Sukses

13-8-1868: Kapal Angkatan Laut AS Terbawa Tsunami ke Daratan

Liputan6.com, Arica - Ini yang terjadi di Arica 13 Agustus 1868: gempa dahsyat memaksa orang-orang bergegas keluar dari rumah yang sebentar lagi rubuh, lalu berjalan terseok-seok di jalanan retak penuh puing.

Sejumlah orang yang menatap langit yang membara seketika berseru, "El Vulcan!". Mereka mengira, gunung api sedang meletus. Perkiraan itu salah total.

Sekitar 30 menit kemudian, bayangan hitam nampak di kejauhan, kian lama kian besar. Warga terlambat menyadari, itu adalah gelombang raksasa, terbentuk dari air bercampur pasir, yang siap menerjang, demikian digambarkan dalam buku The Book of the Damned: The Collected Works of Charles Fort.

Dua tsunami terbentuk pascagempa yang kekuatannya diperkirakan mencapai 8,5 hingga 9 skala Richter hari itu.

Gelombang pertama menghantam pinggiran pantai. Yang kedua adalah 'monster', ketinggiannya mencapai 90 kaki atau lebih dari 27 meter.

Kapal Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) Fredonia hancur berkeping terhempas karang. Kapal militer AS lainnya, USS Wateree juga dihela paksa ke daratan.

"Kami tak bisa berbuat apapun saat melihat gelombang monster itu datang," kata seorang saksi mata, Letnan LG Billings seperti dikutip dari buku Witness to Disaster: Tsunamis karya Judy Fradin.

Tsunami yang dipicu gempa 9 SR di Arica merusak kapal Amerika Serikat USS Wateree (Wikimedia Commons)

"Kami terjebak di tengah air, tercekik, seakan abadi di dalamnya. Kapal kami Wateree kemudian terdorong ke permukaan, bersama para awaknya yang megap-megap."

Ajaibnya, tak ada satupun korban jiwa jatuh dari Wateree -- yang berakhir di daratan, 393 meter jauhnya dari bibir pantai.

Sementara itu, gelombang gergasi menerjang dan meremukkan apapun yang dilaluinya.

Saat mundur, tsunami merengkuh apapun yang bisa dibawanya ke laut dalam: puing-puing, pepohonan, hewan ternak, juga manusia-manusia tak berdaya.

Di Arica saja, gempa dan tsunami menyudahi 25 ribu nyawa manusia. Sementara itu, sebanyak 70 ribu orang tewas di sepanjang pesisir Peru dan Chile. Jasad-jasad ditemukan mengapung di aliran-aliran air dan tepian pantai.

Sketsa gambaran situasi Arica pasca-gempa dan tsunami 13 Agustus 1868 (Wikipedia/Illustrated London News)Ayunan tsunami juga menerjang Hawaii yang jauhnya ribuan kilometer, bahkan sampai ke Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Gelombang yang sudah menyusut tingginya itu masih mampu merenggut ratusan nyawa.

Arica yang saat bencana adalah wilayah Peru, kini menjadi bagian dari Chile. Belakangan, ilmu pengetahuan menguak, gempa mematikan saat itu terjadi akibat subduksi Lempeng Nazca ke Lempeng Amerika Selatan. 

Momentum sejarah pada 13 Agustus tak hanya bencana gempa Arica. Tanggal yang sama juga diwarnai sejumlah peristiwa, misalnya pada 1961, Tembok Berlin yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur mulai dibangun oleh pemerintah Jerman Timur. Sementara, pada 1999 Nisshoki menjadi bendera resmi Jepang.

Saksikan juga video berikut ini:

Artikel Selanjutnya
1-9-1983: AS Tuduh Uni Soviet Dalang Jatuhnya Korean Airlines
Artikel Selanjutnya
Ini Spesifikasi KRI Nagapasa-403, Kapal Selam TNI Buatan Korsel