Sukses

Ini Peringatan China Jika Korut Nekat Menyerang AS

Liputan6.com, Beijing - China tidak akan membantu Korea Utara jika negara itu kelak mendapat balasan atas serangannya ke Amerika Serikat. Namun, Tiongkok akan melakukan intervensi jika Washington menyerang lebih dulu.

Pernyataan tersebut dimuat dalam surat kabar milik negara, Global Times.

Media tersebut memang bukan merupakan corong resmi Partai Komunis, namun menurut para ahli, terkait isu ini editorial Global Times mencerminkan kebijakan pemerintah dan dapat dianggap pernyataan "setengah resmi".

Tiongkok selama ini telah berulang kali memperingatkan, baik pada AS maupun Korut, untuk tidak melakukan apapun yang dapat memicu ketegangan atau menyebabkan ketidakstabilan di Semenanjung Korea. Teranyar, seruan serupa dilontarkan kembali pada hari Jumat.

"Situasi di Semenanjung Korea saat ini rumit dan sensitif," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang seperti dikutip dari Washington Post pada Jumat (11/8/2017).

"China berharap agar seluruh pihak terkait berhati-hati terhadap kata-kata dan tindakan mereka, dan melakukan hal-hal yang membantu meredakan ketegangan serta meningkatkan rasa saling percaya, dibanding berjalan di jalur lama untuk bergiliran menunjukkan kekuatan dan meningkatkan ketegangan," imbuhnya.

Dalam editorialnya, Global Times juga menyebutkan bahwa China harus menekankan kepada AS dan Korut: "Ketika tindakan mereka membahayakan kepentingan China, maka China akan merespons dengan tegas".

"China juga harus menjelaskan jika Korut lebih dulu meluncurkan rudal yang mengancam tanah AS dan Amerika membalasnya, maka China akan tetap netral. Namun, jika AS dan Korea Selatan menyerang lebih dulu dan mencoba menggulingkan rezim Korut serta mengubah peta politik Semenanjung Korea, maka China akan mencegah mereka melakukannya," demikian bunyi editorial tersebut.

Langkah yang akan diambil China itu sesuai dengan perjanjian Sino-North Korean Treaty of Friendship, Cooperation, and Mutual Assistance yang ditandatangani pada 1961. Kesepakatan tersebut mewajibkan China untuk campur tangan jika Korut diserang tanpa alasan, namun Beijing tidak harus melakukannya jika Pyongyang yang memulai perang.

Disebutkan pula oleh Global Times bahwa kedua belah pihak, yakni AS dan Korut terlibat dalam "permainan sembrono" yang berisiko meletuskan perang.

"Poin utamanya adalah di paruh pertama kalimat: China menentang uji coba rudal Korut di perairan sekitar Guam," ujar Cheng Xiaohe, seorang ahli Korut di Renmin University of China.

"Kedua, dengan cara setengah resmi, China mulai meninjau dan mengklarifikasi perjanjian tahun 1961," tambah Cheng.

Tiongkok disebut-sebut sangat frustasi dengan rezim Korut dan benar-benar menginginkan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Di lain sisi, China dinilai kurang berupaya untuk mewujudkan stabilisasi atau menggulingkan rezim Korut yang selama ini menjadi sekutu dan penyangganya.

Boleh jadi, sikap itu karena Beijing tidak ingin melihat sebuah negara Korea yang bersatu dan bersekutu dengan AS. Mempertimbangkan hal tersebut, maka status quo seperti saat ini dinilai lebih baik bagi Tiongkok.

 

Saksikan video berikut:

  • Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    China
  • Negara yang terletak di Asi Timur. Negara ini dikenal dengan pemerintahannya yang otoriter
    Negara yang terletak di Asi Timur. Negara ini dikenal dengan pemerintahannya yang otoriter
    Korea Utara
  • Amerika Serikat adalah salah satu negara republik konstitusional federal di Benua Amerika
    Amerika Serikat adalah salah satu negara republik konstitusional federal di Benua Amerika
    Amerika Serikat
Artikel Selanjutnya
China Larang Impor Batu Bara, Besi, dan Makanan Laut dari Korut
Artikel Selanjutnya
Radio dan TV di Guam Siarkan Peringatan Bahaya, Ternyata...