 Agustus 2017. Hal itu dipicu oleh bentrokan antara dua kubu demonstran, yakni kelompok supremasi kulit putih dan kelompok oposisi.

Demonstrasi itu berujung baku hantam antara kedua kelompok. Aparat penegak hukum yang menangani aksi turut terlibat perkelahian dengan beberapa peserta. Sekitar 15 orang mengalami luka cukup serius akibat bentrokan antardemonstran.

Kelompok supremasi kulit putih mengadakan demonstrasi demi menentang keputusan kota untuk menurunkan patung Robert E Lee di Charlottesville. Lee merupakan komandan militer Konfederasi Amerika (CSA) pada masa Perang Sipil AS (1861 - 1865).

Aksi demo yang menentang penurunan patung Robert E Lee itu bertajuk "Unite the Right". Seperti yang dikutip dari New York Times, demonstrasi itu menarik kelompok supremasi kulit putih, Ku Klux Klan, neo-Nazi, alt-Right, dan individu berhaluan politik ekstrem kanan untuk ikut bergabung.

Sementara itu, kelompok demonstran oposisi berusaha menentang aksi protes yang dilakukan oleh kubu supremasi kulit putih. Kubu oposisi menganggap bahwa aksi yang dilakukan kelompok supremasi seakan membangkitkan kembali memori Perang Sipil dan isu rasialisme.

Kubu demonstran oposisi terdiri dari komunitas Afrika-Amerika, anti-fasis, kelompok agama, dan sejumlah individu berhaluan politik liberal.

Merespons rangkaian kekerasan yang terjadi Charlottesville, Gubernur Virginia Terry McAuliffe menetapkan status darurat di kawasan tersebut.

Melalui akun Twitternya, McAuliffe mendeklarasikan bahwa otoritas negara bagian akan turun tangan menangani Charlottesville demi meredakan kekerasan dan memulihkan ketertiban.

Sang gubernur juga mengimbau kepada kelompok supremasi kulit putih untuk membubarkan diri. "Pulanglah. Kalian patut merasa malu," katanya.

Wali Kota Charlottesville Mike Signer turut mengimbau hal yang sama. Ia mengatakan, "Sangat sedih akibat nyawa yang hilang di sana. Pulanglah kalian semua."

 

Saksikan juga video berikut ini